Penumpukan kekesalan terhadap larangan pembangunan yang diumumkan akhir November itu telah dimanifestasikan dalam serangkaian bentrokan antara pemukim yang melemparkan telur-telur dan petugas polisi Israel.
Namun, aktivis Yahudi garis keras minggu ini telah mensinyalir adanya perubahan taktik dengan menyebarkan seruan kepada warga sipil Palestina untuk membayar harga bagi penghentian pembangunan pemukiman.
Dalam sebuah pernyataan, penduduk Yitzhar, pemukiman dengan reputasinya yang terkenal radikal, memperingatkan bahwa mereka akan menimbulkan kerusakan pada properti dan jasmani warga Arab jika inspektur pemerintah berusaha untuk melaksanakan penghentian.
"Jika tidak ada ketenangan bagi kaum Yahudi, maka tidak akan ada ketenangan bagi warga Arab," bunyi pernyataan yang terpasang di situs pemukim. "Jika kaum Arab memperoleh kemenangan atas kekerasan mereka terhadap kaum Yahudi, maka kaum Yahudi juga akan memperoleh kemenangan atas kekerasan terhadap kaum Arab."
Ancaman itu datang di tengah rencana demonstrasi di Yerusalem pada Rabu malam ketika ribuan pemukim Tepi Barat berencana akan memperlihatkan kemarahan mereka di luar tempat tinggalBenjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Di bawah tekanan AS, Netanyahu mengumumkan moratorium selama 10 bulan terhadap pembangunan pemukiman baru di Tepi Barat, sebuah gestur yang segera ditolak oleh pemimpin Palestina dianggap terlalu remeh untuk membuka kembali negosiasi damai yang buntu.
Namun bagi 300.000 pemukim Yahudi di Tepi Barat, penghentian itu mencerminkan sebuah pengkhianatan terhadap prinsip sayap kanan Netanyahu, meskipun kritikus mengatakan bahwa moratorium itu tidak akan banyak berpengaruh untuk memperlambat tingkat pembangunan karena masih memberikan ijin untuk diteruskannya pembangunan 3.000 rumah.
Saat para pemukim memobilisasi diri untuk mencegah akses bagi inspektur yang akan memonitor penghentian, sejumlah insiden kekerasan terhadap warga Palestina dilaporkan telah terjadi. Beberapa traktor dan mobil milik warga Palestina serta satu rumah dibakar.
Warga Palestina seperti Hanan Sufan dan cucu laki-lakinya yang berusia lima tahun, Bahaa, bersiap-siap menghadapi hal yang paling buruk. Sufan menyimpan cadangan makanan di sebuah atap di rumah pertaniannya yang terisolir, dikelilingi oleh pagar kawat berduri di desa Burin. Di banyak malam, ujarnya, Bahaa terbangun dengan ketakutan.
Para pria dari pemukiman Yitzhar dikabarkan telah menyerang rumah keluarga Sufan selama bertahun-tahun. Sufan mengklaim bahwa mereka meracuni domba-dombanya, membakar kendaraan bertaninya, mencuri seekor keledai dan membunuh seekor lainnya, membakar kebun gandum dan zaitunnya, dan bahkan menyalakan api di dalam rumahnya.
Mereka datang lagi bulan lalu, ujarnya, mengacungkan senapan, membakar ban dan melempar molotov ke jendela.
Para pemukim Yahudi telah lama dituduh melakukan kekerasan terhadap warga Palestina di masa lalu, sebagian merupakan sebuah upaya untuk mengusir mereka keluar dari Tepi Barat – sebuah wilayah yang diyakini oleh sejumlah orang telah dijanjikan oleh Tuhan untuk kaum Yahudi selamanya.
Namun, beberapa dari serangan itu juga merupakan bagian dari tradisi yang disebut "pemberian harga". Ketika pemerintah Israel mengambil langkah yang tidak populer di kalangan pemukim, seperti menghancurkan rumah yang dianggap ilegal oleh negara Yahudi, para pemukim akan membalas dendam dengan memastikan warga Palestina di sekitarnya membayar langkah pemerintah itu.
Seringkali serangan balas dendam ini dilakukan dalam bentuk pembakaran terhadap pohon-pohon zaitun milik warga Palestina.
"Jika serangan itu terjadi, itu ditujukan pada militer Israel bukan warga Arab," ujar Daniella Weiss, pemimpin para pemukim.
Dengan tanda-tanda bahwa serangan semacam itu kini mungkin akan semakin banyak, Sufan dan keluarganya sadar bahwa mereka harus menakutkan hal yang terburuk.
"Mereka orang-orang gila," ujarnya. "Awalnya mereka membuat saya takut, namun kini tidak lagi." (rin/tg) www.suaramedia.com
- Andalkan Do’a, Kaum Kristen Palestina Akhiri Penjajahan Israel
- Rencana Israel Rubah Museum Al Aqsa Jadi Sinagog
- Irak: Saudi Turut Dalangi Tragedi Berdarah Bom Baghdad
- Hamas Dirikan Akademi Militer Pertama Di Gaza
- Kegagalan Strategi Perang Afghanistan Turut Hantui Israel














