Sabtu, 04 September 2010

Headlines:

Ahmadinejad: Serangan 9/11 Rekayasa Bush!

E-mail Cetak PDF

Teheran (Berita SuaraMedia) - Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Sabtu, menyebut serangan 11 September 2001 terhadap Amerika Serikat sebagai kebohongan besar, demikian laporan media resmi Iran di Teheran.

Ahmadinejad pada beberapa kesempatan telah mempertanyakan versi resmi bahwa "serangan teror" terhadap New York dan Washington dilancarkan oleh gerilyawan Al-Qaida sehingga menewaskan hampir 3.000 orang.

"Tanggal 11 September adalah kebohongan besar yang melicinkan jalan bagi serbuan ke Afghanistan dengan dalih memerangi terorisme," kata Ahmadinejad seperti dikutip oleh media elektronik resmi Iran.

Ahmadinejad juga menggambarkan serangan udara terhadap menara kembar Pusat Perdagangan Dunia (WTC) sebagai satu skenario dan tindakan rumit dinas intelijen.

Pernyataannya disampaikan saat Iran terlibat sengketa dengan negara besar dunia yang dipimpin oleh Amerika Serikat sehubungan dengan program nuklir kontroversial Teheran, dan menghadapi risiko sanksi lebih besar atas pembangkangannya.

Pada Januari, Presiden garis keras itu mencap serangan 11 September sebagai urusan yang mencurigakan sama dengan Holocaust oleh Nazi Jerman, yang ia tolak sebagai mitos tak lama setelah ia memangku jabatan pada 2005, sehingga menyulut pengutukan luas.

Memperkuat pemikiran tersebut, Mike O Cathail dari Salem News menuliskan, "Satu hari setelah 9/11, Benjamin Netanyahu tidak sengaja mengatakan bahwa kematian 3.000 warga negara Amerika adalah sebuah hal yang amat baik bagi Israel. Pembunuhan massal tersebut amat bagus bagi sektor-sektor perekonomian Israel yang tengah tumbuh."

Ahmadinejad telah berbulan-bulan menghadapi protes di dalam negerinya setelah ia terpilih kembali sebagai presiden pada 12 Juni tahun lalu. Pihak oposisi menuduh telah terjadi kecurangan besar untuk mempertahankan dia pada kekuasaan.

Sebelumnya, Hujjatul Islam Kazem Sediqi, khatib salat Jumat di Teheran, menyatakan penangkapan pemimpin gerilyawan Jundullah, Abdolamalek Rigi, merupakan anugerah dari Tuhan.

Penangkapan Rigi membuktikan bahwa usaha negara-negara tertentu untuk merusak Iran mengalami kegagalan, kata Sediqi kepada jamaah di Teheran, Jumat.

Menurut dia, negara-negara itu mesti mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.

Negara besar tertentu merekrut Rigi, dan badan intelejen mereka memberi dia dan kelompoknya dukungan taktis, militer dan intelijen guna melakukan kejahatan di Iran dan seluruh kawasan itu tapi pasukan keamanan Iran berhasil menangkapnya tanpa pertumpahan darah, tambahnya.

Dokumen yang menyatakan, perlindungan konstitusional dari presiden dan otoritas militer tinggi AS bagi pihak yang melakukan penangkapan yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku itu.

Depkeh AS sendiri menolak memberikan isi terperinci dari dokumen itu. Dokumen itu merupakan satu dari sembilan yang dirilis Senin (2/3/2009) oleh pemerintahan Barack Obama.

Catatan lain menyebutkan, dua pekan setelah tragedi 11/9, pemerintahan Teroris Bush memikirkan rencana penyadapan telepon warganya tanpa harus menunjukkan izin legal.

Pembuat catatan dokumen, John Yoo menolak berkomentar terkait isi dokumen kontroversial itu.

Yoo menulis, presiden dapat melakukan apa pun kepada tersangka teroris di AS, seperti militer asing yang mencoba menginvasi AS. Dia mengatakan, negara tidak memerlukan jaminan untuk melindungi bangunan dari aksi serangan teroris yang akan meledakkan bom.

Yoo juga menyatakan, pemerintah juga berhak membatasi pemberitaan media dan ceramah-ceramah, tanpa harus menyebut alasannya.

CIA berusaha menghilangkan jejak keterlibatannya dalam kasus-kasus penyiksaan saat melakukan interogasi terhadap para tersangka terorisme, dengan cara melenyapkan rekaman video interogasi tersebut agar tidak muncul di pengadilan.

Menurut Jaksa Lev Dassin, CIA telah menghancurkan 92 rekaman video yang kontroversial dan meminta CIA untuk mengindentifikasi kembali rekaman-rekaman video yang telah dihancurkannya itu untuk keperluan barang bukti dalam pengadilan kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama masa pemerintahan George W. Bush Pembohong   Besar.

Dassin menulis surat tertanggal 2 Maret 2009 pada Hakim Alvin Hellerstein di New York agar memberikan waktu sampai hari Jumat bagi CIA untuk menyiapkan kembali rekaman-rekaman video yang sudah dilenyapkan. Selama ini, badan intelejen luar negeri AS itu mengakui hanya menghancurkan beberapa rekaman video saja dan tidak termasuk 92 rekaman video tersebut.

Laporan The New York Times menyebutkan, rekaman video yang dilenyapkan oleh CIA adalah rekaman interogasi terhadap Abu Zubaydah yang dituduh sebagai salah seorang anggota al-Qaidah dan rekaman interogasi Abdul Rahim al-Nashiri yang diyakini AS terlibat dalam aksi serangan bom ke kapal induk USS Cole di perairan Yaman.

Keberadaan rekaman-rekaman video itu sendiri dibeberkan oleh Kepala CIA Michael Hayden pada Desember 2007. Tapi ia mengatakan bahwa rekaman-rekaman yang dibuat tahun 2002 tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi karena sudah dihancurkan pada tahun 2005 untuk melindungi agen-agen CIA yang terlibat dalam operasi tersebut.

Kuasa hukum pemerintahan Bush membantah kalau puluhan rekaman video yang dilenyapkan itu berisi rekaman interogasi yang diwarnai penyiksaan terhadap para tersangka yang disekap di kamp penjara AS di Guantanamo.

Tapi surat Dassin hari Senin kemarin, memberi batas waktu bagi CIA sampai hari Jumat lusa untuk membawa semua dokumen-dokumen itu ke pengadilan dalam kasus gugatan hukum yang diajukan oleh American Civil Liberties Union (ACLU) terhadap CIA, yang sudah berlangsung sejak Desember tahun 2007.

"Surat itu menjadi bukti tambahan untuk membawa CIA ke pengadilan . Banyaknya rekaman video yang dihancurkan memperkuat dugaan bahwa CIA melakukan upaya sistematis untuk menghilangkan bukti atas interogasi-interogasi yang dilakukan secara ilegal dan untuk menghindar dari jerat hukum," kata Amrit Singh dari ACLU.

Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengungkapkan keprihatinannya atas berita tersebut. "Penghancuran rekaman video ini bukan berita baik. Ini menyedihkan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintahan Barack Obama menginginkan orang-orang yang bekerja di CIA menggunakan cara-cara yang tetap membuat AS aman dan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat AS.

Pada saat rekaman-rekaman video kontroversial itu dibuat, ketua CIA dijabat oleh George Tenet. Dan pada saat rekaman video itu dihancurkan, CIA dipimpin oleh Porter Goss. Pemerintahan Obama menunjuk Leon Panetta sebagai direktur CIA yang baru dengan harapan bisa memulihkan wibawa CIA yang tercoren sejak insiden serangan 11 September 2001 dan pemerintahan Bush menerapkan kebijakan "perang terhadap terorisme." (Dari Berbagai Sumber http://www.suaramedia.com

Altetik

Federer Tak Terhadang, Davdenko Tumbang
Kejutan lain terjadi saat unggulan ke-11 Marin C...More »

Berita Gadget Terkini

Sony Kembangkan Laptop 3D Canggih Dengan Kacamata Istimewa
"Teknologi frame sequential dengan cepat memutar...More »

Otomotif Terbaru

Veloce 1200, Motor Sporty Nan Gahar Dengan Jiwa Streetfighter
Veloce didukung oleh mesin canggih bertenaga bes...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon