Juru bicara brigade Qassam, Abu Obeida mengatakan: "Pertempuran melawan musuh Zionis dalam perbatasan Palestina terus berlangsung, Para penjajah berusaha mengubah aturan permainan dan memperluas jangkauan perang terhadap rakyat Palestina dan para anggota gerakan perlawanan."
Mahmoud Andul-Rauf Mabhouh, seorang petinggi Hamas, dibunuh di sebuah hotel di Dubai.
Brigade Al Qassam berjanji untuk membalas para penjajah Zionis, yang berada di balik peristiwa pembunuhan tersebut.
"Kematian Mabhouh sebagai martir tidak akan sia-sia. Kejahatan itu dilakukan oleh entitas Zionis." Obeida menambahkan, "dari petunjuk-petunjuk yang kami kumpulkan, ditambah dengan keterangan dari pihak-pihak lain yang melakukan penyelidikan, dapat dipastikan bahwa agen Zionis, Mossad, yang melakukan pembunuhan (Mabhouh). Kami tidak ragu lagi mengataklan bahwa tangan-tangan Zionis berada di balik operasi ini."
Harian Israel, Yedioth Ahronothk, mengutip ucapan Ron Ben-Yishai, yang mengetahui seluk beluk intelijen. Ia mengatakan bahwa tudingan terhadap Mossad dalam hal pembunuhan Mabhouh mungkin merupakan tudingan yang valid. Ia menambahkan bahwa Mabhouh memainkan peranan besar dalam memasok senjata kepada Hamas di Jalur Gaza, dia juga dituding menjado penghubung antara Hamas dan Iran. Oleh karena itu, kehadiran Mabhouh di Dubai dianggap sebagai sasaran empuk pembunuhan oleh Israel.
Menurut laporan Yedioth Ahronoth, saudara laki-laki Mabhouh mengatakan bahwa Mabhouh dibunuh dengan menggunakan racun. Ia mengatakan bahwa enam bulan sebelum diracun di Beirut, Mabhouh sempat tidak sadarkan diri selama 36 jam.
Namun ada sejumlah versi berbeda mengenai cara pembunuhan petinggi Hamas tersebut, yang dimakamkan di Syria. Ada yang menyebutkan mengenai penembakan, atau penyakit jantung, sebagai penyebab kematian Mabhouh.
Mabhouh, yang dilahirkan 50 tahun yang lalu di Jalur Gaza namun tinggal di Syria sejak tahun 1989, dibunuh satu hari setelah tiba di Dubai, kata Rishq.
Izzat al-Rishq, seorang tokoh Hamas, mengatakan bahwa Mabhouh adalah seorang anggota penting dari brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas yang namanya diambilkan dari seorang pemimpin religius Syria yang memerangi pasukan penjajah Inggris di Palestina pada tahun 1930an.
"Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi. Kami tengah bekerja sama dengan aparat di Uni Emirat Arab," kata Izzat al-Rishq pada tanggal 29 Januari lalu.
Rishq hidup dalam pengasingan di Damaskus, bersama dengan sejumlah pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin gerakan tersebut, Khalid Meshaal.
Amerika Serikat, yang memulai perbaikan hubungan dengan Damaskus, meminta aparat Syria untuk membantu "menetralkan" Hamas agar tidak menjadi "kekuatan bersenjata" Timur Tengah.
Syria, yang mengupayakan perdamaian dengan Israel, melawan tekanan AS beberapa tahun lalu untuk mengusir pemimpin Hamas. Presiden Syria, Bahsar al-Assad telah berulangkali menekankan bahwa gerakan perlawanan adalah hak yang sah dari rakyat Palestina.
Hal tersebut disampaikan utusan khusus AS George Mitchell pada pada Juni tahun lalu yang mendiskusikan rencana perdamaian Timur Tengah yang diajukan pihak Washington dengan presiden Syiria, Bashar al-Assad, pertemuan itu sekaligus menandai mencairnya hubungan antara kedua negara tersebut.
"Kami sangat menyadari banyaknya kesulitan yang menghadang..namun kami tetap harus berbagi kewajiban untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk memulai proses negosiasi dan menyelesaikan (proses negoisasi) dengan sukses," kata Mitchell, yang diutus langsung oleh presiden Barack Obama untuk menangani masalah Timur Tengah, setelah pertemuan tersebut. (dn/im/sm) www.suaramedia.com
- Netanyahu Dukung Penganiayaan Politisi Arab Di Israel
- Komandan Perang Akui Strategi "Alat Dan Tujuan" Israel
- Pertukaran Tanah Palestina, Konsep Berbahaya Israel
- Pesawat Tempur Zionis kembali Gempur Gaza
- Kontroversi Kemunculan Tokoh Palestina Dalam Konferensi Israel














