Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak mencantumkan Al Quds Yerusalem Timur dan beberapa hal lain dalam proposal yang kekurangan komitmen-komitmen terdahulu Israel itu.
Rencana perdamaian itu sebelumnya telah diajukan oleh mantan perdana menteri Ehud Olmert. Menurut rencana, Israel akan menganeksasi semua pemukiman yang mengelilingi Al Quds Yerusalem dan blok-blok pemukiman di Tepi Barat.
Berbicara di Nablus pada hari Kamis, pimpinan Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa Palestina tidak akan menerima kesepakatan apa pun tanpa melibatkan Al Quds, sektor yang diduduki Israel dalam perang tahun 1967.
"Tidak ada Palestina tanpa Al Quds Yerusalem," ujarnya di hadapan ribuan orang di Universitas Najah. "Tanpa itu, tidak akan ada perdamaian samasekali."
Sementara itu, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Robert Serry, mengatakan pada Dewan Keamanan dalam sebuah pertemuan bulanan rutin hari Kamis lalu bahwa Israel harus memenuhi komitmennya, termasuk menghentikan pembangunan pemukiman, di bawah rencana solusi dua negara yang didukung internasional.
Di tahun 2008, mantan perdana menteri Ehud Olmert menawarkan Otoritas Palestina ganti tanah di wilayah Israel dekat Gaza dan Hebron untuk tanah Tepi Barat di sekitar Yerusalem.
Pertukaran tanah itu adalah bagian dari tawaran perdamaian yang ditolak oleh Otoritas Palestina dengan alasan bahwa pertukaran itu tidak seimbang.
Rencana Olmert dalam proposal itu termasuk sebuah koridor di antara Tepi Barat selatan dan Gaza utara, yang dapat tetap berada di bawah kontrol Israel, namun dibuat tersedia bagi orang Palestina yang ingin bepergian di antara kedua wilayah itu. Secara total, 327 kilometer persegi tanah akan ditransfer ke tangan Palestina. Laporan itu tidak mengindikasikan seberapa banyak luas tanah itu jika dibandingkan dengan Yerusalem Timur yang mereka aneksasi.
Pemukiman yang akan dianeksasi oleh Israel termasuk Ma'ale Adumim, Gush Etzion, Ariel, Beit Aryeh, dan semua pemukiman yang mengitari Yerusalem. Secara keseluruhan, 75% dari populasi pemukim yang berada di Tepi Barat akan tetap berada di rumahnya. Garis aneksasi itu akan mengikuti rute dinding pemisah Israel yang ilegal.
Pemukiman di Hebron, Kiryat Arba, Ofra, Beit El, Elon Moreh, dan beberapa lainnya di Lembah Jordan telah dievakuasi.
Di Gaza, semua tanah mulai dari lahan pertanian di Israel selatan akan ditransfer ke tangan Palestina. Ini hanya akan mengganti 5.8% dari tanah Palestina yang dianeksasi Israel.
Menurut artikel Haaretz, Olmert mencapai sebuah pemahaman verbal dengan pemerintahan George W. Bush hingga tahap di mana Israel bersedia menerima bantuan keuangan Amerika untuk mengembangkan Negev dan Galilee untuk menampung para pemukim yang dievakuasi dari Tepi Barat.n
Mantan perdana menteri itu tampaknya mengusulkan agar peta tersebut digunakan sebagai titik awal untuk pembicaraan di masa mendatang.
Awal desember lalu, Para menteri luar negeri Eropa mendiskusikan dan mendukung rancangan resolusi yang menyerukan pengakuan Al-Quds sebagai ibukota negara Palestina di masa depan.
"Uni Eropa meminta untuk mendesak dimulainya kembali perundingan yang akan mengarah, dalam jadwal yang telah disepakati, untuk solusi dua negara yang mandiri, demokratis, berdampingan dan negara Palestina yang layak, yang terdiri dari Tepi Barat dan Gaza dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya," bunyi rancangan tersebut, yang salinannya diterbitkan oleh Haaretz pada hari Selasa, tanggal 1 Desember.
Palestina bersikeras bahwa Al-Quds akan menjadi ibukota negara mereka yang dijanjikan.
Sejak itu, Israel telah mengadopsi serangkaian langkah-langkah penindasan untuk memaksa orang Palestina keluar dari kota yang menjadi rumah bagi bangunan Islam tersuci ketiga tersebut.
"Dewan mengingatkan bahwa mereka tidak pernah mengakui pencaplokan Yerusalem Timur," bunyi rancangan resolusi itu.
"Jika ada yang namanya perdamaian sejati, suatu cara harus ditemukan untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibukota dua negara." (rin/pv/mn) www.suaramedia.com














