Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mendesak Arab Saudi agar bersedia meyakinkan China dengan cara menjanjikan pemenuhan kebutuhan minyak China jika negara tirai bambu tersebut membutuhkan minyak karena sanksi terhadap Iran.
Namun keinginan AS tersebut bertepuk sebelah tangan, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud Al-Faisal, pada hari Senin mengatakan, "Para pejabat China tidak membutuhkan saran Arab Saudi untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan sehubungan dengan aktivitas nuklir Iran."
"Sebagai negara anggota permanen Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto, China memiliki tanggung jawab dalam berurusan dengan Iran," kata al-Faisal setelah berdialog dengan Clinton di Riyadh.
"Penjatuhan sanksi adalah solusi jangka panjang, (tapi) kami memandang isu ini dalam jangka pendek, karena kami lebih dekat dengan ancaman," kata Pangeran Saud sebagaimana dikutip oleh AFP.
"Jika kami menginginkan keamanan di kawasan ini, maka salah satu syaratnya, Iran harus merasa senang dan damai," tambahnya.
Clinton tiba di Timur Tengah dalam agenda khusus untuk memperoleh dukungan negara-negara Teluk Persia Arab agar bersedia mendukung tindakan lebih tegas terhadap Teheran.
Sebelumnya, Clinton mengatakan bahwa Iran telah berubah menjadi "diktator militer" dan berusaha mendapatkan senjata nuklir karena Garda Revolusi Iran telah memulai upaya untuk menggantikan kepemimpinan politisi dan ulama di Iran.
Dalam sebuah konferensi pers di ibukota Arab Saudi, Riyadh, Clinton mendesak agar kalanga pemimpin tradisional mengambilalih kekuasaan dari Garda, yang menurut Clinton mengepalai program nuklir dan peluru kendali Iran.
Pekan lalu, Iran memulai proses pengayaan uranium 20 persen. AS dan sekutunya mengatakan bahwa tindakan tersebut semakin memperkuat bukti bahwa Iran berupaya mendapatkan senjata nuklir. Iran tetap membantah tudingan tersebut dan mengatakan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk menghasilkan energi nuklir dengan tujuan damai.
Para pejabat AS menolak memberikan komentar terhadap pernyataan tersebut, namun mereka mengatakan kepada wartawan bahwa mereka merasa "amat puas" dengan isi percakapan dengan Arab Saudi mengenai masalah Iran.
China keberatan dengan penjatuhan sanksi tambahan kepada Iran. China bersikeras untuk meningkatkan upaya diplomatik untuk menyelesaikan permasalahan seputar program nuklir Iran.
China, yang banyak berinvestasi dan banyak mengimpor minyak dari Iran, tetap menjadi satu-satunya batu sandungan terhadap sanksi Dewan Keamanan PBB. Dimana Rusia kini sudah lebih condong mendukung penjatuhan hukuman terhadap Iran. Sejalan dengan AS, Perancis, dan Inggris.
Clinton berbicara di Riyadh setelah menggelar dialog empat mata dengan Raja Abdullah di kamp sang raja yang terletak 60 mil sebelah timur laut Riyadh.
Pangeran Saud juga terlibat dalam pembicaraan tersebut.
Sebelumnya, di hadapan para mahasiswa di Qatar pada hari Senin lalu, Clinton mengatakan bahwa AS tidak berkeinginan mengambil jalur militer untuk membendung ambisi nuklir Iran, namun AS berupaya menggalang dukungan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran di forum Dewan Keamanan PBB.
Iran mengatakan bahwa program nuklirnya murni bertujuan untuk kepentingan sipil, Iran juga berulangkali menyerukan penghapusan senjata pemusnah massal dari muka bumi.
AS dan negara-negara sekutunya menuding Iran memiliki tujuan-tujuan militer dalam program nuklirnya. Badan Pengawas Nuklir PBB tidak mampu memperoleh bukti apapun untuk mendukung tudingan tersebut.
Sementara itu, dari Gedung Putih diumumkan bahwa wakil presiden Joe Biden akan mengunjungi Timur Tengah pada awal bulan Maret mendatang. Biden dijadwalkan berkunjung di Israel, Palestina, Mesir dan Yordania. (dn/pv/ao) www.suaramedia.com
- Komandan AS: Iran Dalangi Penjegalan Sunni Dalam Pemilu Irak
- Bangkitnya Gerakan Maroko Perangi "Perdamaian" Dengan Israel
- Subhanallah, Perubahan Alam Halangi Pembangunan Tembok Mesir
- Cegat Agresi Israel, Libanon Berpaling Pada Perancis
- Iran Curigai Kedutaan Inggris Bocorkan Rahasia Kepada AS - Israel














