Menurut laporan tersebut, Dwaik memberikan komentar tersebut dalam sebuah pertemuan dengan taipan Inggris, David Abrahams, di Hebron (Al-Khalil).
The Jerusalem Post, sebuah surat kabar Israel yang berbahasa Inggris, mengklaim bahwa Dweik telah mengucapkan hal tersebut.
David Martin Abrahams, yang bertemu dengan Dweik, dilaporkan memiliki hubungan dekat dengan para pejabat senior pemerintahan Israel dan Inggris.
Di situs internet Hamas, Dwaik kemudian mengatakan bahwa laporan tersebut tidak akurat. Menurutnya, Hamas tidak akan pernah mengakui penjajahan terhadap tanah Palestina. Dr. Dwaik meluruskan keterangannya, ia mengatakan bahwa yang dia katakan kepada Abrahams adalah, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) telah menghapuskan isi piagamnya menyusul kesepakatan dengan Israel, namun rakyat Palestina tidak mendapatkan keuntungan dari langkah tersebut.
"Pemberitaan media (Israel) tersebut tidak akurat," katanya. Ia kemudian menambahkan bahwa sejak dirinya dibebaskan dari tahanan Israel tahun lalu, ada banyak kantor berita Israel yang salah menginterpretasikan pandangan-pandangannya.
Kepada Maan, Dweik mengatakan bahwa dirinya sama sekali belum pernah mengucapkan pengakuan terhadap "hak Israel untuk berdiri di tanah Palestina", seperti yang diberitakan oleh media Israel.
"PLO yang telah mencabut isi piagamnya, dan rakyat Palestina tidak mendapatkan apa-apa," katanya. "Seperti inilah posisi Hamas dan pendapat setiap pimpinan Hamas mengenai isi piagamnya."
Dweik mengatakan bahwa pertemuan tersebut digelar atas permintaan Abrahams, pertemuan tersebut dilakukan menyusul serangkaian pertemuan antara para pemimpin dewan legislatif PAlestina dengan tokoh-tokoh, perwakilan dan kantor berita internasional. "Tidak ada hal yang aneh dalam kunjungan Abrahams," katanya.
Pemimpin Hamas yang berbasis di Ramallah tersebut ditangkap bersama dengan puluhan orang lainnya dalam sebuah penyergapan yang dilakukan Israel sebagai ajang balas dendam atas penangkapan prajurit Israel, Gilad Shalit, pada bulan Juni 2006. Dweik ditahan selama tiga tahun karena memiliki keterkaitan dengan Hamas, yang dianggap Israel sebagai "organisasi teroris".
Abrahams, yang oleh Jerusalem Post disebut sebagai donatur besar untuk Partai Buruh Inggris, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa dirinya akan mendesak Menteri Luar Negeri David Miliband untuk mempertimbangkan sikap positif Hamas.
"Fakta bahwa ada kemungkinan pengakuan terhadap Israel adalah sebuah sikap yang simbolis," katanya. "Ada sisi baik dari semua orang, demikian juga sebaliknya. Saya selalu mencari sisi yang baik."
Abrahams menambahkan, "orang lain mungkin mengatakan bahwa saya naif, biarkan saja mereka. Namun, saya siap memberi mereka kesempatan, karena saya percaya Dwaik dan (Perdana Menteri Ismail) Haniya. Kita tidak bisa membiarkan 1,5 juta orang membusuk di Jalur Gaza meski sebagian besar dari mereka adalah orang yang baik dan berpendidikan."
Salah Al-Bardawil, pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza, juga membantah laporan Israel mengenai komentar Dwaik tersebut. "Kutipan itu tidak benar. Sikap Hamas terhadap keberadaan entitas Zionis sudah cukup jelas," kata Al-Bardawil. (dn/ir/mn) www.suaramedia.com














