Pada hari Kamis, Maroko bergolak ketika ratusan orang menggelar unjuk rasa di kota Tangiers yang terletak di sebelah utara Maroko. Unjuk rasa tersebut digelar guna menentang kehadiran mantan menteri luar negeri Israel, Tzipi Livni.
Para pengunjuk rasa, yang menurut keterangan pengorganisir unjuk rasa berjumlah 1.000 orang, mengecam berbagai "kebijakan" Israel di wilayah Palestina, mereka juga menuding Livni telah melakukan kejahatan perang di Jalur Gaza.
Livni, yang berada di Tangiers untuk menghadiri sebuah forum internasional yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga penelitian Maroko, menjabat sebagai menteri luar negeri kala Israel melancarkan pembantaian Gaza pada penghujung tahun lalu hingga awal tahun ini.
Forum internasional "MEDays" tersebut digelar di Maroko dari tanggal 19 hingga 21 November. Presiden forum internasional, Brahim Fassi-Fihri, dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis mengatakan bahwa Tzipi Livni datang untuk menghadiri forum tersebut.
Livni dan seluruh pejabat Israel, yang duduk di pemerintahan pada waktu itu, dituding telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan.
Partai Kadima yang dipimpinnya kalah dalam persaingan memperebutkan tampuk kepemimpinan Israel pada pemilihan bulan Februari silam.
"Binasalah Israel, hiduplah normalisasi," teriak sejumlah pengunjuk rasa, yang dijaga ketat oleh para anggota kepolisian dalam jumlah besar.
Dalam perang Gaza, Israel menjadi algojo yang mencabut nyawa 1.400 orang warga Palestina, yang kebanyakan merupakan penduduk sipil, serta melukai 5.450 orang lainnya.
Diantara korban tewas dalam pembantaian memilukan tersebut, ada 437 orang anak-anak, 110 orang wanita, 123 orang lanjut usia, 14 tenaga sukarelawan medis dan empat orang wartawan.
Diantara korban luka, 1.890 orang diantaranya adalah anak-anak, sementara 200 orang lainnya menderita luka serius.
Agresi militer Zionis tersebut juga membuat puluhan ribu rumah hancur berkalang tanah, para penghuninya hingga saat ini masih menjadi tunawisma.
Israel, yang memang selalu berkeinginan untuk menghancurkan segala bentuk gerakan kemerdekaan Palestina, merespon kemenangan Hamas dalam pemilihan umum dengan sejumlah sanksi, dan nyaris memblokade Jalur Gaza – yang dibelit kemiskinan – secara menyeluruh setelah Hamas berkuasa para tahun 2007, meski sebelumnya Israel juga telah melakukan blokade yang lebih "ringan".
Kelompok-kelompok hak asasi manusia, baik internasional maupun Israel, mengecam pengepungan Israel terhadap jalur Gaza, mereka menyebut hal itu sebagai sebuah hukuman kolektif.
Sekelompok pengacara dan aktivis hak asasi manusia internasional juga menuding Israel telah melakukan genosida melalui blokade terhadap Jalur Gaza.
Gaza tidak ubahnya berada di bawah penjajahan Israel, karena negara Zionis tersebut mengendalikan akses terhadap wilayah udara, darat dan laut kawasan tersebut.
Perbatasan Rafah dengan Mesir, satu-satunya perbatasan Gaza yang memotong Israel, amat jarang dibuka, karena Mesir berada dibawah tekanan kuat dari AS dan Israel untuk tetap menutup perbatasan tersebut.
Pemerintahan Fatah tidak dapat melakukan banyak hal di Tepi Barat, mereka juga tidak memiliki kekuatan di Yerusalem Timur terjajah, keduanya dijajah Israel mulai tahun 1967.
Selain itu, Israel juga menjajah pertanian Shabaa milik Libanon dan juga Dataran Tinggi Golan, Syiria. (dn/mo/pv) www.suaramedia.com
- Sebar Kesesatan, Selimut Propaganda Zionis Rambah Wikipedia
- Tunjukkan Niat Baik, Iran Rela Beli Bahan Bakar Nuklir
- 2009, Tahun Paling Berdarah Bagi Mesin Pembantai Israel
- Zionis Israel Masuki Tahap Akhir Penghancuran Al-Aqsa
- Rabbi Rontzki: Tentara Dengan Belas Kasihan Akan Dilaknat!














