Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Tanpa Hubungan Diplomatik, "Pakar" Israel Masuki Yaman

E-mail Cetak PDF

TEL AVIV (Berita SuaraMedia) – Sekelompok "pakar" Israel datang berkunjung ke Yaman, tepat ketika negara tersebut tengah dibanjiri intervensi militer asing.

Lima orang "pakar pertanian" Israel berada di Yaman pekan lalu untuk membantu para petani negara tersebut, demikian disebutkan oleh surat kabar Arutz Sheva Israel pada hari Minggu lalu.

Menurut Arutz Sheva, kelima orang tersebut berada di Yaman untuk membantu para petani di kawasan Taaz dalam menangani berbagai masalah.

Tel Aviv mengatakan bahwa perjalanan yang dilakukan oleh para pakar tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan konflik yang terjadi di sebelah utara Yaman.

Arutz Sheva menyebutkan bahwa Yaman telah mengundang Israel untuk berkunjung ke negaranya dalam sebuah ajang agrikultur di Belanda beberapa bulan yang lalu.

Anehnya, meski Yaman dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik, para pakar tersebut memasuki Yaman dengan mempergunakan paspor Israel.

Perkembangan tersebut terjadi ketika AS dan Arab Saudi memberikan dukungan militer untuk membantu pemerintahan Yaman memerangi para pemberontak Syiah di sebelah utara negara tersebut.

Riadh Hussain al-Qazi, pemimpin gerakan oposisi Yaman, mengatakan kepada Al-Alam, saluran televisi Iran yang berbahasa Arab, bahwa serangan yang dilakukan Yaman telah dirancang oleh Arab Saudi dan lobi Zionis di AS.

Sebelumnya, seorang cendekiawan Islam Yaman memperingatkan mengenai sebuah skema Barat untuk menjajah Yaman dan menempatkan negara tersebut dalam genggaman kekuatan internasional.

Peringatan tersebut dilontarkan oleh Sheikh Zindani. Ia menambahkan bahwa dalam sebuah konferensi yang dijadwalkan berlangsung di London, ada rencana AS dan Inggris, berkolaborasi dengan pasukan penjajah NATO, untuk mengirimkan pasukan ke Yaman.

Pada awal bulan Januari ini, Perdana Menteri Gordon Brown melakukan pertemuan internasional untuk mendukung "upaya-upaya perkembangan" Yaman, dan memperkuat kapabilitas Yaman untuk "memerangi terorisme". Hal tersebut diugkapkan pasca upaya gagal untuk meledakkan sebuah maskapai AS yang terbang dari Amsterdam menuju Detroit pada tanggal 25 Desember lalu.

Pemimpin militer tertinggi AS mengatakan bahwa negara adidaya tersebut tidak memiliki rencana untuk mengirimkan pasukan ke Yaman. Ditambahkan bahwa Yaman sendiri tidak menginginkan keberadaan pasukan AS.

Dalam sebuah pidato di hadapan para pelajar Naval War College di Newport, Laksamana Mike Mullen, kepala staf gabungan militer AS mengangkat kembali isu yang dikemukakan pada hari Natal lalu, dalam sebuah upaya peledakan pesawat menuju Detroit oleh seorang pemuda Nigeria. FBI mengatakan bahwa pria tersebut dilatih oleh Al-Qaeda di Yaman.

Mullen kemudian mengatakan kepada para wartawan bahwa dirinya melihat Yaman sebagai sebuah tempat aman bagi Al-Qaeda, ia menambahkan bahwa AS akan memberikan tambahan dukungan melalui jalur diplomatik.

"Mereka sudah mengutarakan secara gamblang mengenai dukungan yang mereka inginkan dan apa yang tidak mereka inginkan," kata Mullen. "Menteri Luar Negeri mereka sudah menjelaskan bahwa mereka tidak ingin melihat pasukan (AS) di tanah mereka." (dn/pv/in/sm) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon