Rabbi Shmuel Eliyahu, seorang rabbi senior Israel, mengatakan bahwa pembebasan para tahanan Palestina dari penjara Israel bertentangan dengan Kitab Suci Torah (Taurat).
"Saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin para anggota Knesset yang religius memberikan dukungan terhadap kesepakatan yang bertentangan dengan Torah?" katanya kepada Arutz Sheva.
"Apakah bagi mereka Netanyahu dan media sudah menjadi jauh lebih penting dibandingkan Torah? Para pembunuh tidak boleh dibebaskan, dan pembunuh tidak boleh diberikan bantuan dalam membunuh Yahudi. Saya jadi ragu apakah (pemimpin spiritual Shas) Rabbi Ovadia (Yosef) tahu ayat-ayat ini."
Shmuel Eliyahu, kepala rabbi Tzfat, memang dikenal sebagai seorang rabbi ekstrimis dengan seruan-seruan penuh kekerasan terhadap warga Arab. Ia menyatakan bahwa pemerintah Israel dilarang untuk membebaskan para tahanan Hamas karena, menurutnya, para tahanan tersebut terlibat dalam pembunuhan orang-orang Yahudi. Rabbi Eliyahu menekankan bahwa seluruh rabbi di Israel sependapat dengan dirinya.
Rabbi Eliyahu mengkritik para anggota Knesset yang berasal dari partai Zionis religius yang menyetujui kesepakatan tersebut. Ia menambahkan bahwa mereka telah mengkhianati Torah dan ajaran-ajaran di dalamnya.
Rabbi Zionis yang merupakan putra dari mantan Rabbi Sephardic, Mordechai Eliyahu, mengatakan bahwa ada hukum-hukum di dalam Torah yang bertentangan dengan kesepakatan pembebasan tahanan tersebut.
Ia menyatakan bahwa orang-orang yang telah menghilangkan nyawa seorang Yahudi tidak boleh dibebaskan, menurutnya, hal itu harus dipatuhi agar darah Yahudi (dari orang Yahudi yang tewas) tidak "tumpah sia-sia".
"Ada hukum Yahudi lain yang melarang penjualan senjata kepada orang asing, bahkan jika sudah diketahui bahwa senjata tersebut akan dipergunakan untuk membunuh orang asing lainnya. Hal ini benar dalam hal membantu para kriminal," kata rabbi tersebut. "Dan kali ini kita membahas mengenai sebuah operasi (pembebasan tahanan) yang nantinya akan berujung pada hilangnya nyawa orang-orang Yahudi. Hal ini puluhan kali jauh lebih buruk," tambahnya.
Rabbi tersebut menyerukan kepada Israel agar menempuh jalan lain untuk membebaskan prajurit Israel, Gilad Shalit, yang ditawan oleh Hamas. Ia menambahkan bahwa ada banyak jalan lain yang sesuai dengan kitab suci, termasuk memotong aliran listrik dan air untuk Palestina.
"Satu-satunya jalan untuk membebaskan Gilad Shalit adalah "menutup keran" di Gaza. Eliyahu berkata: "Dari sudut pandang hukum Yahudi, pasokan listrik dan air mereka harus diputus."
Menurutnya, Netanyahu telah menyalahi ajaran Torah, dan oleh karena itu Eliyahu mengharamkan pemilihan Netanyahu untuk kembali menduduki jabatan perdana menteri Israel.
"Dengan menyetujui kesepakatan tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Halacha (hukum Yahudi), dan orang semacam itu tidak pantas mendapatkan dukungan dan suara dari rakyat Israel," kata Eliyahu memperingatkan para pendengarnya.
"Jika "negara" Israel benar-benar menjalankan cara-cara (yang tertuang dalam) Torah, maka segalanya akan berlangsung dengan jauh lebih sederhana dan lebih cepat," tambahnya. (dn/im/in) www.suaramedia.com
- Al-Aqsa Jadi Tumbal Kebusukan Yahudi Demi Dapatkan Gilad Shalit
- Ambil Keuntungan Dari Perang Afghanistan, Israel Incar Eropa
- Pedagang Senjata Iran: Perang Terhadap AS Akan Datang!
- Ribuan Anak Ukraina Jadi Komoditas Import Baru Israel
- Shalit Dipindahkan, Bola Pindah Ke Tangan Israel













