"Saya tidak tahu apa tujuan dari berita semacam ini," ujar Omar Abdul Raziq, mengomentari sebuah laporan di surat kabar terbitan London, Al Sharq Al Awsat, dan surat kabar Israel, Haaretz, sehari sebelumnya.
"Tidak pernah ada pertemuan dan tidak ada kontak dengan pihak Israel samasekali," ujar Abdul Raziq, seraya menambahkan bahwa dia menganggapnya "jelas bahwa laporan itu dimaksudkan untuk mencemari Hamas dengan menyebarkan desas-desus bahwa gerakan kami berusaha mengontak Israel."
Laporan aslinya, yang hanya menyebutkan "sumber-sumber Palestina," mengatakan bahwa Abdul Raziq, yang sempat menjadi menteri keuangan di tahun 2006 ketika Hamas terpilih, dijemput dari Nablus ke kota Netanya, Israel, pada hari Selasa (3/8). Sumber Palestina lainnya mengaitkan pertemuan itu dengan seruan terbaru pemimpin Hamas di Damaskus kepada anggotanya di Tepi Barat, untuk menculik pemukim Israel dengan tujuan membantu pembebasan tahanan Palestina. Mereka juga mengatakan bahwa pertemuan itu ditujukan untuk memperingatkan Hamas tentang ramifikasi, melalui Razek.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) baru-baru ini mengatakan bahwa intelijen menunjukkan para pemimpin Hamas di Damaskus menekan pengikutnya di Tepi Barat untuk menculik pemukim dan warga negara Israel.
Komandan divisi Tepi Barat IDF memperingatkan para pemukim Israel agar waspada untuk kemungkinan upaya penculikan di seluruh wilayah, sebuah peringatan yang didasarkan pada intelijen dan interogasi terhadap warga Palestina yang ditahan atas keterlibatan dalam merencanakan penculikan tersebut.
IDF meyakini bahwa penculikan itu akan digunakan oleh Hamas sebagai kartu tawar-menawar untuk perolehan jangka pendek dan bukan untuk negosiasi besar seperti dalam kasus Gilad Shalit.
Meskipun sumber-sumber Palestina itu tidak bersedia memaparkan alasan di balik pertemuan itu, disebutkan bahwa pemerintah Israel dan Hamas membahas kesepakatan untuk membebaskan Shalit dan tembakan roket baru-baru ini yang jatuh di Eilat dan Ashkelon.
"Saya tidak tahu darimana sumber-sumber itu," ujar Abdul Raziq, menambahkan bahwa "Di Tepi Barat terutama, tidak dibutuhkan penghubung dengan Israel karena pemerintah Ramallah sudah berhubungan dengan Israel untuk setiap aspek kehidupan."
Anggota Dewan Legislatif Palestina itu mengatakan tidak bisa mengonfirmasi maupun membantah desas-desus pertemuan langsung antara pemimpin Hamas di Gaza dan pemimpin Israel. Sedangkan bagi para pemimpin Hamas di Tepi Barat, ada sedikit alasan untuk pembicaraan langsung karena detail pertukaran tahanan harus diselesaikan di Gaza.
Tahun lalu, Hamas juga dituduh melakukan negosiasi rahasia dengan Israel.
Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita BBC, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa perundingan antara Israel dan Hamas berkisar pada sebuah negara Palestina dengan perbatasan sementara.
Presiden Palestina menegaskan kritiknya terhadap Israel, mengatakan bahwa Yerusalem tidak benar-benar tertarik pada perdamaian dan bahwa Washington tidak cukup mendorong negara Yahudi itu untuk memajukan proses perdamaian.
Hamas membantah pernyataan Abbas, mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan damai yang diadakan dengan Israel. "Yang dibicarakan oleh Abbas tidak pernah terjadi," ujar juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, menuduh presiden Palestina itu meletakkan kegagalan politisnya sendiri pada Hamas.
"Kami tidak bernegosiasi dengan musuh," ujar Barhoum saat itu. (rin/mn/pn/hz) www.suaramedia.com
- Intelijen Iran: Tuduhan Mata-Mata Kuwait Adalah Dusta
- Fatah Sangkal Jadi Penyebab Krisis Listrik Di Gaza
- Libanon Susun Rencana Hadapi Pasukan Israel Di Perbatasan
- Sembunyikan Jejak Kekejaman, Israel Cat Ulang Kapal Marmara
- AS: Warga Barat Di Al Qassim Terancam Serangan Teroris














