Persiapan peluncuran proyek Iran tersebut meresahkan negara-negara Muslim Sunni yang berseberangan dengan rezim Iran. Dalam proyek baru Iran tersebut, terdapat rencana penempatan peluru kendali S4 buatan Rusia di lawasan pantai Teluk Arab. Peluru kendali tersebut kabarnya diisi dengan hulu ledak senjata kimia, gas mustard dan sarin, serta racun sianida. Kabarnya, senjata tersebut diarahkan ke negara-negara Teluk.
Menurut kabar yang beredar, peluru kendali Rusia tersebut disimpan di sebuah lokasi militer rahasia, yang terletak di dekat kota Karaj. Di lokasi tersebut, juga dilakukan sejumlah aktivitas militer, nuklir dan kimia secara tersembunyi.
Sejumlah hulu ledak peluru kendali tersebut ditransfer ke lokasi rahasia untuk menghasilkan senjata kimia. Selain peluru kendali, Iran juga mempersiapkan bom tandan dan gas beracun. Jumlah persenjataan Iran diperkirakan mencapai beberapa ribu ton.
Para akdemisi dan cendedkiawan sebelumnya memperingatkan mengenai bahaya gerakan Syiah di Teluk Arab dan negara-negara Arab lainnya. Gerakan-gerakan tersebut mendapatkan dukungan finansial dan militer dari Iran. Aktivitas tersebut dilakukan Iran di kawasan Teluk Arab, yang disebut Iran dengan nama Teluk Persia.
Pada musim panas tahun 2008, para pemimpin Garda Revolusi Iran memerintahkan penempatan peluru kendali yang mampu menjangkau seluruh kawasan jazirah Arab. Dengan daya hancur yang mematikan, utamanya kawasan yang dibidik adalah kawasan industri minyak dan gas.
Dewan Garda Revolusi Iran pernah menyusun rencana lima tahunan untuk mengivasi Yordania. Rencana tersebut bocor pada bulan Mei 2005. Rencana itu disusun sentelah Iran berhasil melatih pasukan pembunuh dan menebarkan kekacauan di Irak. Bulan Desember 2004, Raja Abdullah II dari Yordania mengungkapkan mengenai ancaman Syiah Iran di kawasan tersebut.
Sementara itu, Associated Press mengabarkan bahwa seiring proses penarikan pasukan AS dari Iran, Iran berusaha keras untuk mengisi kekosongan kekuasaan, yang kemungkinan terjadi di Irak. Teheran mendukung kalangan garis keras dan menentang koalisi dari kalangan moderat.
Namun, yang paling membuat cemas AS dan para pejabat Irak adalah campur tangan Iran dalam dunia politik. Duta Besar AS, Christopher Hill, menyebut hal itu sebagai "campur tangan jahat".
Seorang sumber dalam pemerintah Irak mengatakan bahwa pengaruh Iranlah yang membuat dua rival Syiah – Golongan Sadrist, pengikut Muqtada al-Sadr, dan Dewan Islam Tertinggi Irak – menjalin koalisi.
Koalisi Syiah tersebut, yang dipimpin oleh sejumlah ulama dan menyebut diri Aliansi Nasional Irak, diperkirakan mampu menghadapi Perdana Menteri Nuri al-Maliki, seorang politisi moderat Irak yang partainya didominasi Syiah, namun juga beranggotakan golongan Sunni dan Kurdi.
Blok manapun yang memenangkan kursi mayoritas dalam parlemen Iran yang beranggotakan 325 orang berhak mencalonkan perdana menteri Irak berikutnya.
Sadrist yang berdiri pada tahun 2003, dulunya merupakan musuh besar Dewan Islam Tertinggi Irak. Pendukung masing-masing kubu seringkali terlibat bentrok di jalanan hingga tahun 2008 lalu.
Iran juga menekan al-Maliki untuk bergabung dalam aliansi tersebut, namun al-Maliki menolak, demikian kata sumber tersebut, yang merahasiakan namanya karena dia tidak diperkenankan mengungkapkan temuan tersebut.
"Republik Islam itu akan tetap berupaya untuk menancapkan pengaruhnya melalui berbagai cara, termasuk perlindungan politik, kerjasama ekonomi dan investasi, hubungan religius, dan dukungan senjata untuk kelompok-kelompok pemberontak Syiah," kata Alireza Nader dari RAND Corp, sebuah pusat penelitian yang berbasis di Washington. (dn/im/ap) www.suaramedia.com
- Tepis Kasus Belarusia, Lieberman – Kepolisian Memanas
- "Israel Manfaatkan Keretakan Palestina Untuk Rampas Situs Islam"
- Resheq: Negosiasi Abbas Dengan Israel Adalah Dosa Besar
- Israel Peras Pasien Gaza Untuk Dijadikan Mata-Mata
- Kecerobohan Facebook Tentara Israel Gagalkan Penyerbuan palestina













