Dalam sebuah pernyataan pers, Resheq mengatakan bahwa Hamas menolak pembicaraan dengan IOA, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena perundingan semacam itu sia-sia dan tidak akan menghasilkan apa-apa.
Anjuran komite Arab mengenai dialog empat bulan dengan IOA hanya akan melindungi upaya IOA dalam melanjutkan proses Yahudisasi situs-situs suci umat Islam dan penjajahan Yerusalem, katanya.
Resheq mengatakan, IOA terus memaksakan syarat-syarat baru seperti penolakan hak pulang para pengungsi Palestina, meminta agar Israel diakui sebagai "negara Yahudi" dan tidak membahas Yerusalem dalam negosiasi. Resheq mengatakan bahwa kembali berunding dan tunduk pad syarat-syarat tersebut adalah sebuah dosa besar.
Menurut Resheq, Mahmoud Abbas, pemimpin pemerintah Palestina yang masa jabatannya habis lebih dari satu tahun yang lalu, seharusnya menunjukkan sikap fleksibel dalam rekonsiliasi nasional (dengan Hamas), bukannya justru melunak terhadap musuh rakyatnya.
Dr. Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas di Gaza, mengatakan kepada PIC bahwa melanjutkan dialog dengan IOF merupakan kejahatan nasional.
Menurutnya, negosiasi dengan IOA hanya akan kembali berujung pada kegagalan. Ia menambahkan bahwa Abbas sebaiknya beralih melakukan perlawanan ketimbang melakukan negosiasi tanpa hasil.
Sebuah sumber dalam gerakan Hamas mencemaskan keluarnya pernyataan Arab pada hari Rabu (04/03) di Damaskus tersebut. Ia menambahkan bahwa Abbas memang sedari awal tunduk pada persyaratan AS.
Menurutnya, negosiasi yang telah berlangsung selama 18 tahun tidak pernah membuahkan hasil, jadi periode yang lebih singkat (4 bulan) tentu semakin tidak dapat diharapkan hasilnya.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Mousa, dalam sebuah pertemuan lanjutan komite tersebut mengatakan bahwa semua orang yakin bahwa negosiasi di bawah persyaratan saat ini tidak ada gunanya. Akan tetapi, Liga Arab memutuskan untuk memberikan kesempatan dilaksanakannya negosiasi tidak langsung dalam periode terbatas, yakni empat bulan. Dan jika pembicaraan tetap gagal, maka Liga Arab akan melimpahkan masalah kepada Dewan Keamanan PBB.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa dirinya akan mengikuti keputusan komite Liga Arab yang mengadakan pertemuan di Kairo. Kemudian, seorang pejabat AS mengatakan bahwa utusan khusus AS, George Mitchell, akan berkunjung ke Timur Tengah dalam waktu dekat.
"Kami berharap agar Senator Mitchell kembali ke (Timur Tengah) dalam waktu dekat untuk melanutkan upaya kami dalam membangkitkan kembali proses negosiasi sesegera mungkin," kata sang pejabat yang menolak menyebutkan namanya.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa langkah Liga Arab tersebut menunjukkan adanya "peningkatan" dalam proses pembicaraan.
"Dunia sudah tahu bahwa pemerintahan ini menginginkan negosiasi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melanjutkan pembicaraan," kata Netanyahu, agaknya merujuk pada pembekuan sementara pemukiman Yahudi ilegal yang dianggap Abbas tidak cukup. (dn/pi/re) www.suaramedia.com
- Salah: Al Aqsa Belum Hadapi Serangan Terburuk israel
- "Kekerasan Al-Aqsa Adalah Jawaban Israel Atas Tawaran Damai"
- Syiria: Israel Jatuhkan Benda Asing Untuk Merekayasa Nuklir
- Tepis Kasus Belarusia, Lieberman – Kepolisian Memanas
- "Israel Manfaatkan Keretakan Palestina Untuk Rampas Situs Islam"














