Pada hari Rabu (30/12), sebuah surat yang diposting di laman Dewan Keamanan Nasional republik Islam Iran secara detail menjelaskan rencana persiapan kabur Khamenei dan beberapa pimpinan lainnya secara cepat menyebar di situs-situs internet.
"Kami memberitahu Anda mengenai adanya rencana inspeksi, pemeriksaan, serta persiapan pesawat dengan tujuan Rusia untuk membawa sang pemimpin tertinggi, bersama-sama dengan keluarganya dan beberapa pejabat Garda Revolusi Iran," surat tersebut menyebutkan, dilengkapi dengan stempel Dr. Said Jalili, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, sekaligus ketua negosiator nuklir negara tersebut.
Keaslian surat tersebut masih dipertanyakan dan para pengamat Israel mengatakan bahwa surat tersebut merupakan bagian dari usaha "gerilya psikologis" kelompok oposisi yang bertujuan memicu terjadinya unjuk rasa terhadap pemerintahan pasca kericuhan menghinggapi pemilu Iran pada Juni 2009 lalu.
"Surat tersebut akan membuat mereka (para pengunjuk rasa) merasa telah berhasil melakukan aksinya, sehingga akan melakukan langkah dalam kericuhan selanjutnya," salah satu tokoh veteran pengamat mengatakan.
Pada Rabu lalu, para mahasiswa Teheran University bentrok dengan petugas keamanan di kampus mereka menyusul bentrokan mematikan yang terjadi minggu lalu dalam prosesi pemakaman Hussein Ali Montazeri, pemimpin oposisi yang sekaligus ulama Syiah Iran, yang juga dikenal sebagai rival utama Khamenei.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Jerman, Der Spiegel, tokoh oposisi Iran, Mohsen Kadivar, mengatakan bahwa kematian Montazeri tidak akan memperlemah gerakan perlawanan. "Justru sebaliknya, rasa duka ini akan memperkuat determinasi kubu oposisi. Hal ini akan memberikan dorongan terhadap gerakan protes. Otoritas Iran tidak mampu melarang upacara ini, yang bertepatan dengan tujuh hari meninggalnya Montazeri."
Kepada Der Spiegel, Kadivar mengiyakan pertanyaan mengenai kediktatoran militer Iran. "Anda benar, teokrasi Syiah yang diterapkan saat ini telah gagal dan sangat mungkin berujung pada tumbangnya rezim Syiah."
Ia menambahkan, "Reformasi harus dilaksanakan dari dalam negara, jauh dari pengaruh asing." Mengenai keruntuhan rezim Iran, ia mengatakan, "Saya tidak tahu persis kapan tepatnya hal itu akan terjadi, tapi saya benar-benar yakin bahwa (rezim Iran) akan runtuh."
Kadivar merupakan salah satu tokoh pengkritik utama terhadap rezim penguasa Iran. Dia juga telah menghabiskan waktu 18 bulan di dalam penjara karena menentang pemerintah. Kadivar saat ini menjadi dosen tamu dari Duke University, AS.
Pemerintah Iran telah menahan lebih dari 1.000 pengunjuk rasa, pembangkang, aktivis, dan bahkan wartawan selama dua hari terakhir yang terus menerus melakukan panggilan untuk melakukan perlawanan kepada mereka yang telah mencemari Hari Asyura.
"Mereka tidak memiliki rasa takut," jelas salah satu pengamat Israel.
"Rezime tersebut akan hancur. Ini hanyalah pertanyaan akan waktu." (al/jp/sm) www.suaramedia.com














