Kepada Iran's Student News Agency (ISNA), pada hari Sabtu lalu, perwakilan Majlis Iran, bidang kamanan nasional dan kebijakan luar negeri, Kazem Jalali, mengatakan meski Iran mampu memproduksi sendiri uranium (yang diperkaya 20 persen untuk bahan bakar pembangkit listrik) yang dibutuhkanya, namun Teheran tetap mengutamakan permintaan untuuk membeli bahan bakar yang diperlukan.
"Meski Iran mampu melakukan sendiri pengayaan uranium hingga lebih dari 5 persen di dalam negeri, Iran bisa saja mengambil langkah yang diperlukan untuk memproduksi bahan bakar yang diperlukan oleh reaktor penelitian Teheran," kata Jalal.
Akan tetapi, ia mengatakan bahwa menurut Iran, opsi untuk membeli bahan bakar adalah pilihan yang terbaik untuk mendapatkan bahan bakar nuklir yang diperlukan.
"Seperti yang telah kami sebutkan dalam sebuah surat untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), kami ingin membeli bahan bakar dari negara-negara yang memiliki bahan bakar nuklir," kata pejabat Iran tersebut. Ia menambahkan, "Permintaan (bahan bahar nuklir) ini merupakan niatan baik yang diperlihatkan oleh Iran."
Pernyataaan tersebut dilontarkan setelah Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki, menyampaikan pernyataan resmi pada hari Rabu lalu mengenai sebuah proposal yang ditawarkan oleh negara-negara kuat dunia di Jenewa pada tanggal 19 Oktober lalu kepada Iran. Di dalam proposal tersebut, Iran disarankan untuk mengirimkan cadangan uranium kadar rendahnya ke luar negeri untuk ditukarkan dengan bahan bakar yang diperlukan oleh reaktor penelitian medisnya.
Iran sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya akan menerima sejumlah elemen penting dari proposal internasional tersebut, namun Iran juga mencoba untuk mendapatkan hal yang lebih dari penawaran tersebut.
Menjelaskan posisi Iran terhadap proposal tersebut, Mottaki mengatakan bahwa pasokan uranium Iran tidak akan dikirimkan keluar perbatasan negara untuk ditukarkan dengan bahan bakar yang diperlukan untuk reaktor penelitian medis Iran.
Ia mengatakan bahwa jaminan pasokan bahan bakar menjadi kekhawatiran utama Teheran. Ia menambahkan, opsi pertama Republik Islam tersebut adalah memperkaya sendiri uranium dengan kadar 20 persen, sementara membeli uranium dari luar negeri menjadi pilihan kedua.
Mottaki menambahkan bahwa pemerintah Iran juga mempertimbangkan opsi penukaran, secara bersamaan, terhadap jumlah uranium kadar rendah di dalam wilayahnya.
Pada hari Jumat lalu, Mottaki mengatakan bahwa dirinya telah mengajukan kerangka permohonan baru mengenai pertukaran bahan bakar, dimana uranium yang diperkaya akan diperkaya di dalam wilayah Iran. Hal tersebut disampaikan Mottaki dala sebuah konferensi pers di Manila, sebelum berangkat menuju Iran.
Mottaki menambahkan, "Kami memiliki tiga pilihan untuk mendapatkan bahan bakar yang diperkaya 20 persen, yakni meningkatkan proses pengayaan, dari 3,5 menjadi 20 persen di Iran, membeli bahan bakar dari negara-negara lain, atau melalui proposal Badan Energi Atom Internasional. Dan Iran siap untuk melakukan pembicaraan berdasarkan kerangka pembicaraan yang diajukan."
Dia juga mengatakan, mengirimkan uranium 3,5 persen ke luar negeri untuk diproses lebih lanjut, dan baru menerima bahan bakar 20 persen beberapa saat kemudian, bukanlah sebuah hal yang logis.
Menurutnya, yang harus dilakukan adalah pertukaran secara langsung untuk mendapatkan bahan bakar nuklir.
Pembicaraan bahan bakar nmuklir antara Iran, Rusia dan AS, serta Perancis, berakhir pada anggal 21 Oktober di Vienna, tanpa tercapai sebuah kesepakatan. Namun, Direktur Jenderal IAEA, Mohamed ElBaradei, kemudian mempresentasikan sebuah proposal untuk dipelajari keempat negara tersebut.
Menurut draf kesepakatan tersebut, sejumlah besar uranium Iran yang telah diperkaya akan dikirimkan ke luar negeri untuk diproses menjadi bahan bakar 20 persen, yang akan dipergunakan oleh sebuah reaktor penelitian di Teheran.
Pada tanggal 23 Oktober lalu, para diplomat Rusia, Perancis dan AS menyerahkan persetujuan terhadap kesepakatan untuk memproses bahan bakar nuklir Iran di luar negeri.
Akan tetapi, sejumlah pejabat senior Iran, termasuk juru bicara Majelis Iran, Ali Larijani, mengkritik kerasa kesepakatan tersebut, ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut tidak sah dan tidak logis. (dn/pv/tt) www.suaramedia.com
- Israel Lantik Putra Germo Sebagai Dubes Baru Di Mesir
- Hari Kedua Latihan, Iran Ancam Kebodohan Israel
- Al-Aqsa Akan Dimenangkan Jika Arab Sesemangat Sepak Bolanya
- Tak Sabar Tunggu Rusia, Iran Ciptakan Sendiri Perisai Udara
- Sebar Kesesatan, Selimut Propaganda Zionis Rambah Wikipedia














