Sheikh Arfaj sempat menjadi tersangka militan. Kini, ia memberi komentar sehubungan dengan surat perintah yang dikeluarkan oleh pemerintah Yaman untuk menyerahkan orang-orang yang diduga menjadi anggota al-Qaeda. Sheikh Arfaj menyatakan bahwa ia tak akan menyerahkan siapa pun kecuali jika orang itu sudah terbukti menjadi anggota al-Qaeda.
Menurut Sheikh Arfaj, menumpas al-Qaeda adalah urusan pemerintah pusat yang paling penting. "Kami bukan fungsionaris negara yang bertugas untuk melacak tersangka al-Qaeda. Negara punya jasa keamanan sendiri yang bisa melaksanakan misi itu." Namun, imbuh sheikh tersebut, bukan berarti suku akan menyerahkan urusan itu sepenuhnya kepada pemerintah, mentang-mentang sang sheikh pernah dijadikan tersangka militan.
Mula-mula, harap Sheiks Arfaj, kesalahannya "harus dapat dibuktikan". "Jika kesalahan seorang tersangka sudah terbukti, maka kami akan melakukan apa yang dapat kami lakukan guna meyakinkan bahwa penafsiran akan dilakukan sedamai mungkin. Jika hal itu tak mungkin dilakukan, maka kami akan merghapuskannya. Sebab, urusan al-Qaeda ini, disebabkan oleh dimensi internasionalnya, berada di luar kerangka kerja adat-istiadat kesukuan." Sheiks Arfaj mencontohkan sebuah adat Yaman: bersikap ramah kepada siapa saja yang bertamu, meskipun sang tamu adalah musuh sang tuan rumah.
Pada intinya, Sheiks Arfaj berpandangan bahwa surat perintah pemerintah pusat hanya berlaku di Sanaa, di kota-kota besar lain, dan di sepanjang pesisir. Di luar daerah tersebut, yang berlaku adalah hukum kesukuan.
Yaman adalah negara dimana kesukuan masih berpengaruh. Suku terbesar di Yaman adalah Bakil, tersebar di sekitar dua per tiga wilayah negara tersebut dan mencakup sekitar 60 persen populasi Yaman. Presiden Ali Abdullah Saleh berasal dari suku terbesar kedua, yaitu Hashid.
Sheikh Arfaj adalah seorang Sunni yang berasal dari Dahm, cabang dari Bakil. Dahm terkonsentrasi di sebelah utara Yaman, tepatnya di Propinsi Al-Jawf dan Saada. Propinsi Saada tersebut merupakan basis pemberontak Syiah yang menentang pemerintah.
Sheikh Arfaj memberi penjelasan tentang aktivitas di Saada. Menurutnya, al-Qaeda yang bercolok di daerah itu tak lebih dari selusin. Mereka "muncul sekilas sebelum akhirnya tenggelam untuk jangka waktu yang lama." ia juga mengatakan bahwa Wadi Al-Abu Jabara yang berada di Saada adalah titik pertemuan para militan al-Qaeda selama bertahun-tahun. "Para anggotanya bertemu di sana, lalu mereka menyebar. Kami sadar atas keberadaan mereka dan kami menyarankan para pemimpin suku di sana untuk urun tindakan dan menempatkan mereka pada jalan yang benar."
Sheik Arfaj bersikukuh – sehubungan dengan al-Qaeda – bahwa "kami tidak menerima mereka." Walau demikian, ia menyatakan bahjwa ia paham mengapa mereka berhasil menancapkan akar di Yaman. Salah satu alasannya adalah bahwa "al-Qaeda menjadi kuat (dalam benak masyarakat) karena Palestina. Kebijakan Barat yang berstandar ganda memberi keuntungan kepada al-Qaeda." Oleh karena itu, lanjut Sheikh Arfaj, pemerintah tak perlu melancarkan kampanye yang keras dalam mangatasi al-Qaeda.
Kesimpulannya, kekukuhan Sheikh Arfaj pada hukum kesukuan menjadi kartu truf yang harus diperhitungkan oleh pemerintah yang memiliki kepentingan di luar ibukota – kepentingan yang dapat mencuatkan konfrontasi serius.
Pemerintahan Yaman beberapa waktu lalu mengklaim telah berhasil menewaskan enam anggota al-Qaeda, namun kelompok sayap al-Qaeda yang berbasis di Yaman mengatakan bahwa pengumuman pemerintah Yaman tersebut adalah sebuah kebohongan, mereka mengatakan bahwa mereka hanya menderita luka-luka ringan.
Pemerintah Yaman, di bawah tekanan keras untuk mengenyahkan gerakan al-Qaeda di wilayahnya, mendeklarasikan perang terbuka terhadap al-Qaeda pada pekan lalu, satu hari sebelum mengumumkan serangan udara di sebelah utara Yaman yang – menurut versi pemerintah – menewaskan enam orang pemimpin al-Qaeda.
"Pemerintah Yaman telah mengeluarkan klaim palsu terhadap para pemimpin Mujahidin di jazirah Arab," kata sayap al-Qaeda di Yaman, al-Qaeda di Jazirah Arab, dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh situs internet yang dipergunakan kelompok tersebut.
"Klaim terbaru pemerintah menyebutkan bahwa mereka telah membunuh enam orang. Kami meyakinkan bangsa Muslim bahwa tidak ada satupun Mujahidin yang terbunuh dalam serangan tersebut, namun memang ada beberapa orang yang menderita cedera ringan," tambahnya.
Yaman, negara Arab termiskin, bergabung dalam upaya yang dipimpin AS untuk memerangi kelompok tersebut setelah sayap al-Qaeda di Yaman mengatakan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas plot serangan gagal pada tanggal 25 Desember lalu untuk meledakkan sebuah pesawat penumpang yang bertujuan ke AS. (es/meo) www.suaramedia.com














