Jenderal baja berjuluk "Sang Buldoser", yang kini telah berusia 81 tahun itu, meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang dirasakan oleh banyak pihak belum terisi ketika ia jatuh tak sadarkan diri pada tanggal 4 Januari 2006.
Dan dengan terhentinya upaya perdamaian Timur Tengah saat ini, menegangnya hubungan dengan Washington, dan meningkatnya kekhawatiran atas pertumbuhan pengaruh Iran, Israel menghadapi sejumlah keputusan penting dalam beberapa tahun mendatang.
Terhubung dengan selang makanan dan hanya memperlihatkan sedikit aktivitas otak, Sharon telah membangun sebuah warisan yang kontroversial dan sangat kuat yang memuncak empat bulan sebelum stroke melumpuhkannya, ketika ia memerintahkan para pemukim dan tentara Yahudi keluar dari Jalur Gaza setelah mendudukinya selama 38 tahun.
Dipuji oleh para pendukungnya saat itu sebagai langkah bersejarah menuju perdamaian, penarikan unilateral itu kini dilihat oleh banyak rakyat Israel sebagai jalan menuju pengambilalihan Jalur Gaza dengan kekerasan di tahun 2007.
Kehadiran gerakan Islam Hamas di perbatasan selatan Israel adalah salah satu ancaman besar bagi negara Yahudi itu hari ini.
Perang Gaza yang diluncurkan satu tahun lalu gagal menyingkirkan Hamas dan mendorong munculnya kritik internasional terhadap Israel.
Namun, jumlah serangan roket ke Palestina telah berkurang secara dramatis sejak perang berakhir tanggal 18 Januari.
Perang itu juga membantu militer Israel memperbaiki citranya yang ternoda oleh perang di bulan Juli-Agustus 2006 melawan milisi Hizbullah Libanon, ketika ribuan roket ditembakkan.
Kegagalan Israel dalam perang yang singkat namun mematikan itu sebagian besar dianggap merupakan akibat dari kurangnya pengalaman yang dimiliki oleh penerus Sharon, Ehud Olmert, yang kemudian menemukan dirinya harus berjuang untuk mempertahankan kelangsungan karir politiknya.
Para analis dan mantan ajudan Sharon meyakini bahwa konflik Gaza dan Libanon mungkin akan sukses jika Sharon tetap berada di pucuk pimpinan.
Gerald Steinberg, ilmuwan politik di Universitas Bar Ilan, meyakini bahwa Sharon tidak akan membiarkan situasi di Gaza hingga seperti ini.
"Ia pasti akan merespon lebih keras serangan roket setelah penarikan itu," ujar Steinberg.
Mantan juru bicara Sharon, Raanan Gissin, meyakini para pejuang Palestina mungkin tidak akan menyerang Israel yang dipimpin oleh Sharon "karena ia dianggap sebagai pemimpin yang kuat. Sedangkan Olmert dianggap lemah."
Sharon juga dihormati di Israel karena memimpin negara melalui tahun-tahun berdarah dari intifada kedua Palestina yang diluncurkan tahun 2000.
Sesaat setelah keluar dari Gaza, Sharon mengguncang pondasi politik Israel dengan berhenti dari partai sayap kanan Likud untuk mendirikan Kadima yang berhaluan sentris.
Hari ini, Kadima adalah partai terbesar di Israel, namun tidak memegang kekuasaan dan pimpinannya, mantan menteri luar negeri Tzipi Livni, kini menghadapi pertentangan yang semakin meningkat.
Likud kini memimpin sebuah koalisi pemerintah yang terpecah belah yang mengandalkan sepenuhnya pada dukungan dari kelompok sayap kanan..
Pembicaraan damai Timur Tengah benar-benar terhenti sejak Perang Gaza.
Hubungan dengan Washington memburuk, terutama atas penolakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memerintahkan penghentian pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat.
Itu adalah perubahan yang dramatis dari hari-hari Sharon, ujar Dov Weissglas, mantan kepala staf di era Sharon.
"Hubungan istimewa Sharon dengan AS menjanjikan bahwa krisis antara kedua pihak akan terselesaikan dengan niat baik," ujarnya.
"Sharon adalah seorang pemimpin, ia mencapai keputusan, memutuskan kebijakan yang jelas, dan berusaha mengimplementasikannya," ujar Weissglas.
Namun kini setelah bertahun-tahun masa komanya, media Israel maupun internasional nampaknya menutup-nutupi kondisi Sharon.
"Kepahlawanan" Sahron juga kini telah dianggap sebagai beban oleh Israel ketika mereka merasa terbebani dengan biaya perawatannya.
"Dengan segala hormat yang wajib diberikan atas kontribusi dari Ariel Sharon, kami tidak mengerti mengapa negara harus membayar biaya kantor ini. Kami merasa harus ada penyidikan oleh otoritas Negara yang kompeten."
Demikian sebagian bunyi surat yang disampaikan kepada Departemen Kesehatan Israel. Surat ini mengkritik biaya pengeluaran pemerintah untuk kantor Gilad, putra mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, di serambi perawatan ayahnya di rumah sakit.
Rumah sakit Chim Sheba yang berada dekat Tel Aviv sedang mengkaji untuk mengirim Sharon ke rumahnya di pertanian miliknya di Negev, didampingi oleh perawat untuk memberikan perawatan yang semestinya di bawah pemantauan melekat.
Pernyataan yang dikeluarkan oleh manajemen rumah sakit menyebutkan, "Pihak rumah sakit sentiasa kontak dengan keluarga Sharon dan para perawatan, untuk mengidentifikasi dan menemukan cara terbaik untuk perawatan di luar rumah sakit."
Menurut sumber Israel kepada koran "Yediot Aharonot", pihak manajemen rumah sakit dalam suratnya tersebut bersikap masa bodoh atas penggunaan ruangan oleh putra Sharon di samping ayahnya yang dirubah Gilad menjadi kantor untuk mengelola usahannya. Hal menghalangi pasien biasa tidak bisa menggunakan ruang tersebut. Meskipun secara tidak langsung pihak menejemen rumah sakit mengakui tidak ada kebutuhan mendesak keberadaan Sharon di rumah sakit. Pihak rumah sakit menegaskan, diskusi diskusi berlangsung terus dengan tim perawat dan keluarga Sharon, untuk menentukan kemungkinan menerima perawatan yang diperlukan di lingkungan yang jauh dari rumah sakit. (rin/me/sm) www.suaramedia.com














