Ia mengeluarkan pernyataan itu dalam sebuah konferensi di pantai Laut Mati Yordania. Ia mengatakan bahwa Bush menghalangi rencana Moskow untuk sebuah konferensi tingkat tinggi lanjutan dua bulan setelah konferensi damai Annapolis di AS tahun 2007.
Primakov menekankan bahwa bagaimanapun ia tidak berbicara dalam kapasitas resmi.
"Saya tidak mewakili pemerintah atau kementerian luar negeri Rusia. Saya rasa sebuah konferensi di Moskow tidak mendesak untuk diadakan," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa awalnya AS mendukung ide sebuah konferensi Moskow, namun kemudian menghalangi ide tersebut.
"AS meminta dukungan Rusia dalam konferensi Annapolis untuk memastikan partisipasi internasional yang lebih besar, dan mereka menambahkan bahwa konferensi lain akan menyusul di Moskow," jelasnya.
"Untuk mempromosikan konferensi Annapolis, Presiden Putin meminta saya untuk mengunjungi Timur Tengah dan meyakinkan para pemimpin Arab bahwa konferensi Annapolis sangat penting, dan bahwa konferensi itu akan disusul dengan konferensi serupa di Moskow," tambahnya.
Namun, setelah beberapa waktu, baik Israel maupun AS mengatakan bahwa mereka tidak akan menghadiri konferensi di Moskow dan pertemuan itu pun tidak pernah terjadi.
Menjawab sebuah pertanyaan tentang komunitas internasional dan tekanan yang diberikan AS pada Israel, Primakov mengatakan, "Saya rasa tidak ada tekanan nyata yang diberikan terlepas dari kesan yang diciptakan setelah Presiden Obama mendeklarasikan bahwa penghentian pembangunan pemukiman diperlukan untuk mendorong proses perdamaian."
Ia juga menuduh AS mengubah pendiriannya terhadap pemukiman Israel, menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Hillary Clinton baru-baru ini mengatakan bahwa penghentian pembangunan bukan sebuah kondisi yang diperlukan untuk pembicaraan damai.
Negosiator utama Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Saeb Erekat, sebelumnya mengutuk pemungutan suara kabinet Israel untuk mengalirkan jutaan shekel uang ke pemukiman ilegal di Tepi Barat.
Kabinet itu meloloskan sebuah peta prioritas nasional baru pada Senin malam yang berisi hirarki fokus perhatian dan pendanaan pemerintah.
Daftar area prioritas untuk pertama kalinya memasukkan enam pemukiman Tepi Barat dengan total populasi sekitar 110.000 jiwa.
"Tujuan peta prioritas nasional Israel telah jelas, yaitu sebagai cetak biru perluasan "penjajahan" pemukiman di masa depan," ujar Erekat.
Ia mengatakan bahwa peta itu mengungkapkan bahwa moratorium pemukiman Israel hanyalah tipuan. Daripada menjadikan perdamaian sebagai prioritas pertamanya, Israel terus memprioritaskan pemukiman dan kolonisasi tanah Palestina, menjadikan solusi dua negara secara politik dan ekonomi sebagai hal yang mustahil terwujud.
Erekat menambahkan bahwa rencana itu meneruskan insentif finansial yang telah menyebabkan populasi pemukiman meningkat tiga kali lipat lebih banyak daripada yang ada di dalam Israel.
Ia meneruskan dengan mengatakan bahwa upaya Israel untuk membenarkan penerusan pembangunan pemukimannya sebagai akomodasi kehidupan normal adalah hal yang menyesatkan. (rin/mn/sm) www.suaramedia.com














