Mayor Jenderal Yoav Galant menyematkan para prajurit dengan medali kehormatan pada hari Rabu pada suatu upacara penyematan yang dihadiri oleh Pejabat tingkat atas Komando Selatan dan kepala-kepala dewan dan masyarakat dari Negev barat.
Galant mengatakan tentara IDF telah mencapai tujuannya dalam serangan di Jalur Gaza beberapa minggu lamanya dan bahwa "prajurit bertindak karena percaya pada keadilan dari tujuan kita, dan norma-norma moral mereka patut dipuji."
"Dalam waktu-waktu sulit dari percobaan melalui api, tanpa pantang menyerah Anda berani dan gigih. Anda adalah mercusuar moralitas dan nilai-nilai," The Jerusalem Post mengutip Galant.
Penerima medali kehormatan itu adalah Mayor Dr Alexander, Lt Efraim, dari Brigade Golani, Staff Sersan (res.) Menahem dari Brigade Kfir, Master Sersan Ziv, dari Angkatan Udara Israel, Kapten Motti, dari batalion Sa'ar, Staff Sersan (res.) Ofer dan Staff Sersan (res.) Ziv dari Pasukan terjun payung , serta Lt Nadav dari Brigade Givati.
Penyematan itu datang di hadapan kritik dari seluruh dunia terhadap penggunaan persenjataan perang Tel Aviv melawan Palestina dan beberapa laporan oleh badan-badan internasional dan pengawas hak asasi manusia terhadap Israel yang melanggar hukum internasional selama serangan.
Pada bulan Juli, kelompok aktivis Breaking the Silence merilis laporan secara cetak dan kesaksian video dari sekitar 30 tentara yang mengatakan mereka memasuki Gaza dengan senjata api berkobar di atas sebuah pedoman "permisif" oleh komandan, mendesak untuk menembak terlebih dahulu dan baru kemudian memikirkan untuk membedakan mana yang warga sipil mana yang pejuang.
112 halaman kesaksian itu menggambarkan "Prosedur Tetangga", di mana warga sipil dipaksa untuk memasuki gedung-gedung yang dicurigai dan digunakan sebagai perisai manusia di depan pasukan Israel.
Laporan itu juga menuduh Israel menggunakan fosfor putih yang dilarang tanpa pandang bulu ke jalanan Gaza di mana pemboman udara dan artileri Israel dengan bantuan bulldozer lapis baja menghancurkan daerah itu besar-besaran, termasuk berhektar-hektar kebun dan peternakan.
Pada bulan April, mantan jaksa PBB Afrika Selatan Richard Goldstone memimpin misi independen pencari fakta yang diciptakan oleh PBB Dewan Hak Asasi Manusia untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter dalam perang Gaza.
Laporan 575 halaman komite itu menyorot sebagian besar kekejaman Israel terhadap rakyat di Jalur Gaza yang terkepung dan mendokumentasikan pusat-pusat yang dengan sengaja dijadikan sasaran, seperti sekolah dan Masjid, yang diketahui menampung warga sipil.
Dokumen ini juga mengajukan keluhan bahwa tentara Israel membunuh orang-orang yang tidak bersenjata dalam pelarian, mengatakan beberapa korban bahkan melambai-lambaikan bendera putih.
Pada bulan Oktober, laporan yang memberatkan ini disiapkan untuk pemungutan suara di Dewan HAM PBB yang berbasis Jenewa dan didukung oleh mayoritas dari 114 negara sedangkan 18 menentang dan 44 abstain.
November lalu, Kepala Staf Umum militer Israel, Gabi Ashkenazi mengatakan bahwa Israel kini tengah mempersiapkan strategi baru setelah belajar dari kesalahan mereka dalam serbuan sebelumnya.
"Kami sedang mempelajari keluhan Palestina juga, dan tidak selalu bangga dengan hasilnya," Ashkenazi berbicara mengenai laporan PBB yang mengutuk perang Israel bulan Januari yang menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina.
"Kami telah menemukan kesalahan dan malfungsi yang terjadi dalam panasnya pertempuran," katanya.
Lebih dari 1.400 warga Palestina terbunuh selama tiga minggu serangan darat, laut dan udara Israel di Jalur Gaza yang juga menghancurkan sebagian besar infrastruktur di daerah kantong pantai miskin itu.
Israel membenarkan Operasi Cast Lead di Gaza sebagai jawaban terhadap peluncuran roket Palestina dari jalur pantai yang berpenduduk padat, yang biasanya lebih menyebabkan kepanikan daripada menimbulkan korban atau kerusakan apapun. (iw/pv/jp/sm) www.suaramedia.com














