"Perubahan pasti akan datang," ujar ElBaradei.
"Perubahan dengan cara-cara damai adalah satu-satunya cara untuk menghindari benturan," ujarnya.
ElBaradei mengumumkan bahwa ia siap mencalonkan diri sebagai presiden tahun depan sebelum tiba di rumah minggu lalu dan disambut meriah oleh ratusan pendukungnya menyusul 12 tahun masa tugas sebagai kepala Badan Energi Atom Internasional di Wina.
"Saya berusaha memobilisasi massa yang pro-perubahan untuk mengubah sistem di Mesir menjadi sebuah sistem demokratis yang menjamin keadilan sosial," ujar ElBaradei.
"Langkah pertama dalam perjalanan ini adalah mengamandemen konstitusi untuk menjamin pemilu yang bebas dan adil, kemudian memiliki konstitusi baru untuk negara ini," tambahnya.
Konstitusi yang ada sekarang melarang ElBaradei untuk mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilu yang dijadwalkan akan berlangsung tahun depan.
Menurut hukum Mesir, kandidat diharuskan merupakan anggota sebuah partai setidaknya selama satu tahun di dalam partai yang telah berdiri setidaknya lima tahun.
Sebagai calon independen, ia memerlukan dukungan dari sekurang-kurangnya 250 pejabat terpilih dari majelis tinggi dan rendah kongres serta dari dewan pemerintah kota, semua badan tersebut didominasi oleh Partai Demokrat Nasional Mubarak.
Sejak tidak lagi menjabat sebagai kepala pengawas nuklir PBB tahun lalu, ElBaradei telah disambut sebagai penyelamat Mesir dan penantang utama Presiden Mubarak – pemimpin Mesir yang telah menjalankan negara tersebut selama tiga dekade.
Tidak seperti penantang Mubarak lainnya, ElBaradei terlalu terkenal untuk dibungkam atau dilempar ke penjara, nasib yang menimpa Ayman Nour, penantang serius Mubarak yang terakhir.
ElBaradei telah familiar bagi para pemilih yang merasa kecewa. Ia juga telah dipuji-puji oleh media sebagai pesulap yang membawa kembali sebuah tongkat dari Wina yang dapat memperbaiki segalanya di negara tersebut dalam waktu satu malam.
Meski demikian, belum banyak momentum serius untuk perubahan di Mesir. AS, yang pernah berusaha menjadikan Mesir sebagai contoh demokrasi multipartai, telah meninggalkan misi itu.
Gerakan pro-demokrasi mati. Oposisi utama, Muslim Brotherhood, tetap diam. Rezim Mubarak bersandar pada milyaran dolar bantuan AS. (rin/dn/to) www.suaramedia.com
- Nasrallah: Kedutaan AS Mata-Matai Libanon Untuk Israel
- Dubai: Komplotan Pembunuh Mabhouh Bersembunyi Di Israel
- Hamas Desak Arab - Muslim Selamatkan Masjid Al-Aqsa
- Paranoid, Israel Jadikan Penduduknya "Pasukan Bertopeng"
- Komite Irak Rencana Tumbangkan Ratusan Perwira Saddam














