"Kami melihat agresi terhadap orang-orang dan situs-situs suci kami ini sebagai respon Israel," ujar Erekat dalam pernyataan yang mengecam serangan di halaman Masjid Al Aqsa di mana pasukan Israel menembakkan peluru karet ke arah jamaah yang berunjuk rasa.
"Sekitar 200 personel kepolisian menembakkan gas air mata, peluru karet, dan granat sengat ke arah warga Palestina yang melempari mereka dengan batu," ujar saksi mata. Serangan yang melukai 60 warga Palestina dan 18 petugas polisi Israel itu dipicu oleh konfrontasi di Haram Ash-Sharif, lokasi Masjid tersebut dan merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam yang juga dihormati oleh bangsa Yahudi.
Kekerasan itu menyusul pengumuman minggu lalu tentang niat Israel untuk membangun lebih banyak unit perumahan di lokasi pemukiman di Yerusalem timur juga pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa Israel akan tetap menjaga Lembah Yordania di bawah kendalinya dalam perjanjian damai apa pun.
Erekat menunjukkan bahwa kekerasan itu juga terjadi ketika pemerintah Israel mengadopsi sebuah rencana untuk memasukkan situs-situs relijius dan warisan Palestina ke daftar warisan nasional Israel. "Agresi hari ini merupakan kesimpulan dari satu minggu di mana Israel melakukan segalanya untuk memberitahu kita mengapa mereka tidak serius tentang perdamaian," ujarnya.
"Menyusul kesediaan Arab untuk terlibat dalam pembicaraan ke arah perdamaian, bola kini berada di tangan pengadilan komunitas internasional dan AS untuk mengambil tindakan sebagai respon terhadap agresi Israel dan memastikan lingkungan yang kondusif bagi negosiasi damai," tambahnya.
"Ini hanya dapat dilakukan jika Israel dimintai pertanggungjawabannya terhadap hukum internasional dan kewajibannya menurut Peta Jalan, termasuk menghentikan pembangunan pemukiman dan mengakhiri kekerasan," ujar Erekat.
Pernyataan petinggi Otoritas Palestina itu datang setelah Kantor Kepresidenan mengeluarkan pernyataan yang menuntut diakhirinya "petualangan Israel yang dapat memicu perang agama di kawasan."
Kantor Mahmoud Abbas mengatakan bahwa pasukan Israel melewati setiap batas dalam upaya untuk menghindari dimulainya kembali negosiasi damai, terutama menyusul keputusan bagi komite lanjutan Arab dari Liga Arab untuk meresume pembicaraan damai tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, kantor kepresidenan menambahkan bahwa Presiden Abbas menindaklanjuti peristiwa-peristiwa itu dan perkembangannya di Masjid Al Aqsa dan sedang menjalin sejumlah kontak untuk mengakhiri provokasi tersebut.
Kepresidenan meminta komunitas internasional untuk membatasi penyerbuan semacam itu yang dapat menimbulkan konsekuensi berbahaya tidak hanya bagi Timur Tengah, tapi juga bagi keamanan dan perdamaian internasional pada umumnya.
"Gangguan terhadap Masjid Al Aqsa adalah alasan utama peningkatan ketegangan antara kedua pihak," ujar Pusat HAM Palestina (PCHR) pada hari Senin (01/03) dalam sebuah kecaman publik terhadap pelanggaran lokasi suci tersebut.
Meski Israel menyalahkan kekerasan minggu lalu pada warga Palestina, hasil investigasi PCHR menegaskan keterangan dari para saksi mata dan liputan berita setempat yang menyatakan bahwa ratusan pemukim Israel dan pendukung mereka, yang dikawal oleh pasukan keamanan Israel, telah memasuki lingkungan Masjid.
PCHR mengecam keras pelanggaran itu, dan menyalahkan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh pasukan Israel terhadap warga sipil Palestina yang berkumpul di dalam Masjid untuk mencegah penerobosan provokatif oleh para pemukim ke dalam Masjid. (rin/mn) www.suaramedia.com
- Status "Negara Israel" Jadi Konflik Internal Bangsa Yahudi
- Terorisme Israel Atas Situs Islam Patahkan Semua Hal Tabu
- Iran Halangi Keluarga Tokoh Anti-ahmadinejad Keluar Negeri
- Ahmadinejad: Serangan 9/11 Rekayasa Bush!
- Salah: Al Aqsa Belum Hadapi Serangan Terburuk israel














