Harian Yediot Aharonot menyebutkan bahwa kepolisian Israel masih menyelidiki motif dan tempat kejadian perkara dimana Shehadeh ditemukan meninggal pada hari Rabu. Sderot adalah daerah pemukiman di dekat Jalur Gaza.
Surat kabar tersebut mengungkapkan bahwa Shehadeh, yang disebut sebagai salah satu pembelot terbesar yang menjalin kerjasama dengan intelijen Israeal, tinggal di kawasan sengketa Sderot dengan keluarganya dan sejumlah kaki tangan.
Yediot Aharonot menambahkan bahwa Shehadeh melarikan diri dari Gaza pada tahun 1990 setelah menjalin kerjasama dengan badan intelijen Israel.
Surat kabar itu menyebutkan bahwa Shehadeh mendapatkan fasilitas dan perlengkapan dari Shin Bet, ia mendirikan rumah dan bekerja di sebuah klab malam di Sderot, kemudian pidah ke sebuah tempat biliar.
Shin Bet memang secara aktif merekrut warga sipil Palestina dengan menggunakan iming-iming uang, situs berita Al Majid yang berbasis di Gaza melaporkan.
Laporan itu menyebutkan tentang operasi intelijen Israel berdasarkan kesaksian sejumlah pria dan wanita yang secara pribadi didekati oleh agen-agen mereka.
Situs tersebut, yang didedikasikan untuk mengekspos dan menginformasikan rakyat Palestina mengenai isu-isu terkait intelijen Israel serta keselamatan pribadi dan keamanan secara umum,
menggambarkan cara yang digunakan Israel itu sebagai sebuah penyamaran kemanusiaan, yang memberikan kesempatan pada warga Palestina untuk membayar hutang-hutangnya dengan kesempatan kerja yang menguntungkan di Jalur Gaza.
Artikel itu mengatakan bahwa para pria yang dihubungi oleh agen-agen intelijen Israel belakangan ini adalah para nelayan, setelah sebelumnya para pasien medis yang dirawat di Israel.
Penduduk Jalur Gaza menerima panggilan telepon internasional yang menawarkan 10 juta dolar jika mereka melaporkan tempat persembunyian tentara Israel yang tertangkap, Gilad Shalit.
Beberapa waktu sebelumnya, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Hamas menampik persyaratan yang diajukan oleh Israel untuk melakukan pertukaran tahanan. Pesan Israel tersebut disampaikan melalui seorang mediator asal Jerman pada hari Rabu malam.
Dalam persyaratan tersebut, 100 dari 450 nama tahanan yang menjadi bagian dari kesepakatan pertukaran, harus dikirimkan ke Jalur Gaza atau lokasi lainnya di Timur Tengah, secara efektif mengasingkan mereka dari asal mereka.
Para pejabat Hamas mengatakan kepada sang mediator bahwa mereka bersedia melanjutkan proses pembicaraan dan meminta adanya perundingan baru pada pekan depan, demikian dilaporakan oleh Reuters.
Tanggapan Hamas tersebut disampaikan setelah para pejabat gerakan Islam tersebut bertemu di Damaskus, Syria, untuk merumuskan keputusan final mengenai tawaran Israel.
"Proses konsultasi dan juga ngosiasi akan terus berlanjut. Kami tidak bisa mengatakan bahwa kesepakatan telah menemui jalan buntu. Sebaliknya, kami juga tidak bisa mengatakan bahwa (kesepakatan) telah mencapai hasil," kata seorang petinggi Hamas, Ayman Taha, kepada Reuters. (dn/im/mn) www.suaramedia.com














