Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Terinspirasi Kasus Dubai, Knesset Serukan Pembunuhan Ismail Haniyya

E-mail Cetak PDF

YERUSALEM TERJAJAH (Berita SuaraMedia) – Anggota parlemen Israel (Knesset), Yariv Levin, menyerukan pembunuhan terhadap Ismail Haniyya, perdana menteri Palestina di Jalur Gaza, mirip dengan apa yang terjadi pada pemimpin brigade Qassam, Mahmoud al-Mabhouh.

Hal itu diungkapkan oleh sang kepala komite parlemen Knesset pada saat Knesset tengah memperdebatkan proposal dari seorang anggota Arab Knesset, Talab Al Sane, yang meminta Knesset membahas keterlibatan Mossad dalam pembunuhan Mabhouh. Proposal tersebut kemudian ditolak oleh parlemen Israel.

Pada bulan Juni 2007, kediaman Ismail Haniyya dihantam roket. Namun Haniyya dan keluarganya selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Pelaku penembakan tersebut diyakini adalah tindakan cabang faksi Fatah di Gaza, pimpinan Mohammed Dahlan.

Tahun 2006 lalu, juga terjadi upaya pembunuhan terhadap Haniyya. Seorang pengawalnya tewas ketika iring-iringan kendaraan Haniyya diberondong tembakan saat menuju Gaza melalui Rafah.

Putra Haniyya, Abed, dan seorang penasihat politik mengalami luka-luka dalam penembakan tersebut. Hamas menyebut upaya pembunuhan tersebut dilakukan oleh faksi Fatah.

Fawzi Barhum, seorang juru bicara Hamas, mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan sebuah upaya terencana pasukan 17 (pengawal presiden) untuk menghabisi Ismail Haniyya.

Sementara itu situs Al-Jazeera.net mengutip ucapan mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Dan Halutz, yang memuji kejahatan pembunuhan terhadap Mahmoud al-Mabhouh.

Dalam sebuah kuliah umum di Universitas Tel Aviv. Halutz mengatakan bahwa orang-orang seperti Mabhouh harus berpikir seribu kali sebelum bepergian ke luar negeri. "Orang seperti Mabhouh harus berpikir ulang sebelum bepergian, membeli tiket pesawat, atau menyewa kamar hotel melalui internet."

"Pembunuhan tersebut dapat mengganjal dan menghalangi upaya-upaya teroris. Dan negara manapun, termasuk Iran dan Ahmadinejad pasti akan kehilangan sesuatu. Semua harus tahu bahwa kematiannya (Mabhouh) memang hanya tinggal menunggu waktu," kata Halutz.

Halutz menyebut pembunuhan Mabhouh dan Imad Mughniye, komandan militer Hizbullah, sebagai "tindakan pencegahan". Ucapan tersebut semakin memperjelas bahwa Israel memang mengotaki kedua pembunuhan tersebut.

Pada hari Rabu (24/02), Ismail Haniyya menyerukan dilakukannya Intifada ketiga di Tepi Barat dan Yerusalem terjajah sehubungan dengan keputusan Israel untuk merampas Masjid Ibrahimi dan Masjid Bilal, yang diklaim sebagai "situs bersejarah Yahudi" di tanah Palestina.

Komentar tersebut dilontarkan dalam sebuah pertemuan yang diorganisir oleh Dewan Legislatif Palestina (PLC) di Gaza yang dihadiri oleh para perwakilan faksi, anggota dewan dan para pembesar lainnya.

Haniyya juga mengecam pemerintah Palestina pimpinan faksi Fatah yang mengemukakan niatan untuk kembali berunding dengan Israel, meski penjajah Zionis terus melakukan penistaan terhadap situs-situs suci umat Islam di Yerusalem dan Tepi Barat.

Haniyya mendesak pemerintah Palestina segera membebaskan para tahanan politik dari penjara dan mengakhiri proses negosiasi dan koordinasi keamanan dengan Israel.

"Penjajahan adalah tindakan melanggar hukum, dan segala sesuatu yang berasal dari penjajah tidak sah. Kami tidak akan mengakui keputusan tersebut. Yerusalem, masjid Bilal dan Ibrahimi adalah milik kami, bangsa Palestina," kata sang perdana menteri.

Dalam pertemuan tersebut, pemimpin senior Jihad Islam, Khalid Al-Batesh, mengatakan bahwa keputusan Israel tersebut tidak sah, seperti halnya apa yang dilakukan Israel ketika mencaplok tanah Palestina.

"Kita harus menggunakan bahasa persatuan, perlawanan dan paksaan terhadap para penjajah untuk membuat mereka kembali sadar dan berhenti membuat keputusan-keputusan seperti itu," kata Batesh.

Dia juga menekankan bahwa perampasan tersebut dilakukan karena penjajah Israel tidak mampu membuktikan klaim keberadaan mereka secara historis di tanah Palestina, sehingga mereka kemudian berusaha mencuri dan mengaku-ngaku situs suci Islam dan mengarang sejarah bagi kaumnya.

Dalam sebuah pidato yang disampaikan melalui telepon dalam pertemuan tersebut, juru bicara PLC, Dr. Aziz Dweik, mengatakan bahwa keputusan Israel telah melanggar norma-norma dan kesepakatan internasional. Ia menekankan bahwa masjid-masjid tersebut murni milik umat Islam.

Dr. Dweik juga mengatakan bahwa Muslim Palestina tidak akan pernah menelantarkan situs suci umat Kristiani, karena situs-situs tersebut juga dihormati dalam Islam. (dn/im/un/aj/qs) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon