Kelompok gerilyawan Syiah Irak kabarnya mampu memanfaatkan program peranti lunak seperti SkyGrabber untuk turut menyaksikan rekaman video tersebut. Ironisnya, perangkat lunak tersebut dapat diunduh dengan harga hanya $25,95.
Pembobolan rekaman video tersebut dapat dilakukan karena pesawat-pesawat yang dikendalikan dari jarak jauh tersebut memiliki jalur komunikasi tidak terlindungi.
Meski kelompok gerilyawan tidak dapat mengambil alih kendali pesawat mata-mata seharga $20 juta tersebut, yang umumnya dipersenjatai dengan peluru kendali Hellfire dan diterbangkan di atas medan tempur Irak, Afghanistan dan Pakistan, mereka dapat turut menyaksikan tayangan live yang dipancarkan ke stasiun kendali AS melalui "mata elektronik" mereka.
Tayangan video tersebut memberikan masukan informasi bagi kelompok gerilyawan mengenai lokasi-lokasi yang menjadi target serangan militer AS berikutnya.
Kantor berita Associated Press mengutip ucapan seorang pejabat Departemen Pertahanan AS. Pejabat tersebut mengatakan bahwa militer AS juga telah menemukan setidaknya satu contoh kasus dimana kelompok gerilyawan Afghanistan mampu memonitor isi tayangan video pesawat mata-mata AS.
Bobolnya pengamanan sistem pengintaian Pentagon di Irak tersebut baru diketahui ketika militer AS menemukan rekaman video pesawat mata-mata Predator di dalam laptop seorang anggota kelompok gerilyawan yang tertangkap.
Keberhasilan pembobolan tayangan pengintaian tersebut meningkatkan kemungkinan pengambilalihan pesawat Predator untuk kemudian dipergunakan sebagai senjata untuk menyerang pasukan AS atau Inggris. Meski pesawat Predator umumnya dikendalikan dari jarak jauh, ada beberapa unit yang disimpan untuk melakukan latihan di pangkalan udara AS, seperti yang ada di Creech, dekat Las Vegas.
Seorang pejabat senior Pentagon mengatakan, meski para militan dapat menyaksikan isi rekaman video tersebut, tidak ada bukti bahwa mereka juga mampu mengacak sinyal elektronik dari pesawat mata-mata tersebut atau mengambil alih kendali pesawat mata-mata tanpa awak AS, demikian dikutip oleh Wall Street Journal.
Pejabat yang tidak bersedia disebutkan namanya tersebut mengatakan bahwa Departemen Pertahanan AS telah menangani permasalah tersebut dengan memasang kode khusus terhadap seluruh tayangan Video yang direkam oleh pesawat tanpa awak di Irak, Afghanistan, dan Pakistan.
Daler Meyerrose, seorang mantan kepala informasi intelijen AS, membandingkan kebocoran video pengintaian tersebut dengan kebocoran radio polisi.
Pesawat Predator merupakan bagian dari armada pesawat tanpa awak AS, yang juga memiliki pesawat jenis Reaper dan Raven. Pesawat Reaper terbaru telah dilengkapi dengan sistem sensor video berteknologi tinggi yang mampu menayangkan video dengan sudut pandang yang lebih lebar.
Pesawat tanpa awak Predator mampu mengudara selama beberapa jam, dikendalikan oleh pilot-pilot yang berjarak ratusan mil jauhnya. Pesawat tersebut mampu menjalankan misi pengintaian sekaligus menyerang target dengan mempergunakan peluru kendali.
Menanggapi pemberitaan soal bocornya tayangan video pesawat pengintai ke tangan para gerilyawan, juru bicara Pentagon berkata, "Departemen Pertahanan secara konstan mengevaluasi dan mencoba meningkatkan performa dan keamanan berbagai sistem kami."
"Ketika kami menemukan kesalahan, kami segera memperbaikinya sebagai bagian dari proses berkelanjutan untuk mencoba meningkatkan kemampuan dan keamanan. Sudah menjadi bagian dari kebijakan kami untuk tidak mengomentari isu intelijen atau isu-isu rentan lainnya." (dn/bbc/to) www.suaramedia.com















