Kantor berita milik pemerintahan Yaman (Saba) mengutip ucapan seorang sumber di dalam kementerian yang mengatakan bahwa penyitan tersebut dilakukan setelah pihak kementerian membahas mengenai hal itu dengan direktur Al Jazeera, Murad Hashim, serta koresponden Al Arabiya, Hammoud Munassar.
Sumber tersebut menambahkan, perwakilan Al Jazeera dan Al Arabiya tersebut diminta untuk bekerja sama dengan pihak berwajib.
Perlengkapan tersebut disita pada hari Kamis dari biro Al Jazeera dan Al Arabiya di Sana, ibukota Yaman.
Sumber tersebut mengatakan bahwa Al Jazeera, yang berpusat di Doha, Qatar, dan Al Arabiya, yang berbasis di Dubai, tidak mengantongi izin pemerintah untuk mengoperasikan perlengkapan tersebut.
Jika sudah mendapatkan izin, Kementerian Informasi Yaman sedianya akan mengembalikan perlengkapan tersebut kepada dua kantor berita cabang Al Jazeera dan Al Arabiya di Sanaa.
Pihak kementerian mengatakan bahwa pemerintah Yaman mempersilakhan keberadaan perangkat pemancar satelit dari perusahaan penyiaran manapun, sepanjang keberadaannya tidak melanggar peraturan dan dipergunakan untuk meliput berita dengan berimbang.
Al Jazeera mengatakan, pasukan keamanan Yaman mendatangi kantor cabang stasiun televisi tersebut di Yaman pada hari Kamis petang setelah mendapatkan peringatan mengenai liputan Al Jazeera terhadap sebuah gerakan separatis di selatan, yang tengah diperangi pemerintah.
Murad Hashim mengatakan bahwa ada seorang pejabat Yaman yang menelepon dirinya pada hari Kamis, sebelum penggerebekan dimulai, pejabat tersebut memperingatkan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan jika Al Jazeera meliput pertemuan para pemimpin separatis selatan.
Nasser al-Sarami, pemimpin media Al Arabiya, mengatakan kepada Reuters bahwa kepala biro saluran televisi tersebut diinterogasi selama dua jam sebelum dibebaskan.
"Mereka (pemerintah Yaman) khawatir dengan cara kami meliput kejadian di selatan," kata al-Sarami.
Pada tanggal 8 Maret, kantor berita Saba melaporkan bahwa majelis lokal di selatan Yaman melayangkan surat kepada Perdana Menteri Ali Mujawar, mendesak agar pemerintahannya menutup kantor cabang regional Al Jazeera di Yaman karena pemberitaan yang keliru mengenai Yaman.
Kantor berita tersebut mengutip ucapan para pemimpin majelis lokal di tiga provinsi utara Yaman yang bermasalah, Abyan, Lahj, dan al-Dhalee, kala mengatakan "Stasiun televisi Al Jazeera tidak memiliki kredibilitas, tidak netral serta tidak menjunjung etika dan aturan profesional dalam melakukan liputan di selatan."
Hari Minggu lalu, seorang sumber dalam Kementerian Informasi mengatakan bahwa pemerintahan Yaman mengkritik Al Jazeera atas laporannya mengenai situasi di provinsi selatan, Yaman menuding Al Jazeera telah memberitakan cerita palsu.
Pada penghujung bulan Desember tahun lalu, Al Jazeera English menyiarkan sebuah laporan berita mengenai peringatan tahun pertama Perang Gaza. Ayman Mohye El Din, reporter Al Jazeera di Jalur Haza yang meliput perang tahun lalu dan telah bekerja untuk Al Jazeera selama 2 tahun, mempersiapkan sebuah laporan berita dari Gaza.
Liputan berita yang disusun oleh Mohye El Din berfokus pada faksi militer Palestina dan kemampuan mereka dalam menghadapi para serdadu Zionis, satu tahun berselang setelah Perang Gaza.
Yang mengejutkan, gaya pemberitaan dalam laporan tersebut betul-betul mengadopsi pemberitaan Fox News. Ayman banyak memberikan penekanan pada kelompok penguasa Gaza, Hamas, dan sayap militernya, brigade Izzuddin Al Qassam, dan banyak membahas mengenai roket-roket yang dibuat di Gaza.
Dalam pemberitaan tersebut, ditunjukkan mengenai sekelompok pria yang memproduksi roket-roket buatan sendiri. Ditunjukkan pula mengenai sebuah tempat seperti pabrik yang menyimpan sejumlah ujung roket, dan ada sejumlah mesin pemutar yang dioperasikan. (dn/im/ns/aj/sm) www.suaramedia.com
- Bukairat: Al Aqsa Adalah Keberingasan Kampanye Yahudisasi Israel
- Keluarga Yahudi Iran Selundupkan Belasan Kilo Opium Ke Israel
- Persaudaraan Muslim Yordania Turun Tangan Untuk Al Aqsa
- Abbas Tuding Iran Dalangi Kegagalan Rekonsiliasi Dengan Hamas
- Gunakan Anak-Anak Palestina Sebagai Tameng, Pasukan Israel Terancam














