Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Abbas menekankan bahwa ia tidak akan mengijinkan terjadinya intifada (gerakan pendukung Palestina) dalam bentuk apa pun selama ia masih menjabat sebagai pimpinan.
"Saya tidak akan mengijinkan terjadinya intifada baru. Selama saya masih memegang jabatan ini, saya tidak akan mengijinkan siapa puan memulai intifada baru. Tidak pernah, tidak akan pernah.
Pemimpin Fatah yang sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri dalam pemilu mendatang memperingatkan bahwa ia tidak dapat menjamin jika intifada lain tidak akan muncul saat ia selesai dari jabatannya.
"Jika saya pergi maka itu bukan lagi menjadi tanggung jawab saya dan saya tidak dapat memberi jaminan apa pun. Intifada bisa saja terjadi lagi," ujarnya.
"Bukan urusan saya untuk menindaklanjuti. Dalam serangan Gaza, semua orang meminta saya untuk meluncurkan intifada ketiga, namun saya mencegah siapa pun agar tidak melakukannya."
Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina minggu lalu memperpanjang mandat Abbas, yang periode kepemimpinannya dalam Otoritas Palestina telah berakhir pada hari Rabu, 23 Desember.
Langkah tersebut menimbulkan kritik tajam dari gerakan Hamas, yang menyebut keputusan tersebut bersifat ilegal dan sebuah suapan politik untuk menutupi fakta bahwa masa jabatan Abbas di kantor itu telah berakhir beberapa waktu lalu.
Dewan Pusat PLO juga mendukung keputusan awal Abbas untuk membatalkan pemilu presiden dan legislatif tanggal 24 Januari akibat boikot yang diserukan Hamas terhadap pemilu itu di Jalur Gaza.
November lalu, Abbas menyerukan bahwa dirinya tidak akan mengajukan diri lagi untuk menjadi presiden dalam pemilihan presiden dan parlemen yang akan datang.
Menyalahkan Israel dan AS atas tersendatnya proses pembicaraan perdamaian Timur Tengah, Abbas mengatakan bahwa dirinya telah memberitahu Komite Pusat Fatah dan Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), bahwa dirinya tidak memiliki hasrat untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum Januari tahun depan.
Abbas mengatakan bahwa keputusan tersebut bukanlah sebuah manuver, dan ia meminta semua pihak untuk dapat memahami keputusan yang diambilnya.
Abbas menekankan bahwa pada awalnya Presiden AS Barack Obama memberikan harapan bagi Palestina, namun pada akhirnya hanya membuat mereka kecewa. Abbas menambahkan, kini sudah jelas bahwa AS lebih memprioritaskan Israel dan pemukiman Yahudi ilegal.
Popularitas Abbas telah menurun tajam menyusul pengungkapan oleh seorang pejabat militer senior Israel bahwa Otoritas Palestina telah menyerukan Israel untuk menyingkirkan Hamas dan mendukung pasukan Tel Aviv dengan tenaga intelijen.
Serangan terhadap Gaza yang berlangsung selama tiga minggu berkahir dengan kematian 1.400 warga Palestina, termasuk banyak warga sipil, di Jalur Gaza dan meninggalkan ribuan lainnya terluka.
Dalam sebuah wawancara, Abbas membantah laporan bahwa intelijen AS bekerjasama dengan pasukan keamanan Otoritas Palestina yang menyiksa para tahanan, namun mengakui bahwa Amerika melatih pasukan Fatah.
Harian Inggris, Guardian, mengutip pejabat-pejabat Barat yang mengatakan bahwa agen keamanan Palestina telah menyiksa para pendukung gerakan Hamas saat berada dalam tahanan di tepi Barat dalam kerjasama dengan CIA AS. (rin/pv/sm) www.suaramedia.com














