Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Inggris Akui Kepalsuan Ancaman "45 Menit Senjata Kimia Irak"

E-mail Cetak PDF

LONDON (Berita SuaraMedia) – Beberapa hari sebelum pecah perang Irak, ternyata pemerintah Inggris telah mendapatkan informasi dan mengetahui bahwa pasukan Saddam Hussein mungkin tidak memiliki kemampuan untuk menyerang dengan senjata kimia, demikian kata seorang mantan pejabat Inggris ketika dilakukan penyelidikan atas perang Irak.

William Ehrman, yang kala itu menjabat sebagai direktur keamanan internasional di kantor menteri luar negeri Inggris, pada hari Rabu (25/5) kemarin mengatakan bahwa intelijen Inggris sudah mendapatkan iinformasi mengenai tidak adanya senjata pemusnah massal Irak menjelang sebuan ke Irak – yang dipimpin oleh George W. Bush.

"Kami mendapatkan informasi bahwa tidak ada senjata-senjata kimia dan biologis (di Irak). Dan Irak mungkin tidak memiliki alat untuk melontarkannya," kata Ehrman dalam sebuah rapat dengar pendapat di kota London.

"Irak juga mungkin tidak memiliki hulu ledak yang mampu menyebarkan zat-zat kimia secara efektif," tambah Ehrman.

Namun, Ehrman mengatakan bahwa informasi tersebut tidak ada pengaruhnya terhadap perang. Ia menggambarkan serangkaian pengarahan intelijen mengenai senjata pemusnah massal antara tahun 2000 dan 2002 sebagai pertemuan yang "sporadis".

Koresponden Al Jazeera di kota London, Jonah Hull, mengatakan bahwa penyelidikan tersebut sejauh ini mengungkapkan "Betapa sulitnya membuat perkiraan mengenai ancaman Irak, beberapa tahun menjelang perang."

Ia menambahkan, kedua saksi menyatakan bahwa tidak ada data intelijen yang jelas mengenai apa yang terjadi di negara tersebut menyusul hengkangnya para inspektur senjata PBB dari Irak pada tahun 1998 lalu.

"Secara umum, banyak pihak meyakini bahwa dia (Saddam) tidak lagi memiliki kemampuan nuklir, namun masih ada kekhawatiran mengenai senjata kimia dan biologis," tambahnya.

Sebuah rangkuman informasi mengenai perang tahun 2003 tersebut mengatakan bahwa Saddam bisa saja "meluncurkan senjata pemusnah massal", yang diartikan oleh para pejabat sebagai senjata kimia, dalam waktu 45 menit.

Tim Dowse, seorang mantan pejabat kementerian luar negeri Inggris, mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak terkejut ketika mendengar perkiraan 45 menit tersebut. "Karena hal itu masih tampak sejalan (dengan perkiraan pada waktu itu)."

Klaim 45 menit tersebut menyebabkan kekacauan politik di Inggris, setelah BBC menuding bahwa data intelijen yang mengandung klaim tersebut telah diatur sedemikian rupa demi memperkuat dukungan untuk melancarkan perang.

Badai semakin memuncak ketika David Kelly, seorang pakar senjata pemerintah, ditemukan bunuh diri di tengah klaim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan orang yang menjadi narasumber pemberitaan BBC, hal itu membuat pemerintah melakukan penyelidikan.

Pada hari kedua penyelidikan perang Irak, panel beranggotakan lima orang tersebut juga membahas mengenai Libya dan Iran, yang menjadi kekhawatiran keamanan utama Inggris sebelum melancarkan invasi ke Irak.

"Dalam hal nuklir dan peluru kendali, saya rasa Iran, Korea Utara dan Libya mungkin jauh lebih mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan Irak." Kata Ehrman.

Dowse menyatakan bahwa Irak "tidak berada di puncak daftar (negara) yang menjadi kekhawatiran Inggris."

"Menurut saya, dalam hal kekhawatiran pada tahun 2001. Seharusnya Libya dan Iran ditempatkan di atas Irak," katanya.

Dowse mengatakan bahwa mereka memang menemukan "bukti kontak antara para pejabat Irak dan para anggota Al-Qaeda pada akhir tahun 1990." Namun, kontak tersebut bersifat sporadis dan hanya dilakukan sesekali. "Sama sekali tidak terlihat seperti sebuah hubungan antara pemerintah Irak dan Al-Qaeda.

"Setelah peristiwa 9/11, kami menyimpulkan bahwa Irak sebenarnya melangkah mundur. Mereka tidak ingin dikaitkan dengan Al-Qaeda. Mereka bukanlah sekutu yang alami."

Penyelidikan yang dipimpin oleh John Chilcot, seorang mantan pejabat, tersebut membahas mengenai alasan pembenar untuk perang tersebut, seberapa baik perlengkapan yang diberikan kepada militer dan pelajaran bagi kebijakan luar negeri di masa mendatang.

Para mantan pejabat senior Inggris dari kementerian luar negeri dan pertahanan pada hari Selasa mengungkapkan rangkuman kebijakan Inggris terhadap Baghdad pada awal tahun 2000.

Rapat dengar pendapat tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya ketika Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris, mendapatkan "giliran" berbicara menjelang atau sesudah tahun baru. (dn/aj) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon