Saat ini, hubungan antara Israel dan Australia sedang berada dalam kondisi "dingin". Pasalnya, tiga paspor Australia dilibatkan dalam pembunuhan tokoh Hamas, Mahmoud al-Mabhuh, di Dubai pada bulan lalu. Pihak kepolisian Dubai yakin 99 persen bahwa Mossad berada di balik pembunuhan tersebut.
Victor Ostrovsky adalah mantan petugas Mossad pada 1980-an. Ia bekerja untuk badan itu selama beberapa tahun. Menurut Ostrovsky, tak ada keraguan sama sekali bahwa paspor Australia telah dipalsukan atau dibuat untuk operasi-operasi serupa di masa lalu.
"Mereka memerlukan paspor karena Anda tak dapat berkeliaran dengan paspor Israel, bahkan dengan paspor Israel palsu sekali pun, dan lolos atau terlibat dengan orang-orang dari dunia Arab," kata Ostrovsky.
"Mereka menyembunyikan diri dengan segera. Sehingga, sebagian besar operasi (Mossad) dilaksanakan dengan hal yang disebut bendera palsu, yang artinya Anda pura-pura berasal dari negara lain yang kurang garang dibandingkan negara tempat Anda mencoba melakukan rekruitmen."
"Jika mereka dapat memperoleh paspor kosong, yang pada masa lalu mereka peroleh dari Kanada, dari Inggris, maka mereka akan mendapatkannya. Jika tidak, maka mereka akan membuatnya."
Menurut Ostrovsky, terdapat sebuah perusahaan di markas Mossad yang bertugas untuk membuat paspor.
"Mereka membuat berbagai jenis paspor, segala macam tinta. Itu adalah departemen yang mahal, sangat mahal," katanya.
Ostrovsky mengatakan bahwa paspor buatan Mossad nyaris sama dengan paspor asli.
"Jika mereka membuat paspor tingkat tinggi untuk digunakan sebagaimana aslinya.......Saya rasa orang tak akan mampu melihat bedanya," kata Ostrovsky.
Menurut Ostrovsky, paspor palsu Australia sudah biasa digunakan.
"Pikirkan bahwa orang Australia bicara dalam bahasa Inggris dan itu adalah penyamaran yang mudah dilakukan, sangat sedikit orang yang tahu tentang Australia," papar Ostrovsky.
"Anda bisa menceritakan cerita apa pun yang Anda mau. Tak perlu banyak aksen untuk jadi orang Australia atau Selandia baru, atau orang Inggris sekali pun. Dan saya mengetahui orang-orang yang tak hanya sekali menyamar sebagai orang Australia. Jadi, mengapa tidak menggunakannya?"
Menurut Ostrovsky, Mossad memilih-milih pasor mana yang akan dijadikan dasar pemalsuan untuk para agen yang memerlukannya. "Pada kesempatan semacam itu, ada orang-orang yang ditanyai....'Jika Anda berada di sini, di Israel, kami mungkin perlu menggunakan paspor Anda untuk tujuan keamanan, akankah Anda mengijinkan kami untuk melakukannya?'" papar Ostrovsky.
"Dan orang-orang biasanya mengatakan 'ya'. Terdapat berderet-deret paspor asli, siap untuk dimanfaatkan."
Menurut Ostrovsky, tak mungkin ke dua puluh enam orang tersangka pembunuh Mabhuh adalah agen Mossad.
"Tidak, tentu saja tidak," kata Ostrovsky.
"Kecuali James Bond, yang biasanya mengumumkan kehadirannya dengan mengatakan 'I'm Bond, James Bond'."
"Kebanyakan orang yang bekerja di bidang intelijen tidak memperkenalkan diri dengan nama asli."
Israel telah lama menyangkal pernyataan-pernyataan Ostrovsky. Ostrovsky telah membuat sebuah buku dan Israel mencoba menghentikan penerbitan buku tersebut.
Pagi ini (26/02), juru bicara kementerian luar negeri Israel, Yigal Palmour, mengatakan kepada ABC NewsRadio bahwa tak ada bukti yang mengaitkan Israel dengan pembunuhan Mabhuh.
"Tak ada bukti yang dihadirkan oleh kelopisian Dubai yang menghubungkan Israel dengan insiden di Dubai," kata Palmour.
"Karena tak ada bukti tentang hal itu dan karena kepolisian Dubai sejauh ini tidak menghadirkan bukti terbaru, kami rasa kami tak perlu merespon apa pun."
Sangkalan serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman dalam sebuah pernyataan dari kantor Kementerian Luar Negeri.
"Tidak ada bukti keterlibatan Israel dalam kasus ini, jika ada yang mampu membeberkan bukti apapun, di luar pemberitaan pers, kami pasti sudah memberikan tanggapan," kata Lieberman.
Setelah bertemu dengan Lieberman di Brussels, Menteri Luar Negeri Irlandia, Micheal Martin, mengatakan bahwa Lieberman tidak membantah keterlibatan Tel Aviv dalam kasus tersebut.
"Kami berupaya mendapatkan kepastian atau klarifikasi, (tapi) dia bersikeras mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki informasi apapun, dan dia tidak dapat memberikan keterangan tambahan mengenai kasus Dubai," kata Martin.
Kepada Martin, Lieberman mengatakan: "(Negara-negara) Arab selalu saja melimpahkan kesalahan kepada Israel atas peristiwa apapun yang terjadi di Timur Tengah," kata Menteri Luar Negeri Israel tersebut. Ia menambahkan, "Di kawasan Timur Tengah, ada banyak perselisihan yang terjadi antar berbagai golongan dan negara yang tidak sedemokratis Israel."
Menurut kabar yang beredar, Martin juga bertanya kepada Lieberman mengenai pernyataan kepala polisi Dubai yang mengaku 99 persen yakin bahwa Mossad berada di balik pembunuhan tersebut.
Lieberman menjawab, "Tidak ada satu cerita pun yang mengindikasikan keterlibatan Israel dalam pembunuhan itu." (es/pt) www.suaramedia.com














