Menteri Pendidikan Gideon Sa'ar menegaskan kembali di hari Minggu (5/9) bahwa tahun sekolah ini akan mencakup fokus khusus pada Zionis dan nilai-nilai Yahudi sebagai bagian dari langkah-langkah khusus menuju penanaman kembali nilai-nilai yang lebih kuat di masa lalu.
"Kita harus membawa kembali nilai-nilai Zionis, Yahudi, dan demokrasi ke sistem pendidikan," ujar Sa'ar, seraya menambahkan bahwa dia takut akan akibat dari memiliki generasi pelajar Israel yang "tidak tahu apa yang mengikat mereka ke tanah ini, tidak tahu apa yang mengikat mereka satu sama lain, dan apa sejarah dari Tanah Israel."
Bagian dari upaya itu akan melibatkan penambahan jam kelas untuk pengayaan bahasa Ibrani. Sa'ar mengatakan pentingnya gerakan tersebut disoroti oleh apa yang dia katakan sebagai kosakatan nasional yang menurun dan fakta bahwa "sulit untuk berjalan di sebuah mall dan menemukan keterangan dalam bahasa Ibrani."
Sa'ar juga mengatakan bahwa nilai-nilai Yahudi akan diperkaya dengan rencananya untuk secara dramatik meningkatkan jumlah pelajar yang mengunjungi Yerusalem, mengatakan bahwa dirinya berniat membawa 500,000 anak ke ibukota setiap tahun dalam sebuah kunjungan sekolah.
Komentar Sa'ar diucapkan dalam jamuan pra Rosh Hashana yang diadakan di Tel Aviv dengan beberapa ratus anggota partai Likud, dalam mana dia juga melontarkan dukungannya untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam negosiasi dengan Otoritas Palestina di Washington minggu ini.
Dalam komentarnya, Menteri Pendidikan menyebutkan rencananya untuk mewajibkan seragam sekolah di semua SD dan SMP negeri.
Dalam apa yang disebutnya sebagai gerakan untuk membantu daerah-daerah pinggiran Israel, Sa'ar meuji program "ruang kelas abad 21" untuk meletakkan teknologi komputer di setiap ruang kelas.
Sa'ar mengatakan program itu akan diluncurkan pertama kali di 870 sekolah di utara dan selatan Israel, "Kita memerlukannya pertama di daerah pinggiran, pertama di utara dan selatan negeri ini."
Akhir tahun lalu, Karen Abu Zayd, komisaris jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan bahwa kurikulum di sekolah-sekolah PBB di Gaza tidak menyebutkan Holocaust Yahudi.
Dalam sebuah konferensi pers di pelabuhan Gaza, Abu Zayd mengatakan, "Saya dapat menyangkal tuduhan bahwa kurikulum sekolah PBB tidak memasukkan apapun tentang Holocaust. Kami benar-benar fokus pada hak asasi manusia di dalam kurikulum."
"Tahun lalu adalah peringatan 60 tahun Deklarasi HAM Universal, dan kami menemukan bahwa rakyat Palestina kehilangan banyak haknya," lanjut Abu Zayd. Kurikulum HAM juga mengajarkan beberapa sejarah, ujarnya.
Abu Zayd menjelaskan bahwa kurikulum untuk sekolah-sekolah ini tertulis di kantor regional PBB di Jalur Gaza, dan telah direvisi oleh sekelompok editor dari Palestina dan luar negeri.
Pejabat PBB merespon terhadap tuduhan dari komite kamp pengungsi bahwa UNRWA mengajarkan satu versi sejarah ke pelajar Palestina yang mengonfirmasi Holocaust dan meningkatkan simpati terhadap kaum Yahudi.
Dalam sebuah surat ke Direktur UNRWA Gaza, John Ging, komite mendesak badan pengungsi untuk meninggalkan program tersebut.
"Komite kamp pengungsi menolak untuk membiarkan anak-anak kami diajari kebohongan yang diciptakan oleh kaum Yahudi dan diintensifkan oleh media mereka ini," ujar surat komite itu. "Pertama, Holocaust itu bukan fakta, dan kedua, mereka yang menambahkannya ke dalam kurikulum berniat untuk bermain-main dengan emosi anak-anak kami." (rin/jp/mn) www.suaramedia.com














