Mantan Presiden Irak itu disanjung dalam saluran satelit yang misterius yang mulai mengudara pada peringatan eksekusinya dalam kalender Islam pada tahuni 2006.
Tidak seorang pun tampaknya tahu siapa yang mendanai saluran yang disebut Saddam Channel, meskipun pemerintah Irak menduga itu adalah Baathists yang partai politiknya pernah dipimpin Saddam. Associated Press melacak seorang pria di Damaskus, Syiriah bernama Mohammed Jarboua, yang mengaku sebagai ketuanya.
Saddam Channel, ia berkata, "Tidak menerima satu sen pun dari Baathists" dan ini adalah untuk rakyat Irak dan warga Arab yang lainnya yang "merindukan pemerintahannya".
Jarboua telah jelas membuat banyak usaha untuk menyembunyikan tempat di mana saluran itu ditayangkan dan menolak untuk mengatakan siapa yang melakukan pendanaan untuk itu selain "orang-orang yang mencintai kita."
Irak terkejut menemukan Saddam di TV mereka menanggapi dengan berbagai jenis emosi yang berbeda, yang menandai pemerintahannya.
"Irak tidak perlu saluran satelit yang memiliki niat buruk seperti ini," kata Hassan Subhi, 28 tahun, seorang Syi'ah yang memiliki kafe Internet di timur Baghdad.
Yang lainnya mengatakan bahwa mereka merasakan kesedihan nostalgia melihat almarhum pemimpin mereka, seorang Arab Sunni.
"Semua keluarga saya merasa sedih," kata Samar Majid, seorang guru SMA Sunni di barat Baghdad, menyebutkan bahwa gambar-gambar yang ditampilkan menunjukan eksekusi Saddam, dan foto kedua putranya dan cucunya.
Saluran, yang disiarkan di seluruh dunia Arab, mengeruk perpecahan sektarian antara Syi'ah dan Sunni pada saat Irak bersiap-siap untuk pemilihan umum nasional yang sangat penting. Politisi Irak telah berdebat tentang distribusi kursi parlemen dalam suatu sengketa yang akan memperparah perpecahan itu. Perselisihan tersebut kemungkinan akan menunda pemungutan suara di luar yang dijadwalkan secara konstitusional dengan Januari 30 sebagai tenggat waktu.
Eksekusi Saddam tiga tahun yang lalu adalah tepat pada hari pertama Idul Adha, hari libur paling penting dalam kalender Islam. Eksekusinya, dan pada hari dimana itu dilakukan, tetap menjadi titik kepedihan bagi simpatisan Saddam.
Saddam Channel memulai debutnya pada hari Jumat, hari pertama Idul Adha tahun ini untuk Sunni. Liburan itu dimulai hari Sabtu untuk Syiah. Nama resmi stasiun berubah antara "Al-Lafeta" (spanduk) dan "Al-Arabi" (Arab).
Stasiun ini sebagian besar menyiarkan gambar-gambar diam yang menyanjung Saddam, sebagian dari dirinya mengenakan seragam militer, yang lain dalam setelan jas, bahkan ada satu sedang menunggang kuda putih. Satu foto menunjukkan anak-anaknya Qushay Odai dan tersenyum dengan ayah mereka, dan lainnya menunjukan mereka dan serta cucu Saddam, Mustafa, yang tewas dalam tembak-menembak dengan pasukan AS pada Juli 2003.
Salah satu gambar yang ditampilkan dengan jelas adalah gambar seorang laki-laki membakar bendera Amerika. Lainnya menunjukkan kuburan yang ditutup dengan bendera Irak.
Semua gambar-gambar itu ditayangkan dengan rekaman audio Saddam berpidato dan membaca puisi sebagai latar belakang. Lagu-lagu patriotik juga diperdengarkan mendesak pendengar untuk "membebaskan negara kami." Tak satu pun dari gambar tampak baru, dan tidak ada penyiar atau komentator yang muncul atau berbicara.
Seorang penasihat media Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki, seorang Syiah, menepis stasiun itu dan pesannya, dan menolak untuk mengomentari apakah pemerintah akan berusaha untuk menutup saluran tersebut.
Penasihat Al-Maliki, Yassin Majid, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia tidak melihat saluran itu tetapi telah mendengar tentang hal itu. Ia menyebutnya "suatu usaha dari Partai Baath yang telah dibubarkan untuk kembali ke politik Irak." Sejak Saddam jatuh, Baathis telah menyebar di sekitar kawasan Timur Tengah, terutama ke Suriah dan Yordania, namun mereka juga sampai ke negara-negara Teluk dan Yaman.
Di antara banyak misteri yang mengelilingi saluran itu adalah dari mana itu disiarkan.
Dalam sebuah wawancara telepon pada hari Minggu dari Damaskus, Jarboua berkata dia adalah orang Aljazair dan bahwa Saddam Channel itu berbasis di Eropa, tetapi menolak untuk mengatakan di mana, dengan alasan pertimbangan keamanan bagi para karyawannya.
"Ada ancaman bahwa pemerintah Irak akan mematikannya, membunuh para karyawan, bahwa mereka akan melikuidasi sakuran itu," kata Jarboua.
Dia bilang dia memulai al-Lafeta sembilan bulan yang lalu di Lebanon, dan memiliki karyawan di Syiriah, Libanon, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Ziad Khassawneh, seorang Baathis Yordania yang pernah memimpin tim pembela Saddam, mengatakan warga Irak yang kaya yang tinggal di Libanon, Syiriah dan negara-negara Arab lainnya mendanai saluran itu. Dia menolak untuk memberikan nama.
Putri tertua Saddam, Raghad Saddam Hussein, yang tinggal di Yordania, telah menyangkal adanya kerterkaitan ke saluran tersebut.
Seorang Baathist Yordania yang tinggal di Irak berkata bahwa stasiun itu disiarkan dari Libya dan dijalankan oleh pengikut Izzat Ibrahim al-Douri, orang nomor dua Saddam dan seorang pemimpin puncak dari partai Baath yang dilarang. Keberadaan Douri tidak diketahui.
Satu lagi mantan pejabat Baathis mengatakan Saddam Channel disiarankan dari Damaskus. Kedua pria berbicara dengan syarat anonim, karena mereka bilang mereka perlu untuk melindungi keamanan karyawan saluran.
Seorang pakar satelit Timur Tengah mengatakan operator al-Lafeta mencoba untuk menyembunyikan petunjuk apapun mengenai identitas mereka dan menyiarkan situs dengan menggunakan berbagai layanan satelit dan frekuensi. Saluran itu disiarkan melalui Noorsat, sebuah layanan satelit berbasis Bahrain. Mereka juga telah membeli frekuensi pada Nilesat milik Mesir, yang dijalankan oleh Eutelsat, sebuah konsorsium Eropa.
Beberapa warga Irak mengangkat bahu dan menganggap siaran itu tidak berbahaya.
"Saluran ini tidak berarti apa-apa bagi orang-orang," Muhammad Abdullah, 35, seorang wartawan Irak, mengatakan di utara Baghdad. "Saddam Hussein tidak berpengaruh pada rakyat Irak sekarang." (iw/wp) www.suaramedia.com
- Buru Pemberontak Syi’ah, Saudi Tebar Senjata Kimia Di Yaman
- Diancam Keras PBB, Iran Bangkitkan 10 Nuklir Baru
- "Tenggelamkan" Pangeran Dubai, Surat Kabar Inggris Dicekal
- Khawatirkan Popularitas Hamas, AS - Fatah Jegal Kesepakatan Tahanan
- Iran Sediakan Dana Khusus Ekspos Kebusukan AS - Inggris














