Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Pelajari Yahudi – Arab, Pemenang Nobel Ditolak Masuk Israel

E-mail Cetak PDF

TEL AVIV (Berita SuaraMEdia) – Penerima Nobel Perdamaian Mairead Maguire ditolak masuk ke Israel dan ditahan di Bandara Internasional Ben Gurion.

Maguire, seorang aktivis perdamaian Irlandia dan salah satu pendiri dari Women Nobel Initiative, sedang bepergian ke Israel dan Tepi Barat bersama dengan delegasinya untuk belajar tentang upaya wanita Yahudi dan Arab dalam bekerja untuk perdamaian dan ko-eksistensi.

"Mendedikasikan hidup Anda untuk perdamaian seharusnya tidak menjadi ancaman bagi keamanan nasional," salah satu dari enam pendiri Women Nobel Initiative, Jody Williams, mengatakan saat ia bersiap untuk  penerbangan menuju Tel Aviv setelah penahanan.

Maguire mulai melawan deportasi segera, dengan bantuan Adalah, sebuah LSM lokal yang melakukan advokasi untuk hak-hak warga Palestina Israel.

"Kami percaya bahwa keputusan untuk menolak masuk Maguire didasarkan pada pertimbangan politik tidak sah, tidak relevan, dan sewenang-wenang," komentar pengacara Adalah, Fatmeh El-Ajou.

"Semua kegiatan nya di Israel dan Palestina dilakukan dalam bentuk yang damai dan tanpa kekerasan dan semua aktivitasnya harus dilindungi berdasarkan hak untuk mengekspresikan pendapatnya," tambah El-Ajou.

Maguire telah menjadi pengkritik vokal kebijakan Israel terhadap Palestina, termasuk pengepungan di Gaza. Pada bulan Mei, ia berpartisipasi dalam Freedom Flotilla, sebuah konvoi kapal bantuan yang berangkat untuk membawa bantuan ke Jalur Gaza yang terkepung. Komando  Israel mencegat kapal itu di perairan internasional. Israel memimpin penyerbuan yang menyebabkan kematian sembilan warga  internasional dan memicu kecaman internasional. Ini tetap menjadi fokus dari Pannel penyelidikan yang dimandatkan oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon.

Setelah dia ditahan dari Rachel Corrie, kapal terakhir dalam armada Gaza yang berlayar menuju Gaza dalam beberapa hari setelah serangan armada mematikan tersebut, Maguire, bersama dengan aktivis lainnya, dideportasi ke negara asalnya.

Deportasi dari Israel sering berujung pada larangan kembali ke wilayah itu selama 10 tahun.

Menurut El-Ajou, Maguire sangat prihatin bahwa repatriasinya dengan adanya insiden armada itu dapat mencegah dia dari kembali ke Israel dan wilayah Palestina yang diduduki sehingga dia menghubungi pemerintah Israel setelah dia tiba Irlandia pada bulan Juni.

Maguire mengatakan kepada El-Ajou bahwa para pejabat telah menunjukkan ia tidak akan dilarang memasuki negara itu di masa depan.

Ketika dia tiba di Israel hari Selasa dengan sesama peserta armada, rekannya diizinkan untuk masuk Israel. Namun pemerintah Israel mengatakan kepada Maguire bahwa dia ditolak masuk karena partisipasinya di armada tersebut.

Sabine Haddad, juru bicara Kementerian Dalam Negeri berkomentar kepada kantor berita The Huffington Post, "Beberapa bulan yang lalu Maguire berada di Rachel Corrie . Setelah itu dia dideportasi jadi dia tahu bahwa dia tidak bisa datang ke Israel. Ia mengatakan bahwa dia telah memeriksa di kedutaan sebelumnya, tetapi sebenarnya dia tidak melakukan itu. "

Ketika ditanya apakah penahanan Maguire itu bermotif politik atau terkait dengan dukungannya terhadap rakyat Palestina, Haddad mengatakan tidak.

"Dia tidak istimewa," Haddad menambahkan. "Dia harus mematuhi hukum di Israel."

Mengacu pada sikap negara bahwa Maguire ditolak masuk berdasarkan partisipasinya dengan Freedom Flotilla, Pengacara El-Ajou berkomentar, "Ini adalah alasannya."

Ketika ditanya apakah menahan seorang pemenang Hadiah Nobel Perdamaian mencerminkan tentang keadaan pemerintah Israel? Apakah itu serangan terhadap kebebasan berbicara? Apakah itu hukuman untuk mendukung Palestina?

"Dua-duanya," jawab El-Ajou, menambahkan bahwa Maguire telah dipojokkan karena dia "berkomitmen untuk mengurangi penderitaan rakyat Gaza dan karena kegiatan lebar mencari perdamaian dan keadilan."

Tokoh lain yang kritis terhadap kebijakan Israel terhadap Palestina juga telah ditolak masuk ke negara itu. Pada bulan Mei, Noam Chomsky dilarang masuk. Pada tahun 2008, Profesor Richard Falk, Pelapor Khusus PBB tentang hak asasi manusia di Wilayah Palestina, ditahan ketika ia berusaha untuk masuk Israel dan kemudian dideportasi.

Penahanan Maguire terjadi hanya dua hari setelah akhir pembekuan pemukiman, yang membahayakan perundingan damai baru. Penahanan pemenang Nobel dan pelanjutan dari pembangunan pemukiman, keduanya merupakan gerakan yang meragukan tentang komitmen Israel untuk perdamaian. (iw/mn) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon