Nasrallah mengecam pengeboman terhadap para peziarah di Irak, ia juga menyerukan kepada segenap masyarakat untuk tetap tegar menghadapinya. Nasrallah mengecam fakta bahwa tindakan-tindakan semacam itu seolah sudah menjadi hal yang biasa.
Sekretaris Jenderal Hizbullah tersebut memulai pidatonya dengan mengemukakan isu bencana yang dihadapi oleh umat manusia sepanjang hidup mereka dan cara-cara untuk mengatasinya. Nasrallah membedakan bencana menjadi dua jenis: yang pertama, disebabkan oleh kelakuan manusia sendiri, seperti kejahatan dan ketidakadilan, perang dan hegemoni, dan yang kedua adalah bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan banjir.
Nasrallah mengatakan bahwa cara menangani bencana berbeda-beda untuk setiap oang, bencana tersebut bisa berwujud perang, gempa, krisis ekonomi, tragedi sosial, atau hal lainnya. Sekretaris Jenderal Hizbullah tersebut mencatat bahwa, misalnya, ada beberapa orang yang memilih untuk melakukan pelarian terhadap bencana dengan mempergunakan obat-obatan terlarang, mabuk-mabukan, melakukan kejahatan atau bahkan skenario terburuk, bunuh diri. Nasrallah mengatakan bahwa ada orang-orang yang merasa frustrasi dengan pengaruh buruk dalam kehidupan sosial mereka, sementara ada sebagian orang yang menjadi ateis.
Nasrallah mengatakan para nabi telah memberikan contoh-contoh terbaik kepada umat manusia dalam menghadapi bencana dan bersikap sabar. Siapapun yang bersabar dalam menghadapi bencana sama saja dengan para Mujahidin yang berperang atas nama Tuhan. Lebih lanjut lagi, Nasrallah mengatakan bahwa kehidupan tidaklah kekal, dan oleh karena itu bencana adalah bagian tak terpisahkan dari segala hal yang tidak kekal. "Tidak ada yang abadi. Ketika bencana terjadi, apa yang akan berubah, apapun reaksi kita terhadap bencana tersebut? Yang hilang biarlah menghilang."
Mengalihkan fokus kepada keadaan saat ini, Nasrallah membahas mengenai bencana yang dihadapi masyarakat di kawasan Timur Tengah. "Bencana terburuk adalah penyakit kanker yang bernama Israel, yang menghadirkan setan besar ke negara, rakyat, sumber daya, pemerintahan, media dan sekolah-sekolah kita, dan juga menimbulkan perang dan bencana sosial yang harus siap kita hadapi."
"Itulah mengapa kita harus dilindungi oleh prinsip-prinsip semacam itu ditambah dengan budaya Islam untuk menghadapi semua bentuk bencana dan tantangan," kata Nasrallah.
Nasrallah mengatakan bahwa pasca perang Libanon bulan Juli 2006, ada banyak institusi yang telah mengirimkan utusan ke Libanon guna melakukan studi dan memeriksa keadaan psikologis dari para penduduk Libanon Selatan, khususnya orang-orang yang telah kehilangan orang tercinta dan kehilangan rumah karena dihancurkan Israel. "Saya telah melihat hasil akhir dari studi-studi semacam itu. Sebagian merasa terkejut begitu melihat bahwa sebagian besar orang yang menjadi sasaran dalam perang tersebut tidak menunjukkan gejala psikologis pasca perang seperti yang diperkirakan," kata Nasrallah. Ia menambahkan bahwa contoh terbaik untuk dipelajari adalah para nabi.
Dalam pidatonya, Sekretaris Jenderal Hizbullah tersebut mengutuk serangan bom bunuh diri terhadap para peziarah di Karbala dalam dua hari terakhir. "Dari tahun ke tahun, ada banyak peziarah yang tewas karena ledakan di Irak saat mengunjungi Karbala."
"Tentu saja kita tidak bisa mengesampingkan Israel dan AS dari tanggung jawab atas ledakan tersebut," kata Nasrallah.
Sembari menyimpulkan bahwa ada beberapa pihak yang belum kehilangan harapan untuk melakukan makar di Libanon, Nasrallah menekankan bahwa yang menjadi target juga Masjid-Masijd dan sejumlah tokoh keagamaan. "Mereka ingin menciptakan makar antara Sunni dan Syiah, namun mereka juga menginginkan perpecahan dalam tubuh Sunni atau Syiah sendiri. Yang terjadi dalam dua hari terakhir telah membuktikan bahwa orang-orang ini tidak memiliki beban untuk membunuh ribuan orang hanya untuk mencapai tujuan dan skema mereka, sebuah hal yang amat buruk."
Nasrallah juga mengutuk sebuah kejadian yang menurut sebagian orang tidak penting, namun sebenarnya "adalah hal yang sangat sangat berbahaya."
"Segenap rakyat Libanon harus tahu bahwa Tuhan telah menyelamatkan mereka dari bencana besar yang dipersiapkan untuk mereka," kata Nasrallah.
Ia merujuk pada kisah Majdel Anjar Imam Sheikh Mohammed Abdel Fatah al-Majzoub yang mengotaki penculikan dirinya sendiri pekan lalu untuk menciptakan makar di Libanon.
"Peristiwa Sheikh Majzoub tersebut bisa menyebabkan bencana di negara ini," kata Nasrallah. "Skema tersebut bertujuan untuk menimbulkan kecaman hingga tercipta ketidakpatuhan masyarakat."
"Mengapa hal semacam ini terjadi pada saat situasi Libanon sedang tenang, dan mengapa Israel mengancam negara ini? Siapa yang diuntungkan dalam hal ini?" kata Nasrallah.
Nasrallah menyerukan kepada rakyat Libanon dari segala golongan, Muslim dan Kristen, agar berhati-hati untuk menghadapi upaya-upaya menciptakan makar antara sesama warga negara. (dn/it) www.suaramedia.com
- Hamas Sampaikan Penyesalan Atas Kematian Di Israel
- Aksi Penipuan Departemen Israel Rugikan Palestina $2 Miliar
- Syiria Dukung Penuh Libanon Hadapi Ancaman Israel
- Dapatkan Restu Mesir, Israel kebali Serbu Terusan Suez
- Mahmoud Abbas Sambut Hangat Pendukung Pembantaian Israel














