Dalam sidang tersebut, seorang saksi Inggris, Richard Pursell, menyatakan bahwa ia melihat sebuah bulldozer militer Israel melindas dan menewaskan Corrie ketika ia sedang berusaha menghentikan penggusuran rumah warga Palestina di Gaza.
Pursell juga merupakan seorang aktivis di Rafah pada saat itu. Pursell menggambarkan tewasnya Corrie sebagai "peristiwa yang menimbulkan shock dan dramatis."
Rachel Corrie adalah seorang gadis dari Olympia, AS, yang bergabung dengan International Solidarity Movement (ISM). Ketika Corrie berstatus sebagai mahasiswi Evergreen State College, ia mengambil cuti dan terbang ke Jalur Gaza pada tanggal 22 Januari 2003. Saat itu, sedang berlangsung gerakan intifadah kedua.
Di markas ISM Tepi Barat, Corrie menjalani pelatihan selama dua hari. Dalam pelatihan tersebut, Corrie mendapatkan pelajaran tentang cara-cara menghindari cedera dalam berdemontrasi: menggunakan jaket fluorescent, tidak berlari, tidak ketakutan, berkomunikasi dengan menggunakan megaphone, dan memastikan keberadaannya diketahui. Pada tanggal 27 Januari 2003, Corrie dan William Hewitt yang juga berasal dari Olympia pergi ke pos penjagaan Erez dan memasuki Gaza.
Selama berada di Rafah, Corrie bertindak sebagai tameng hidup (human shield). Corrie dan para koleganya berhasil meyakinkan para warga Palestina bahwa para aktivis berada di pihak Palestina. Warga Palestina mengijinkan para aktivis untuk menginap di rumah mereka dan memberi mereka makan.
Pada tanggal 16 Maret 2003, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membuldoser rumah-rumah yang terletak di antara kamp pengungsi Rafah dan perbatasan Mesir. Alasan IDF, mereka perlu menghancurkan tempat persembunyian kaum gerilyawan dan terowongan penyelundup. Saat itu terdapat tujuh aktivis ISM di tempat itu, empat dari AS – termasuk Corrie – dan tiga dari Inggris. Corrie berdiri di jalur sebuah buldoser Caterpillar D9R. Corrie pun terluka parah. Corrie dilarikan ke sebuah rumah sakit Palestina. Nyawa Corrie, yang saat itu masih berusia 23 tahun, tak dapat diselamatkan.
Muncul perdebatan tentang bagaimana Corrie tewas: apakah ia tewas di tempat kejadian, di ambulan dalam perjalanan menuju rumah sakit, atau di rumah sakit.
Para saksi mata dari ISM mengatakan bahwa tentara Israel menjalankan buldoser dan melindas Corrie dua kali ketika gadis itu sedang mencegah penggusuran rumah Samir Nasrallah, seorang apoteker setempat yang rumahnya juga menjadi tempat menginap para aktivis ISM. Menurut mereka, Corrie sedang berdiri di antara tembok rumah Nasrallah dan buldoser.
Pemerintah Israel dan IDF membantah pernyataan para aktivis tersebut. Tewasnya Corrie adalah sebuah kecelakaan. Sebuah buldoser sedang membersihkan belukar dan tidak terlibat dalam penggusuran. Pengendara buldoser tidak melihat Corrie – posisi pengendara itu tidak memungkinkanya untuk melihat Corrie yang sedang berdiri di balik puing-puing. Corrie tewas akibat tertimbun puing yang terdorong oleh buldoser. Demikianlah kesimpulan yang muncul pada bulan Juni 2003. kesimpula itu dicapai lewat penyelidikan militer oleh kantor pengacara IDF.
Perdebatan seputar kematian Corrie befokus sejumlah hal. Apakah pengendara melihat Corrie? Apakah Corrie cedera akibat dilindas buldoser atau akibat tertimbun puing yang terdorong oleh buldoser?
Keluarga Corrie lantas mengajukan gugatan sipil terhadap negara Israel. Pengacara keluarga Corrie, Hussein Abu Hussein, akan mengajukan argumen bahwa kematian Corrie dapat terjadi akibat kelalaian militer Israel atau merupakan hasil kesengajaan. Jika negara Israel terbukti bertanggung-jawab, keluarga Corrie akan mengajukan tuntutan atas musibah yang telah terjadi.
Sejauh ini, pihak militer Israel mengatakan bahwa mereka tidak bertangung-jawab atas kematian Corrie. Militer Israel juga menuduh Corrie dan kawan-kawan telah berperilaku "illegal, tak bertanggung-jawab dan berbahaya."
Hussein akan mengajukan sebuah argumen: bukti-bukti menunjukkan bahwa para serdadu melihat Corrie di tempat kejadian bersama para aktivis lain tepat sebelum terjadinya insiden. Para serdadu sebenarnya dapat mengangkap Corrie dan kawan-kawan atau mengusir Corrie dari area tersebut sebelum muncul resiko cedera.
Purssell kini bekerja sebagai penata kebun. Purssell, sebagaimana Corrie, termasuk diantara tujuh aktivis ISM yang menyaksikan upaya penggusuran rumah warga Palestina oleh Israel di Rafah. ISM benar-benar bersifat anti kekerasan, kata Purssell. "Peran kami adalah untuk mendukung perlawanan anti kekerasan Palestina."
Menurut Purssell, buldoser itu berjalan dengan cepat. Buldoser itu menurunkan pisaunya dan menyorong tanah di dapannya selama buldoser itu berjalan. Ketika buldoser berada kira-kira 20 meter dari rumah tempat Corrie menginap, Corrie naik ke gundukan tanah di hadapannya dan "melihat ke bagian atas buldoser".
"Buldoser itu terus bergerak maju," kata Purssell. "Rachel berbalik untuk turun dari gundukan. Tanah masih bergerak, dan ketika dia hampir mendekati dasar gundukan, terjadi sesuatu yang mneyebabkan dia jatuh ke depan. Buldoser terus bergerak maju dan Rachel menghilang dari pandangan di bawah tanah yang bergerak."
Buldoser terus bergerak maju sejauh empat meter ketika para aktivis mulai berlarian ke depan dan berteriak pada pengendara.
"Buldoser itu melewati titik dimana Rachel jatuh, buldoser itu berhenti dan mundur di sepanjang jalur yang telah dibuatnya. Rachel tergeletak di atas tanah," kata Purssell. "Ia masih bernafas". Corrie terluka parah dan meninggal tak lama kemudian.
Sebelum acara hearing dimulai, Craig Corrie, ayah Corrie, mengatakan bahwa ia sekeluarga telah mencari keadilan bagi sang putri. "Saya rasa kebenaran muncul tentang Rachel. Kebenaran adalah awal penyembuhan kami."
Cindy Corrie, ibu Corrie, mengatakan bahwa keluarganya masih menunggu penyelidikan transparan dan kredibel yang pernah dijanjikan oleh Israel sehubungan dengan kematian putrinya. "Saya hanya ingin mengatakan kepada Rachel bahwa keluarga kami ada di sini hari ini untuk melakukan hal yang benar di sampingnya dan saya berharap dia akan sangat bangga atas upaya yang kami lakukan," kata ibunda Corrie. Menurut Cindy Corrie, keluarga Corrie telah mengadakan pertemuan dengan staf wakil presiden AS Joe Biden pada hari Selasa (09/03) untuk membahas kasus tersebut. (es/gd/wp) www.suaramedia.com
- Gunakan Anak-Anak Palestina Sebagai Tameng, Pasukan Israel Terancam
- Terusik Berita Palsu, Yaman Sita Perlengkapan Ilegal Al Jazeera - Al Arabiya
- Warna Iran Dibalik Kecurangan Pemilihan Umum Irak
- David Kimche ; Mata-Mata Dahulu, Aktivis Perdamaian Kemudian
- Israel Mulai Sebarkan Undangan Resmi "Sinagog" Al Aqsa














