Kelompok pengawas IsraCampus dan Israel Academia Monitor diperkirakan akan meningkatkan kampanye mereka setelah sebuah surat kabar AS menerbitkan berita mengenai seorang profesor Israel yang menyerukan pemboikotan terhadap Israel.
Kedua kelompok tersebut sama-sama memperingatkan para donatur eksternal universitas, kebanyakan merupakan Yahudi AS, terhadap para profesor tersebut sebagai sebuah cara untuk menekan pihak universitas agar menjatuhkan sanksi terhadap para staf fakultas yang bersikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan Israel.
"Saya tidak ragu lagi menyebut kampanye ini sebagai kampanye McCarthyite (praktik politik membuat tuduhan ketidaksetiaan, atau pengkhianatan, tanpa ada bukti)," kata David Newman, seorang profesor ilmu politik di Universitas Ben Gurion, yang terletak di kota Beersheva, sebelah selatan Israel.
"Yang mereka lakukan adalah hal yang amat berbahaya."
Bulan lalu, dalam sebuah taktik baru, IsraCampus memasang iklan satu halaman penuh di sebuah buku agenda yang diberikan kepada para mahasiswa Universitas Haifa, mendesak mereka untuk mengunjungi situs internet untuk melihat galeri dari 100 orang akademisi yang dianggap oleh kelompok tersebut sebagai "pilar akademik kelima."
"Tujuannya adalah untuk mengubah para mahasiswa kami menjadi mata-mata di dalam kelas untuk mengumpulkan informasi dan mengintimidasi kami," kata seorang dosen senior Israel. "(Hal itu) adalah sebuah model pengawasan terhadap staf fakultas yang berhasil mengekang kebebasan akademis di AS," tambahnya.
Israel Academia Monitor, yang didirikan pada tahun 2004, dan IsraCampus, mencontoh Campus Watch, sebuah organisasi AS yang didirikan oleh Daniel Pipes yang berhubungan dekat dengan gerakan neokonservatif AS.
Campus Watch banyak dituding telah mengintimidasi para sarjana AS yang melontarkan pandangan yang kritis terhadap kebijakan AS dan Israel di Timur Tengah. Tujuan organisasi tersebut, menurut para kritikus, adalah untuk menekan universitas-universitas AS agar tidak mempekerjakan dosen yang berseberangan pendapat dengan mereka.
Dalam iklan yang dipasang oleh IsraCampus, dan banyak dilihat oleh para mahasiswa Universitas Haifa sekembalinya mereka dari liburan musim panas, dituliskan bahwa ada sejumlah profesor yang "secara terbuka mendukung serangan teror terhadap Yahudi, mengawali gerakan pemboikotan internasional terhada Israel, mengekspolitasi status mereka di kelas untuk menyampaikan hasutan anti Israel dan melakukan "cuci otak anti-Zionis", dan berkolaborasi dengan tokoh-tokoh anti Semit yang menyerukan penghancuran Israel."
Publikasi iklan tersebut didukung oleh kepala himounan mahasiswa Haifa, Felix Koritney. "Mahasiswa yang belajar di sini harus tahu siapa saja para pengajar mereka, dan jika ada pengajar yang menentang Israel, maka nama mereka harus dipublikasikan, itu hal yang penting."
Dalam sebuah pernyataan, para pejabat Universitas Haifa juga mendukung pemasangan iklan tersebut – setelah menerima keluhan dari seorang mahasiswa yang membaca isi iklan – dan mengatakan bahwa emasangan iklan tersebut dilakukan atas dasar kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat.
IsraCampus memiliki hubungan dengan Steven Plaut, seorang profesor ilmu ekonomi di Universitas Haifa, yang menerima bayaran untuk iklan tersebut. Di situs internet dan blog pribadinya, Plaut memaki para akademisi sayap kiri.
IsraCampus dan Israel Academica Monitor menarget para profesor yang mengkritik penjajahan Israel, bergabung dengan unjuk rasa menentang tembok pemisah Israel, menandatangani petisi atau menghadiri konferensi yang berisi kritikan terhadap Israel, mendukung klaporan Hakim Richard Goldstone mengenai pembantaian Gaza, atau menyerukan boikot terhadap Israel.
Kedua kelompok tersebut memfokuskan upaya mereka terhadap para staf di Universitas Haifa dan Ben Gurion, dua kampus regional yang banyak menyedot orang-orang yang kritis dan vokal.
Ilan Pappe, seorang mantan profesor ilmu sejarah di Universitas Haifa, yang sekaligus pengarang "The Ethnic Cleansing of Palestine," mengakui bahwa dirinya meninggalkan karir akademis di Israel dan pindah ke Inggris setelah melakukan kampanye kritis.
Namun, menurut Newman, Universitas Ben Gurion menjadi musuh utama kelompok-kelompok tersebut menyusul beredarnya artikel dari Neve Gordon, seorang kolega Newman, di Los Angeles Times yang menyerukan pemboikotan terhadap Israel.
Meski memiliki ikatan dinas yang masih berlaku, Gordon mendapatkan tekanan berat dari pihak universitas untuk mengundurkan diri dari posisisnya sebagai ketua departemen politik universitas menyusul publikasi artikel tersebut.
Rivka Carmi, Presiden Universitas Ben Gurion, memberikan pernyataan sesaat setelah artikel Gordon dicetak, ia mengecam opini Gordon dan menyebutnya sebagai sebuah hal yang menjijikkan secara moral, ia juga memperingatkan Gordon untuk mencari tempat kerja lain.
Dana Barnett, pendiri Israel Academica Monitor, telah meluncurkan petisi yang menuntut agar Gordon didepak dari posisisnya sebagai seorang kepal, dan mendesak agar mata kuliah Gordon dijadikan mata kuliah pilihan, bukan kuliah wajib, dan menghapuskan pendanaan penelitian dan perjalanan untuk Gordon.
Yaakov Dayan, konsul Israel di Los Angeles, mengirimkan surat kepada Universitas Ben Gurion setelah artikel Gordon dipublikasikan, ia memperingatkan, "Para donatur sudah sepakat dan mengancam untuk menarik donasi mereka untuk institusi Anda." (dn/mo) www.suaramedia.com














