Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Raja Abdullah: Kredibilitas AS Perlu Dipertanyakan

E-mail Cetak PDF

AMMAN (Berita SuaraMedia) – Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Raja Abdullah dari Yordania mengatakan bahwa perhatian tak terpecah dari Presiden Barack Obama diperlukan untuk melanjutkan pembicaraan damai antara Palestina dan Israel. Raja Abdullah memperingatkan agar semua pihak tidak melangkahi "garis tidak tampak", yang semakin menjauhkan peluang solusi dua negara.

Raja Abdullah yakin bahwa waktu untuk melakukan negosiasi sudah semakin menipis. Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan CNN pada hari Minggu, Raja Yordania tersebut memperkirakan bahwa waktu untuk dapat melanjutkan proses perdamain tidak lebih dari satu bulan.

Abdullah memperingatkan apa yang mungkin terjadi di KTT Liga Arab, ia mengkritik pemerintahan AS dan mengatakan bahwa kredibilitas AS dipertanyakan.

Raja Yordania tersebut berhati-hati dan tidak menyerang langsung Presiden Barack Obama, yang disebutnya "sangat berkomitmen". Namun, dia menambahkan bahwa Obama disibukkan dengan segudang permasalahan lain, "ditambah dengan berbagai rintangan politik pada saat kami amat memerlukan perhatian AS yang tak terpecah untuk membantu proses negosiasi antara Israel dan Palestina."

Abdullah juga memperingatkan agar semua pihak tidak "melintasi garis tak terlihat" yang akan menghilangkan kemungkinan terciptanya solusi dua negara. "Saya harap kita belum melewatinya, tetapi jika kita melewati garis tersebut, maka menurut saya kita telah menghancurkan Timur Tengah dan membawa kawasan tersebut memasuki jurang ketidakstabilan selama berpuluh-puluh tahun. Jadi dengan terus melakukan dialog namun tidak mencapai penyelesaian, kita akan membayar harganya."

Abdullah menekankan, "Kita harus mampu melangkah maju dalam satu bulan ke depan, khususnya dalam memimpin KTT Arab, sehingga tidak akan ada kebingungan setelah itu."

Raja Yordania tersebut kemudian menyingkirkan kemungkinan adanya negara Palestina di bawah pengawasan Yordania. "Ada sejumlah pihak di Israel yang menginginkan Yordania memainkan peranan di Tepi Barat. Hal itu tidak akan pernah berhasil, kami akan memperjelas bahwa Yordania tidak tertarik melakukan apapun di Tepi Barat. Karena yang akan terjadi hanyalah penggantian militer Israel oleh militer Yordania. Rakyat Palestina jelas tidak menginginkan hal itu, yang mereka inginkan adalah negara yang merdeka."

Raja Abdullah kemudian menegaskan, "Kami tidak akan memainkan peranan di Tepi Barat. Sebuah negara Palestina di bawah Yordania adalah hal yang tidak masuk akal, hal itu tidak akan pernah terjadi."

Raja Yordania tersebut mengatakan, "Bagi Israel, solusi satu negara lebih menakutkan dibandingkan dengan solusi dua negara. Menurut saya, satu-satunya cara terpercaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik ini adalah solusi dua negara. Yang lebih penting lagi, membiarkan negara-negara Arab dan Muslim untuk membuat kesepakatan dengan Israel. Ada 57 negara – jumlah itu sama dengan sepertiga negara anggota PBB – yang tidak mengakui keberadaan Israel. Jadi, Israel terisolasi di wilayah sekitar mereka, dan lebih jauh lagi."

Raja Abdullah bertemu dengan Presiden Shimon Peres seminggu sebelumnya dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Dia yakin bahwa ada banyak penduduk Palestina dan Israel yang menginginkan diterapkannya solusi dua negara sesegera mungkin. "Tantangan yang kita hadapi, khususnya di Israel, adalah bernegosiasi dengan para politisi agar bersedia berbicara kepada rakyatnya, karena mereka begitu keras kepala sehingga tidak percaya bahwa hal itu akan terjadi."

Raja Yordania tersebut berbicara mengenai pertemuannya dengan masyarakat Israel. "Dalam berbagai kesempatan, saya penah duduk bersama dengan masyarakat Israel dan bertanya mengenai pandangan mereka 10 tahun mendatang. Tidak ada warga Israel yang bahkan mampu menjawab pertanyaan itu karena masalah keamanan yang ada, mereka hanya berpikir mengenai saat ini."

"Hal inilah yang menjadi tantangan bagi Yordania dan komunitas internasional, yakni mengatakan kepada publik, Apa kalian ingin terus menjadi benteng Israel?, kemudian menyampaikan betapa tidak menyenangkannya tempat semacam itu, dan betapa hal itu terus mempengaruhi seluruh kawasan. Yang menjadi tantangan adalah merangkul rakyat Israel dan mengatakan, Pada dasarnya kami menginginkan solusi dua negara sehingga kalian bisa berintegrasi dengan kawasan sekitar. Dan melakukan hal itu tidak semudah yang dibayangkan orang." (dn/yn) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon