Pada hari Senin, Erdogan mengatakan bahwa Israel telah membahayakan perdamaian dunia melalui penggunaan kekuatan yang berlebihan untuk menindas rakyat Palestina di Gaza, terus melakukan pelanggaran wilayah udara dan perairan Libanon, dan terus menjalankan program nuklir meski pada saat yang bersamaan menuntut sanksi terhadap Iran.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian Israel tersebut mengatakan bahwa "kata-kata Erdogan harus turut diperhitungkan bersama dengan program-program anti-Israel yang ditayangkan di televisi Turki, dan juga sentimen anti-Israel yang berulang kali diekspresikan oleh perdana menteri Turki tersebut selama lebih dari satu tahun, sejak meluncurkan serangan verbal terhadap Presiden Shimon Peres dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos pada bulan Januari 2009 lalu."
Kala itu, Erdogan memilih untuk keluar meninggalkan ajang debat di Forum Ekonomi Dunia, ia menuding Israel telah melakukan tindakan barbar, ia juga mengatakan kepada Presiden Shimon Peres: "Anda tahu benar cara membantai orang."
"Akan tetapi, Israel juga menghormati Turki dan masih berkeinginan untuk melanjutkan hubungan normal antara kedua negara. Dengan syarat, Turki juga melakukan hal yang serupa terhadap Israel," demikian bunyi pernyataan kementerian tersebut.
"Israel memiliki hak untuk "melindungi warga negaranya" dari serangan roket dan "terorisme" dari Hamas dan Hizbullah. Turki adalah negara terakhir yang pantas menceramahi Israel dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) soal moralitas," kata Kementerian Luar Negeri Israel.
Israel juga mengkritik Turki atas penayangan program televisi yang menggambarkan agen-agen Israel sebagai penculik bayi.
Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, langsung memanggil duta besar Turki pada hari Senin lalu untuk memprotes penayangan program tersebut.
Mengenai pemanggilan tersebut, Ayalon mengatakan bahewa dirinya tidak berniat untuk mempermalukan duta besar Turki dengan meminta klarifikasi kemudian memerintahkan sang duta besar untuk duduk di kursi yang lebih rendah tanpa ada bendera kebangsaan.
Akan tetapi, Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa Israel ingin menyampaikan pesan bahwa negara Zionis tersebut akan membalas penghinaan dalam bentuk apapun yang disampaikan oleh para pemimpin Turki.
Dalam pertemuan tersebut, duta besar Turki didudukkan di sebuah sofa yang rendah, dan berada di depan Ayalon, yang duduk di kursi yang lebih tinggi, dimana Ayalon dan dua pejabat Israel lainnya duduk. Posisi duduk tersebut dilakukan atas perintah Avigdor Lieberman.
Protes tersebut merupakan protes Israel yang kedua karena acara televisi Turki.
Bulan Oktober tahun lalu, Israel juga melancarkan protes kepada Turki ketika ada serial televisi Turki yang menggambarkan prajurit Israel menembaki anak-anak Palestina dengan kejam.
"Atas nama pemerintah Israel, kami memprotes tayangan televisi Turki yang menunjukkan Israel dan kaum Yahudi sebagai penculik bayi dan penjahat perang," demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel.
"Hal itu tidak dapat diterima. Hal itu telah "mengancam nyawa" orang-orang Yahudi di Turki, demikian halnya dengan hubungan bilateral antara kedua negara," kata Ayalon.
Ayalon merujuk pada tayangan berjudul "Valley of the Wolves", sebuah serial baru, yang aslinya ditayangkan oleh televisi pemerintah dan disiarkan kembali di saluran televisi swasta. Ayalon mengatakan bahwa tayangan tersebut menunjukkan agen-agen intelijen luar negeri Israel, Mossad, dalam kesan yang buruk.
Sumber-sumber Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman mencoba mencegah Menteri Pertahanan Ehud Barak agar tidak berkunjung ke Turki pada minggu depan, untuk terus meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
"Kami mendapatkan kesan bahwa Lieberman ingin memperpanas keadaan sebelum kunjungan Barak," kata seorang sumber senior dalam Kementerian Luar Negeri. "Hal-hal terbaru yang dilakukan Israel merupakan bagian dari agenda politik Lieberman.
Sumber-sumber tersebut menduga bahwa upaya Lieberman ditujukan untuk mencegah Turki agar tidak melanjutkan peranan sebagai mediator dalam pembicaraan damai Israel dengan Syria. (dn/mn/dn/hz) www.suaramedia.com














