Senin, 20 Mei 2013

Headlines:

Ajukan Perdamaian, Yahudi AS Desak Temui Ketua Hamas

E-mail Cetak PDF

BETLEHEM (Berita SuaraMedia) – "Penjajahan Israel adalah contoh terbesar dari terorisme di muka bumi ini," demikian kata aktivis Yahudi AS terkemuka sekaligus anggota Forum Keluarga Berduka, Isaac Frankental, dalam sebuah wawancara pada hari Selasa lalu.

Dalam dialog dengan kepala editor Maan News Agency, Nasser Lahham, Frankental menegaskan dukungannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan mengatakan bahwa dirinya berharap agar suatu saat nanti bisa bertatap muka dengan pemimpin Hamas yang berada di pengasingan, Khalid Meshaal.

"Saya ingin lebih mengenal dirinya dan saling bertukar pikiran," kata Frankental kepada Lahham. "Saya berharap Meshaal membaca berita ini," tambahnya. Ia menekankan bahwa dirinya bahkan akan pergi ke Damaskus jika hal itu dapat mempertegang hubungan dengan Israel.

Frankental dikenal sebagai kawan baik dari mendiang pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Arafat bahkan pernah mengatakan bahwa Frankental sudah seperti seorang putra baginya, menyusul lebih dari 80 kunjungan antara keduanya, sebagai bagian dari agenda forum keluarga tersebut.

Hubungan dengan Arafat tersebut dibanggakan oleh Frankental. Frankental  berharap untuk dapat membangun sentimen yang serupa bersama dengan Meshaal.

Forum keluarga tersebut terdiri dari beberapa ratus anggota keluarga dari pemuda Palestina dan Israel yang tewas dalam konflik. Frankental sendiri kehilangan putranya yang berusia 19 tahun.

Pasca kemenangan Hamas dalam pemilihan umum Palestina pada bulan Januari 2006, anggota organisasi pimpinan Frankental bertemu dengan para petinggi Hamas untuk membahas perbedaan dan juga cara untuk mencapai rekonsiliasi dan perdamaian.

Menyusul pertemuan tersebut, Frankental merilis pernyataan bahwa tidak ada perbedaan intrinsik antara para pemimpin Hamas dan orang-orang lain. "Setelah bertemu langsung, saya melihat bahwa tidak ada kebencian di mata mereka, mereka justru merasakan rasa sakit yang mendalam, hal itu disebabkan oleh penderitaan yang dialami oleh rakyat mereka."

Mengenai perbedaan antara Hamas dan Fatah, Frankental berkata, "Fatah menggelar pertemuan dengan Israel pada awal tahun 1990an, yang mengarah pada pengakuan Israel sebagai negara dan juga perubahan piagam Palestina. Hamas tidak berkeinginan melakukan hal ini. Menurut para pemimpin Hamas, Israel hanya bermain-main dengan Fatah dalam pertemuan-pertemuan tersebut, dan tidak memiliki tujuan untuk mengurangi penderitaan rakyat Palestina.

"Menurut mereka (Hamas), Israel harus memahami bahwa waktu untuk omong kosong telah berlalu. Bagi mereka, jika penjajahan Israel tidak segera diakhiri, maka tidak ada pembenar untuk menggelar dialog. Selama penjajahan terus berkelanjutan, maka mereka tidak akan mengakui Israel."

Bulan November lalu, pemimpin gerakan Hamas, Khalid Meshaal mendesak Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, untuk berhenti mencari upaya kompromi dengan Israel. Ia juga mengatakan bahwa Palestina harus mengakhiri perpecahan.

Dengan ucapan yang cenderung menuju ke arah perdamaian setelah melalui ketegangan politik dengan Mahmoud Abbas bulan sebelumnya, Meshaal mengatakan bahwa gerakan Islam Hamas mengulurkan tangan kepada faksi Fatah pimpinan Abbas untuk mengakhiri perselisihan antara kedua kubu yang semakin memperburuk keadaan Palestina.

"Harus ada keberanian, kami sebagai pemimpin Palestina harus jujur kepada rakyat dan mengevaluasi apa yang mampu membuat kami bersatu dan memutuskan bersama untuk membekukan proses (perselisihan) politik yang ada dan mengejar tujuan nasional kami," kata Meshaal dari ibukota Syria, Damaskus.

Meshaal menambahkan, berkompromi dengan Israel, mulai dari perjanjian Oslo tahun 1993, selalu berujung kegagalan dalam menghentikan ekspansi pemukiman Israel dan membuat Palestina tidak mampu mencapai negara merdeka di tanah yang dirampas Israel sejak perang Timur Tengah tahun 1967 tersebut.

Sejak saat itu, berbagai upaya AS untuk memulai kembali proses negosiasi selalu berujung pada kegagalan. Kelompok Hamas menentang tuntutan Barat untuk mengakui keberadaan Israel, mereka justru menyerukan perjuangan bersenjata dan hanya menerima perjanjian damai yang bersifat sementara. (dn/mn/ro) www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon