Delegasi tersebut berdialog dengan Presiden Yaman Ali Abddullah Saleh, dan membahas mengenai cara untuk membantu Yaman. Agen pemberitaan SABA mengatakan bahwa tim AS dan Presiden Ali Abdullah Saleh membicarakan "isu-isu bilateral dan kerjasama."
Juru bicara McCain, Brooke Buchanan, mengatakan bahwa pembicaraan tersebut membahas mengenai kerjasama anti terorisme dan para tahanan Guantanamo.
Selain Yaman, kala itu delegasi AS tersebut mengunjungi Libya dan Irak. Diantara orang-orang yang turut dalam rombongan McCain, ada nama Senator Joseph Lieberman, Susan Collins, dan Lindsey Graham.
Sebuah sumber lain menyebutkan bahwa pertemuan antara presiden Yaman dan delegasi AS yang dipimpin John McCain telah memicu terjadinya perang baru di Yaman utara, demikian diungkapkan dalam sebuah laporan.
Pada waktu terjadi pertemuan pada bulan Agustus silam, diumumkan bahwa senator yang sempat menjadi kandidat presiden AS bersaing dengan Barack Obama tersebut bertemu dengan Ali Abdullah Saleh untuk membahas kemungkinan merekrut militan Al-Qaeda untuk bahu-membahu dengan tentara Yaman, demikian dilaporkan oleh situs web Al-Minbar.
Menurut situs berita berbahasa Arab tersebut, pertemuan itu dititikberatkan pada cara membujuk para anggota Al-Qaeda untuk membantu pasukan Yaman dalam bentrokan dengan pemberontak Syiah, Houthi, di Yaman utara.
Laporan tersebut menambahkan bahwa McCain memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yaman setelah menggelar sejumlah pertemuan tertutup di Kongres AS, membahas mengenai negara-negara Arab.
Hasil akhir dari diskusi rahasia tersebut diwujudkan dalam serangkaian saran untuk Presiden Barack Obama, yang paling utama adalah upaya "menyelamatkan Yaman" sebelum melakukan intervensi militer.
Akan tetapi, ketika pemerintah Yaman dan pemerintah Saudi yang didukung AS tampak mengalami fanjalan dalam mengalahkan pemberontak tersebut, AS dan sekutunya, Inggris, berencana untuk menerjunkan pasukan mereka ke Yaman, demikian prediksi dari situs tersebut.
Sebelum melancarkan serangan militer, Washington telah melepaskan ratusan orang anggota Al-Qaeda dari penjara-penjara di Arab Saudi, Yaman dan Guantanamo, kemudian mengirimkan mereka ke Yaman dengan memalsukan kewarganegaraan masing-masing anggota, demikian tulis laporan berita tersebut.
Konflik antara pemerintah Yaman dan pemberontak Houthi berawal dari tahun 2004 silam, pada tanggal 11 Agustus lalu, tentara Yaman melancarkan serangan, yang diberi nama Operation Scorched Earth, di propinsi Saada, sebelah utara Yaman.
Pemerintah Yaman mengatakan bahwa kelompok pemberontak, yang menamakan diri seperti pemimpinnya, Abdul Malik al-Houthi, mencoba untuk membangkitkan kembali sistem kepemimpinan Syiah Zaidi, yang terguling pada tahun 1962.
Kubu Houthi mengatakan bahwa pihaknya mempertahankan orang-orangnya dari kebijakan pemerintah yang, menurut mereka, diterapkan dibawah tekanan dari kelompok Wahhabi Saudi.
Pemerintah Arab Saudi turut melancarkan serangan ke Yaman utara, karena para pemberontak Houthi disebut telah membunuh dua orang prajurit Saudi di perbatasan dengan Yaman.
Pemerintah Saudi bersikeras bahwa pihaknya hanya menarget para anggota Houthi yang berada di wilayah Saudi, kelompok pemberontak tersebut mengatakan bahwa desa-desa di Yaman telah dihujani bom fosfor, yang menebabkan banyak anggota populasi Syiah terluka.
Pemerintah Yaman membantah laporan tersebut dan mengatakan bahwa pihaknya bahkan tidak memiliki bom fosfor dalam gudang senjatanya.
Tidak ada laporan yang menyebutkan berapa banyak orang yang tewas di propinsi Saada yang didominasi kaum Syiah sejak bentrokan tersebut dimulai pada tahun 2004, dan juga dalam bentrokan yang terjadi baru-baru ini.
Namun, komisi tinggi PBB untuk para pengungsi (UNHCR) mmperkirakan bahwa sejak tahun 2004, ada 175.000 orang yang meninggalkan kediamannya dan mengungsi karena pertempuran tersebut. (dn/pv/ga/mh) www.suaramedia.com














