"Perubahan akan datang ketika orang-orang Turki meminta pemerintah mereka untuk berhenti bekerja sama dengan Israel dan tidak mengakui 'negara' itu serta berhenti mengirim pasukan mereka untuk membunuh Muslim di Afghanistan," seorang pria yang diidentifikasi sebagai Zawahiri oleh kelompok pemantau AS, SITE, mengatakan dalam pesan audio berdurasi 20 menit pada hari Minggu waktu setempat (24/07).
Pemerintah Turki "terlihat bersimpati dengan Palestina melalui pernyataan mereka dan dengan mengirimkan beberapa bantuan kemanusiaan, sementara mereka juga mengakui Israel, bekerja sama di dalam bidang perdagangan, melakukan pelatihan militer dan berbagi informasi dengan negara itu," kata Zawahiri.
Keaslian pernyataan yang dimulai dengan Zawahiri yang menyampaikan bela sungkawanya kepada keluarga dari mereka yang terbunuh serta untuk rakyat Turki itu tidak bisa segera diverifikasi.
Komando Israel pada 31 Mei menyerbu sebuah armada yang terdiri dari enam kapal yang sarat dengan bantuan yang mencoba untuk menerobos blokade Gaza yang berujung kematian sembilan aktivis Turki.
Pertumpahan darah tersebut memicu kritik internasional kepada Israel dan merupakan pukulan berat untuk hubungan Turki - Israel.
Zawahiri dalam pesannya tersebut, membandingkan Turki dengan Israel, mengatakan bahwa meskipun pemerintah Turki "membuat pernyataan yang mengkritik kejahatan Israel terhadap Muslim di Gaza ... mereka melakukan kejahatan serupa terhadap Muslim di Afghanistan."
Pemerintah Turki dan tentaranya "telah menjadi alat yang dipakai oleh tentara perang salib di dunia," kata Zawahiri.
Di Afghanistan, pasukan Turki "mengikuti kepemimpinan NATO ... berpartisipasi dalam pembunuhan Muslim dan membakar desa-desa dan rumah-rumah mereka.," Zawahiri menyampaikan.
"Pemerintah Anda memainkan peran vital dalam bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam perangnya melawan Islam karena telah menahan beberapa mujahidin (pejuang suci) dan menyerahkannya ke Amerika di mana mereka disiksa dan dihukum bertahun-tahun di penjara," kata Zawahiri.
Dia mencontohkan kasus Abdul Hadi al-Irak, tokoh Al-Qaeda yang ditangkap pada tahun 2006.
Orang-orang Turki harus "berdiri menentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah dan militer terhadap Islam dan Muslim," kata Zawahiri, mendesak Turki untuk kembali ke zaman khalifah Islam.
"Turki, sebagai khalifah Islam, biasanya melindungi kita ... Sekarang, Turki yang sekuler menyerahkan kita ke tanngan musuh-musuh Islam dan orang-orang yang menghina Al-Qur'an dan Nabi Muhammad."
Pekan lalu, polisi Turki menahan 15 orang yang dicurigai terkait dengan jaringan Al-Qaeda, kantor berita Anatolia melaporkan.
Polisi Turki secara teratur mentargetkan individu-individu yang diduga sebagai pendukung Al-Qaeda sejak dua kali peledakan yang terjadi di Istanbul, kota terbesar Turki, dalam jarak waktu lima hari pada bulan November 2003.
Sel Al-Qaeda Turki dipersalahkan atas serangan di mana truk sarat bahan peledak pertama menargetkan dua sinagoga dan kemudian menargetkan konsulat Inggris dan sebuah bank Inggris, menewaskan 63 orang, termasuk Konsul Inggris.
Zawahiri juga menuduh Iran bekerjasama dengan "tentara salib" di Afghanistan dan Irak.
Orang nomor dua Al-Qaeda yang kepalanya dihargai oleh AS sebesar 25 juta dolar tersebut membuat komentar serupa terhadap pemerintah Turki dalam sebuah pesan internet pada akhir Juli.
Pada saat itu ia juga mendesak Turki untuk kembali menjalankan peran tradisionalnya sebagai Kekaisaran Ottoman yang merupakan pemimpin utama dalam membela Islam. (iw/meo) www.suaramedia.com














