Itu adalah komentar pertama yang ia keluarkan sejak kematian keponakan laki-lakinya dan unjuk rasa anti-pemerintah lainnya akhir bulan lalu.
Dalam sebuah pernyataan di situsnya, Mousavi juga menyusun lima tahap solusi untuk krisis yang muncul akibat perselisihan pemilu bulan Juni lalu.
Ia mengatakan bahwa pemerintah, parlemen, dan pengadilan harus menerima tanggung jawab langsung atas situasi tersebut.
"Saya bersedia menjadi martir seperti mereka yang membuat pengorbanan itu setelah pemilu demi tuntutan relijius dan nasional mereka," ujarnya dalam pernyataan di situsnya Kaleme.org.
Dan ia menolak kritik tajam dari golongan garis keras yang telah menuduh para pemimpin oposisi seperti dirinya memicu terjadinya kerusuhan.
"Pernyataan keras seperti itu akan menciptakan gejolak internal. Darah saya tidak lebih merah dari para martir itu," ujarnya.
Ia menyerukan kepada pemerintah untuk menciptakan sebuah hukum yang transparan demi pemilihan umum yang dapat dipercaya, membebaskan para tahanan politik, mengakui kebebasan pers juga hak rakyat untuk berdemonstrasi.
"Saya katakan dengan terbuka bahwa hingga adanya pengakuan terhadap eksistensi sebuah krisis serius di dalam negeri, tidak akan mungkin semua persoalan ini dapat terselesaikan."
Ia juga mengatakan bahwa penahanan atau pembunuhan terhadap dirinya atau pemimpin oposisi lain tidak akan meredakan situasi.
Ini adalah pernyataan terkeras Mir Hossein Mousavi dalam beberapa bulan terakhir, ujar koresponden diplomatik BBC Bridget Kendall.
Itu merupakan respon menantang dan paling terbuka terhadap rangkaian ancaman terbaru dari para pemimpin agama Iran, beberapa di antaranya minggu ini menuntut eksekusi terhadap Mousavi dan figur-figur oposisi lain.
Namun, pada saat sholat Jumat di Teheran, Ayatollah Ahmad Jannati – yang merupakan pendukung setia Presiden Ahmadinejad – mengatakan bahwa para pemrotes itu berada di pihak yang sama dengan musuh-musuh Iran, dan ia juga menyerang para pejabat yang gagal mengecam mereka.
"Beberapa individu yang tetap diam harus tahu bahwa, terlepas dari jabatannya, kebisuan mereka adalah sebuah dosa. Itu benar-benar sebuah pengkhianatan terhadap Al Quran," ujarnya.
Terlepas dari retorika itu, kandidat keempat dalam pemilu presiden bulan Juni lalu– mantan pemimpin Garda Revolusi Mohsen Rezai – menyambut baik komentar Mousavi sebagai sebuah basis untuk melakukan kompromi.
Ia mengatakan bahwa mundurnya Mousavi dari penolakan terhadap pemerintahan Presiden Ahmadinejad, dan seruannya terhadap parlemen dan pengadilan untuk menyelenggarakan pemerintahan yang akuntabel, dapat menjadi sebuah awal yang baru.
Keponakan laki-laki Mousavi, Seyed Ali Mousavi, adalah salah satu dari delapan orang yang tewas dalam kerusuhan brutal protes anti-pemerintah pada tanggal 27 Desember, di hari peringatan kaum Syiah, Asyura.
Ia tertembak di punggung saat pasukan keamanan menembaki para demonstran di Teheran. Pemerintah membantah bahwa ia ditembak oleh polisi.
Jenazah para pemrotes ditahan untuk uji forensik yang menyebabkan mereka tidak dapat segera dikubur sesuai dengan tradisi Islam.
Keluarga Mousavi mengatakan bahwa jenazah Seyed Ali telah diambil dari rumah sakit tanpa seijin mereka, dan menuduh pemerintan memindahkannya untuk mencegah prosesi pemakamannya menjadi ajang unjuk rasa bagi para pemrotes.
Kekerasan pada hari Minggu itu merupakan yang terburuk sejak serangkaian protes besar menyusul terpilihnya kembali Presiden Ahmadinejad secara kontroversial di bulan Juni. (rin/bbc/ab) www.suaramedia.com














