Surat kabar Dustur pada hari Senin mengutip para saksi mata yang mengatakan bahwa tiga buldozer kuning yang dikemudikan oleh warga sipil Mesir terlihat mengangkati batu-batu besar dan membuangnya di laut.
Sumber-sumber setempat mengklaim bahwa pembangunan tersebut dimaksudkan untuk membangun dermaga maritim bagi kapal-kapal penjaga pantai Mesir di area itu untuk menggagalkan upaya pengiriman barang yang mungkin dilakukan oleh warga Palestina melalui laut.
"Mesir telah membuat rencana keamanan komprehensif yang akan memastikan keselamatan darat dan perbatasan lautnya dengan Jalur Gaza, dan akan ada lebih banyak pembangunan yang menyusul di masa mendatang," ujar seorang sumber dari Mesir.
Ia menjelaskan bahwa dermaga baru itu akan dilengkapi dengan sinyal pemandu bagi kapal-kapal penangkap ikan Mesir agar tidak memasuki perairan Gaza dan menjadi target angkatan laut Israel.
Sementara itu, Perdana Menteri Palestina Ismail Haneyya menegaskan bahwa tidak ada pengepungan yang dapat membuat rakyat Palestina untuk tunduk, sembari menggambarkan pembangunan penghalang baja, semen, atau laut di sekitar Jalur Gaza sebagai "kebijakan yang akan gagal."
Pernyataan keras Haneyya itu dilontarkan saat ia menghormati anggota pertahanan sipil dan pelayanan medis militer di kementerian dalam negeri Palestina di kota Gaza.
"Kami tahu bahwa pengepungan terhadap Gaza dimaksudkan untuk menggulingkan pemerintahan sah Palestina dan menundukkan rakyat Palestina namun saya ingin mengatakan bahwa tidak ada penghalang baik itu dari baja, semen, elektronik, atau maritim yang dapat memaksa rakyat Palestina untuk tunduk," ujar Haneyya menegaskan.
Ia menambahkan, "Mereka ingin kami menyerah, namun biarkan mereka tahu bahwa tak peduli apa yang mereka lakukan, kami tidak akan menyerah, dan kami akan terus menapaki jalan kami terlepas dari semua tantangan yang ada."
Selain itu, Haneyya menyebutkan sejumlah pencapaian yang dibuat oleh pemerintahannya selama empat tahun terakhir terlepas dari adanya pengepungan, termasuk memulihkan ketenangan dan keamanan di Jalur Gaza, dan memulihkan prestise sistem peradilan Palestina.
"Ya, memang terkadang kami harus menggunakan kekerasan saat kekerasan itu dibutuhkan meskipun dalam kasus-kasus yang sangat terbatas, namun secara umum hubungan kami dengan rakyat kami kuat dan didasarkan pada cinta dan kasih sayang. Kami hadir untuk meringankan beban rakyat Palestina kami," ujar Haneyya.
Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina mampu menghadapi segala tantangan dan dapat menciptakan penemuan-penemuan baru karena "masa depan adalah milik kami dan Allah tidak akan menelantarkan kami."
Pada bulan Desember tahun lalu, surat kabar Mesir, Al Shaab melaporkan bahwa pemerintah Mesir membangun pagar listrik di sekeliling kota Rafah untuk mengurangi penyelundupan barang-barang ke Jalur Gaza, setelah sebelumnya membangun pagar baja.
Disebutkan bahwa pagar keamanan itu akan membuat Rafah terisolasi dari Semenanjung Sinai, ditambah dengan keputusan pemerintah untuk membangun tiga gerbang di dalam pagar-pagar tersebut.
Sejumlah pemberitaan yang beredar pada bulan Desember juga menyebutkan bahwa Mesir tengah membangun tembok baja yang menembus bawah tanah yang memiliki kedalaman 30 meter (100 kaki) dan memiliki panjang 10 kilometer (6 mil) di sepanjang perbatasan Rafah.
Penghalang tersebut kabarnya telah menghancurkan banyak terowongan yang berfungsi sebagai jalur penyambung kehidupan warga Palestina di sepanjang perbatasan. Terowongan-terowongan tersebut digali sejak Israel dan Mesir berkomplot dan "mengunci" Jalur Gaza dari segala bentuk bantuan setelah Hamas mengambil alih jalur Gaza pada bulan Juni 2007.
Israel, yang menuding Palestina telah menyelundupkan pesenjataan melalui terowongan-terowongan tersebut, meledakkan beberapa diantaranya dalam pembantaian Gaza pada bulan Desember tahun 2008 lalu hingga Januari 2009.
Namun, para penduduk Palestina memulai kembali proses rekonstruksi terowongan yang sejatinya dipergunakan untuk mengirimkan barang-barang kebutuhan pokok ke Gaza dari Mesir.
Sejumlah sumber mengungkapkan salah satu rahasia dari tembok kematian yang dibangun oleh pemerintah Mesir di perbatasan dengan Jalur Gaza. Ada sebuah sistem perairan yang memang dirancang untuk membanjiri terowongan-terowongan di Gaza dan menenggelamkan siapapun yang coba-coba menggali terowongan baru. (rin/pic/sm) www.suaramedia.com
- Pasukan Penyamaran Al Qassam Incar Para Pejabat Israel
- PA: Skandal Korupsi Pemerintah Abbas Adalah Fitnah Israel
- Saad Hariri: Ancaman Israel Bukan Sekedar Ancaman
- Cadangan Air Syiria Jadi Bisnis Impor Baru Israel - AS
- Retakan Besar Gerogoti Masjid Al-Aqsa, Skema Busuk Zionis














