"Polisi telah menangkap seorang tersangka yang diduga kuat telah terlibat penyerangan terhadap Masjid," kata Micky Rosenfeld, juru bicara kepolisian, pada hari Kamis (31/12/09).
Menurut sang juru bicara, sang tersangka dibebaskan setelah beberapa jam menjalani proses interogasi. Polisi berdalih bahwa pihaknya tidak memiliki cukup bukti untuk menahan sang tersangka.
"Status sang tersangka, yang merupakan warga negara Israel, tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan pembebasannya dalam waktu cepat," tambahnya.
Ekstrimis Israel membakar kitab suci umat Islam, Al-Quran, dan juga karpet di dalam Masjid di desa Yasuf pada tanggal 11 Desember silam.
Setelah terjadi pembakaran di desa Yasuf, warga Palestina terlibat bentrok dengan polisi perbatasan, beberapa orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Pembakaran tersebut membuat para komandan militer dan polisi memerintahkan peningkatan penerjunan personel di Nablus untuk mengantisipasi serangan lebih lanjut dari ekstrimis Yahudi atau serangan balasan dari warga Palestina.
"Serangan terhadap Masjid (Yasuf) adalah sebuah provokasi berbahaya yang dapat menyebabkan konflik lebih lanjut," kata seorang petugas keamanan.
Sementara, Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam, Ekmeleddin Ihsanoglu, mengatakan, "Tindakan penistaan Masjid dan pembakaran kitab suci Al-Quran, ditambah dengan coretan-coretan di tembok Masjid mencerminkan agresi terang-terangan terhadap kesucian tempat ibadah."
Yehuda Shoshan, seorang pengacara Israel, mengatakan bahwa sang tersangka menyangkal keterlibatannya dalam aksi pembakaran tersebut, ia menambahkan bahwa sang tersangka memiliki "alibi kuat" pada waktu api mulai melalap Masjid tersebut.
"Pihak penyidik terus memberitahu dia (sang tersangka) bahwa mereka mengetahui hal tersebut berdasarkan data intelijen, mereka mengatakan kami tahu kau tidak melakukannya, tapi kami juga tahu bahwa kau tahu siapa pelakunya, jadi katakan kepada kami siapa pelakunya," kata Shushan mengutip pernyataan para penyidik Israel.
Media Israel mengatakan bahwa sang tersangka merupakan cucu dari mendiang Rabbi Meir Kahane, seorang politisi ekstrimis sayap kanan yang pernah menyerukan pengusiran seluruh penduduk Palestina.
Pasca pembakaran Masjid, PerdanaMenteri Benjamin Netanyahu "mengecam" tindakan ekstrimis tersebut dan mendesak polisi untuk mengambil "tindakan khusus" untuk menemukan pelaku pembakaran tersebut. Selain membakar, ekstrimis Yahudi tersebut juga membuat guratan-guratan dalam bahasa Ibrani di tembok-tembok Masjid. Di antaranya berbunyi "Kami akan membakar kalian semua".
Sesaat setelah tersangka diangkap, Micky Rosenfield mengatakan, "Polisi telah menangkap seorang tersangka yang diduga kuat terlibat dalam serangan di Masjid tersebut". Polisi menambahkan bahwa sang tersangka adalah anak muda yang menghuni sebuah pemukiman Yahudi.
Kala itu, masih belum jelas apakah sang tersangka akan diproses atau hanya diinterogasi dan dibebaskan. Namun, belakangan terbukti bahwa kepolisian Israel meletakkan keadilan di tempat kedua jika yang melakukan kesalahan adalah seorang Yahudi. (dn/pv/mn/hz/re) www.suaramedia.com














