Harian berbahasa Ibrani, Maariv, mengutip ucapan seorang polisi senior yang mengumumkan bahwa Dubai telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Netanyahu jika terbukti terlibat dalam pembunuhan yang dilakukan Mossad terhadap al Mabhouh di sebuah hotel di Uni Emirat Arab.
Netanyahu diduga telah menandatangani surat perintah pembunuhan Mabhouh. Pihak kepolisian Dubai mengatakan bahwa ancaman tersebut harus dipertimbangkan secara serius dan tidak diremehkan.
Di balik pembunuhan Mabhouh, ada indikasi keterlibatan Mossad, demikian kata komisaris kepolisian Dubai, Dahi Khalfan.
Dia menambahkan bahwa ancaman tersebut juga berlaku bagi seluruh badan intelijen di dunia, Mossad, Hamas, atau badan intelijen lainnya.
Kepala polisi tersebut juga menampik tudingan Israel yang mengatakan bahwa al Mabhouh terlibat dalam pengiriman senjata dari Iran ke Gaza, dan hendak bertemu dengan para pejabat Iran di Dubai. "Jika benar Mabhouh berkeinginan melakukan pertemuan dengan pejabat Iran, seperti yang diberitakan media Israel, maka Mabhouh bisa melakukannya di Syria atau di Iran, tidak perlu di Dubai."
"Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, akan menjadi orang pertama yang masuk daftar buronan karena dia pasti menjadi orang yang menandatangani keputusan pembunuhan al Mabhouh di Dubai. Kami akan mengeluarkan perintah penangkapan terhadap dirinya," kata Khalfan di situs Uni Emirat Arab, The National.
Kepala polisi Dubai tersebut juga mengatakan bahwa cara-cara yang dipergunakan untuk menghabisi al Mabhouh adalah cara-cara Mossad, namun ia tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai hal tersebut.
Khalfan menolak mengidentifikasi nama tersangka yang diduga kuat terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ia juga menyanggah pendapat Hamas yang mengatakan bahwa para pembunuh memasuki wilayah Dubai beserta rombongan menteri Israel, Uzi Landau, pada saat melakukan kunjungan ke Dubai baru-baru ini.
Pada hari Rabu, Khalfan menyampaikan peringatan, "ada badan intelijen luar negeri yang beroperasi di belakang punggung kami." Ia kemudian menambahkan, "siapapun yang melakukan itu harus waspada terhadap bagian belakangnya sendiri."
Mahmoud Abdul Raouf al-Mabhouh tewas pada tanggal 20 Januari 2010 di Uni Emirat Arab.
Mabhouh, yang dilahirkan 50 tahun yang lalu di Jalur Gaza namun tinggal di Syria sejak tahun 1989, dibunuh satu hari setelah tiba di Dubai, kata seorang tokoh Hamas Izzat al-Rishq.
Rishq tinggal di Damaskus, bersama dengan sejumlah pemimpin utama Hamas, termasuk pemimpin gerakan tersebut, Khalid Meshaal.
Amerika Serikat, yang memulai perbaikan hubungan dengan Damaskus, meminta aparat Syiria untuk membantu "menetralkan" Hamas agar tidak menjadi "kekuatan bersenjata" Timur Tengah.
Syria melawan tekanan AS beberapa tahun lalu untuk mengusir pemimpin Hamas. Presiden Syria, Bahsar al-Assad telah berulangkali menekankan bahwa gerakan perlawanan adalah hak yang sah dari rakyat Palestina. (dn/im/hz/sm) www.suaramedia.com
- Dapatkan Restu Mesir, Israel kebali Serbu Terusan Suez
- Mahmoud Abbas Sambut Hangat Pendukung Pembantaian Israel
- Nasrallah: Penculikan Palsu Al-Majzoub Bisa Jadi Bencana Libanon
- Berdalih Perangi Kekerasan Sekte, Irak Rubah Aturan Media
- Iran: Rudal Teluk, Trik Baru AS Rampok Kekayaan Negara














