Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Campur Tangan Militer AS Dalam Strategi Tembok Baja Mesir

E-mail Cetak PDF

KAIRO (Berita SuaraMedia) – Seorang insinyur senior Mesir memberitahu  bahwa tembok baja Mesir sepenuhnya diawasi oleh insinyur militer Amerika, menambahkan bahwa cetak biru dari tembok itu telah disiapkan sejak enam bulan lalu dan pembangunannya dimulai tiga bulan lalu di tengah ketegangan keamanan.

Ia meyakinkan bahwa terdapat pipa utama besar sepanjang 10 kilometer dari laut di sebelah barat hingga sebelah timur dan bercabang ke pipa lain yang diarahkan ke sisi Palestina, di mana kemudian akan digunakan untuk memompa air asin langsung dari laut ke pipa-pipa bercabang yang ditanam di dalam tanah untuk menyebabkan keretakan dan tanah longsor yang akan menghancurkan terowongan Gaza.

Baha Al Madhoun, pimpinan Serikat Pekerja Adimistratif Palestina, meminta pemerintah Mesir berhenti membangun tembok baja di perbatasan Gaza agar tidak menjadi rekan Israel dalam memblokade rakyat Gaza dan membunuh kaum wanita serta anak-anak.

Pernyataan itu keluar di tengah unjuk rasa masif yang digelar oleh aliansi serikat dagang Palestina di luar markas PBB di kota Gaza untuk memprotes blokade Israel dan tembok baja Mesir.

Sementara itu, pemerintah Mesir pada hari Selasa siang mengebom tiga terowongan yang digunakan untuk menyelundupkan bahan-bahan kebutuhan pokok di perbatasannya dengan Gaza tanpa ada korban yang jatuh. Terowongan itu terletak di dekat terminal Salahuddin, di area AL Barazil dan sebelah barat penyeberangan perbatasan Rafah.

Tembok baja tak tertembus buatan AS yang akan memanjang hingga tujuh mil dengan kedalaman 60 kaki di bawah tanah itu dibangun Mesir untuk memotong terowongan-terowongan ke jalur Gaza.

Tembok itu didesain oleh Korps Insinyur Angkatan Darat AS, antibom dan tidak dapat dipotong atau dilelehkan.

Sekitar dua mil tembok itu telah dipasang sejauh ini di sepanjang pagar perimater yang telah ada, keseluruhan tembok akan selesai dipasang dalam 18 bulan.

Sejumlah terowongan telah digali untuk menghentikan blokade Israel di Gaza. Para penyelundup membawa bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari, orang, cadangan makanan dan material bangunan, juga senjata, bahan peledak dan komponen rudal yang dapat digunakan melawan Israel.

Ann Wright – pensiunan kolonel angkatan darat AS dan mantan pejabat di Departemen Luar Negeri – menulis di buku Common Dreams, "Di bulan Maret 2009, AS memberikan pemerintah Mesir 32 juta dolar alat pengintai elektronik dan perlengkapan keamanan lainnya untuk mencegah pergerakan makanan, barang-barang, dan senjata ke Gaza. Kini detailnya telah muncul tentang tembok baja bawah tanah yang akan memiliki panjang tujuh mil dan kedalaman 60 kaki."

Jika itu tidak cukup, "Tembok baja tersebut akan dibangun dari baja superkuat yang disatukan seperti kepingan puzzle. Tembok itu akan bersifat antibom dan tidak akan dapat dipotong atau dibakar."

"Tembok baja itu ditujukan untuk memotong terowongan yang berada di antara Gaza dan Mesir."

Sumber intelijen di Mesir mengatakan bahwa penghalang itu ditanam di dekat tembok perimeter yang telah ada. Mereka mengklaim telah membangun empat kilometer di perbatasan Rafah di Utara, dengan pekerjaan yang kini dimulai di wilayah selatan.

"Tanah di antara Mesir dan Gaza menyerupai keju Swiss, penuh lubang dan terowongan di mana warga Palestina menyelundupkan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat mereka peroleh akibat blokade.

Menurut Wright, tembok baja Obama itu dimaksudkan untuk memperkuat upaya pemerintahan internasional dalam memenjara dan membuat rakyat Gaza kelaparan hingga mereka mau bersedia meninggalkan pemerintahan Hamas.

"Namun, seperti halnya tembok baja buatan Korps Insinyur Angkatan Darat AS di markas militer di New Orleans yang tidak dapat menghadang badai Katrina, Tembok baja bawah tanah buatan Korps Insinyur, yang akan berusaha membangun sebuah sangkar bawah tanah bagi Gaza, tidak mampu menahan semangat kebangkitan rakyat Gaza," ujar Wright. Ia menambahkan, "Teknologi super Amerika sekali lagi akan ditertawakan dunia."

"Saya pernah ke Gaza tiga kali tahun ini menyusul 22 hari serangan militer Israel ke Gaza yang menewaskan 1.400 orang, melukai 5.000 lainnya, dan menyebabkan 50.000 orang terlantar dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur di Gaza. Ketidakseimbangan pemakaian kekuatan dan pentargetan populasi sipil oleh militer Israel dianggap sebagai pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa oleh pakar hukum internasional dan hak asasi manusia. (rin/pic/ct/oj) www.suaramedia.com

Altetik

Federer Tak Terhadang, Davdenko Tumbang
Kejutan lain terjadi saat unggulan ke-11 Marin C...More »

Berita Gadget Terkini

Sony Kembangkan Laptop 3D Canggih Dengan Kacamata Istimewa
"Teknologi frame sequential dengan cepat memutar...More »

Otomotif Terbaru

Veloce 1200, Motor Sporty Nan Gahar Dengan Jiwa Streetfighter
Veloce didukung oleh mesin canggih bertenaga bes...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon