"Saya telah memberikan penawaran kepada pemimpin terpilih Palestina (Mahmoud Abbas), dan saya rasa penawaran tersebut belum pernah diajukan di masa lalu dan tidak akan pernah ditawarkan di masa mendatang. Jika ada peluang untuk melakukan kesepakatan, maka peluang tersebut dapat dilakukan berdasarkan apa yang pernah saya tawarkan, dan mereka harus memberikan respon sehingga kami dapat menyelesaikan hal yang nyaris kami selesaikan," kata Olmert sebagaimana dikutip oleh harian tersebut.
Mengenai penarikan diri Israel dari tanah Palestina, mantan perdana menteri Israel tersebut berkata: "Pada tahun 2003 lalu, saya pernah bilang bahwa kami harus mundur dari sebagian besar wilayah, termasuk Yerusalem."
"Hal itu saya putuskan setelah saya mencapai kesimpulan bahwa dalam memilih antara tanah Israel yang lebih luas dan sebuah negara Yahudi yang demokratis, maka saya memilih yang kedua. Siapapun di luar sana yang mengatakan bahwa ada alternatif selain itu telah memberikan kesan yang salah."
"Suatu hari nanti, jauh lebih awal dibandingkan perkiraan kita semua, kita akan mendapati diri melawan sebuah front persatuan global yang kan berupaya memaksa kita untuk menelan kenyataan yang telah kita jalani selama 42 tahun dengan hak pilih yang setara. Tidak ada pilihan lain kecuali mempergunakan solusi yang pernah saya sarankan."
Khususnya berhubungan dengan masalah Yerusalem, Olmert mengatakan: "Sebagai orang yang pernah menjadi walikota (Yerusalem Terjajah) dan mengalami sendiri kesulitan dan beratnya kehidupan di sana, saya tahu benar bahwa jika kita menginginkan perdamaian dan keamanan, maka kita harus memberikan kelonggaran. Dengan wilayah Yahudi di tangan kami (Israel) dan wilayah Arab di tangan pemerintah Palestina."
"Pernyataan tersebut dulu disampaikan secara resmi. Situs-situs suci keagamaan harus dikendalikan oleh kelompok yang terdiri dari lima negara, termasuk Israel."
Lebih lanjut lagi, Olmert mengatakan bahwa tuntutan keamanan tersebut disampaikan oleh AS dan disetujui oleh presiden.
Olmert kemudian menyebut perang Libanon kedua pada tahun 2006 sebagai perang yang paling proporsional. "Perang itu ditangani dengan cara yang paling benar dan menghadirkan perdamaian selama empat tahun."
Mengenai prajurit Israel yang tertangkap, Gilad Shalit, mantan perdana menteri tersebut berkata, "Kita telah mengajukan penawaran yang terlalu jauh."
Olmert kemudian mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan cara-caranya dalam menangani permasalahan dengan Turki, Syiria, dan pemukiman Yahudi ilegal.
"Pada masa (pemerintahan) saya, juga dalam proses negosiasi, ada pembangunan yang dilakukan di kawasan tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada pembangunan yang berlangsung di sana sini. Saya mengatakan kepada semua pihak bahwa saya tidak akan membahas masalah ini, karena jika itu saya lakukan, maka saya tidak akan mampu terlibat dalam negosiasi yang serius," demikian kata Olmert sebagaimana dikutip harian tersebut.
Pernyataan-pernyataan Olmert tersebut disampaikan di Universitas Tel Aviv. Tampilnya Olmert di hadapan publik boleh dibilang sebagai hal yang cukup langka.
Ditengah ketegangan dengan Turki yang semakin bertambah besar, serta penolakan Israel terhadap peranan Turki sebagai mediator dalam negosiasi dengan Syiria, Olmert mengatakan,"Kita bisa mencapai kesepahaman dengan Syiria. Hal itu akan mengubah peta Timur Tengah. Kita harus mengambil keputusan dalam masalah ini. Memang mudah sekali marah kepada Erdogan, tapi akan jauh lebih bijak jika kita berdamai dengannya. Dia adalah seorang mediator yang adil. Kita membutuhkan proses negosiasi dengan Turki sebagai penengah."
Olmeert kemudian menambahkan, "Ada orang-orang di dunia ini yang mengeluarkan pernyataan yang tidak kita sukai, namun kita harus bersikap tenang dan tidak membuat mereka marah. Setiap minggu, saya menjalin kontak dengan raja Yordania. Saya juga berupaya menjaga hubungan dengan pemerintah Rusia. Saya merasa senang bahwa perdana menteri (Netanyahu) memutuskan untuk pergi ke sana." (dn/mn/yn) www.suaramedia.com
- Enggan Dekati China, Arab Saudi Gagalkan Permintaan AS
- Dirudung Malu, Irak Pelototi Tukang Jahit
- Rabbi Vilna Goan Ramalkan Kuil Ketiga Di Masjid Al-Aqsa
- Dubai Mulai Memburu Sindikat Pembunuh Tokoh Hamas`
- Cetak Iklan Pro-Israel, Harian Kuwait Diganjar Hukuman
- Clinton: Garda Revolusi Ubah Iran Ke Arah Kediktatoran Militer
- Properti "Ilegal" Arab Terancam Rencana Licik Walikota Yahudi
- Gaet Israel, Pejabat Militer AS Diskusikan "Penyelundupan" Gaza
- Gentar Ancaman Tamimi, Abbas Gelar Penyelidikan Skandal Fatah
- Al-Qassam: Buku Olmert Telanjangi Kegagalan Israel Di Gaza














