"Iran tidak ingin Hamas menandatangani dokumen rekonsiliasi Kairo," kata Abbas dalam sebuah pertemuan yang dihelat di ibukota Tunisia.
Fatah dan Hamas berunding selama berbulkan-bulan untuk mencapai kata sepakat dan bersatu dengan Mesir sebagai penengah, namun upaya rekonsiliasi terakhir amnbruk pada penghujung tahun lalu, ketika Hamas menolak menyetujui proposal yang ditandatangani Fatah.
Abbas mengatakan, meski para pemimpin Hamas awalnya mengisyaratkan tanda-tanda setuju terhadap dokumen tersebut, mereka kemudian menyampaikan sejumlah alasan dan menolak menandatangani dokumen tersebut.
Pemimpin Fatah tersebut mengatakan, tujuan utamanya adalah "menghilangkan pengaruh Iran terhadap semua orang."
Hamas mengambil alih Jalur Gaza pada tahun 2007 setelah pertempuran sengit yang mematikan, satu tahun berselang setelah memenangkan pemilihan legislatif Palestina secara jujur.
Pemilihan legislatif baru sedianya akan dihelat pada awal-awal tahun ini, namun pemilihan tersebut ditunda tanpa batasan waktu yang jelas karena Hamas menolak memperbolehkan dilakukannya pemilihan umum di Gaza jika kesepakatan dengan Fatah masih belum terjalin.
Di tempat yang sama, presiden Palestina tersebut juga mengatakan bahwa disetujuinya rencana pembangunan 1.600 unit tempat tinggal di Yerusalem Timur telah menghambat rencana untuk melakukan pembicaraan tidak langsung.
Mahmoud Abbas mengatakan, dirinya dan pemimpin Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, telah membahas cara-cara bagi Liga Arab untuk merespon rencana Israel untuk kembali membangun di wilayah Yerusalem terjajah.
Rencana tersebut juga membahas pembangunan 1.600 unit rumah di pemukiman ilegal Ramat Shlomo, Yerusalem timur.
Abbas mengungkapkan hal itu dalam kunjungan kenegaraan ke Tunisia. Ia menambahkan, "Tindakan Israel menghalangi rencana untuk melakukan pembicaraan tidak langsung dengan Israel yang dimediasi oleh AS.
22 negara anggota Liga Arab, yang memberikan dukungan kepada Abbas untuk melanjutkan dialog dengan Israel, merekomendasikan penarikan dukungan terhadap pembicaraan tidak langsung menyusul rencana Israel tersebut.
Keputusan yang dikeluarkan oleh komite inisiatif perdamaian Liga Arab hanya bersifat rekomendasi. Harus ada keputusan final oleh para menteri luar negeri negara-negara Arab.
Awal Maret lalu, Ezzet Al-Resheq, anggota biro politik gerakan Islam Hamas, mengkritik komite Arab atas keputusan untuk memperkenankan pembicaraan langsung antara pemerintah Palestina di Ramallah dengan otoritas penjajah Israel (IOA).
Dalam sebuah pernyataan pers, Resheq mengatakan bahwa Hamas menolak pembicaraan dengan IOA, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena perundingan semacam itu sia-sia dan tidak akan menghasilkan apa-apa.
Anjuran komite Arab mengenai dialog empat bulan dengan IOA hanya akan melindungi upaya IOA dalam melanjutkan proses Yahudisasi situs-situs suci umat Islam dan penjajahan Yerusalem, katanya.
Resheq mengatakan, IOA terus memaksakan syarat-syarat baru seperti penolakan hak pulang para pengungsi Palestina, meminta agar Israel diakui sebagai "negara Yahudi" dan tidak membahas Yerusalem dalam negosiasi. Resheq mengatakan bahwa kembali berunding dan tunduk pada syarat-syarat tersebut adalah sebuah dosa besar.
Menurut Resheq, Mahmoud Abbas, pemimpin pemerintah Palestina yang masa jabatannya habis lebih dari satu tahun yang lalu, seharusnya menunjukkan sikap fleksibel dalam rekonsiliasi nasional (dengan Hamas), bukannya justru melunak terhadap musuh rakyatnya.
Dr. Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas di Gaza, mengatakan kepada PIC bahwa melanjutkan dialog dengan IOF merupakan kejahatan nasional.
Menurutnya, negosiasi dengan IOA hanya akan kembali berujung pada kegagalan. Ia menambahkan bahwa Abbas sebaiknya beralih melakukan perlawanan ketimbang melakukan negosiasi tanpa hasil. (dn/af/yn/sm) www.suaramedia.com
- Pemberontak Syiah Serahkan Gunung Merah Kepada Yaman
- Roket Dalam Pertempuran Sengit Irak Tewaskan Tentara AS
- Bukairat: Al Aqsa Adalah Keberingasan Kampanye Yahudisasi Israel
- Keluarga Yahudi Iran Selundupkan Belasan Kilo Opium Ke Israel
- Persaudaraan Muslim Yordania Turun Tangan Untuk Al Aqsa
- Gunakan Anak-Anak Palestina Sebagai Tameng, Pasukan Israel Terancam
- Terusik Berita Palsu, Yaman Sita Perlengkapan Ilegal Al Jazeera - Al Arabiya
- Warna Iran Dibalik Kecurangan Pemilihan Umum Irak
- David Kimche ; Mata-Mata Dahulu, Aktivis Perdamaian Kemudian
- Israel Mulai Sebarkan Undangan Resmi "Sinagog" Al Aqsa















