"Tentara angkatan laut menggunakan kekerasan tanpa alasan," ujar berita kanal 10 Israel melaporkan.
Seorang aktivis perdamaian Israel yang berada di atas kapal, Yonatan Shapira, ditembak dengan senapan laser dan diseret ke kapal militer di mana dia diikat di samping saudara laki-lakinya.
Reuben Moskowitz, korban selamat holocaust, mengonfirmasi bahwa tentara AL Israel menyerang penumpang Yahudi.
"Itu tidak bermoral. Apa yang terjadi padaku dalam holocaust membuatku terbangun setiap malam dan aku berharap kita tidak melakukan hal yang sama ke tetangga kita," ujar Moscowitz, seraya menambahkan bahwa dia membandingkan "apa yang aku alami selama holocaust dengan apa yang dialami anak-anak Palestina dalam blokade."
"Tidak ada kata-kata untuk menggambarkan apa yang kami lalui ketika militer mengambil alih kapal, ketika tentara memperlakukan para aktivis dengan kejam," tambahnya.
"Ada perbedaan besar antara apa yang dikatakan oleh juru bicara militer dan apa yang sebenarnya terjadi," ujarnya.
Juru bicara militer Israel pada hari Selasa (28/9) mengatakan tidak ada bentrokan yang muncul di atas kapal dan kekerasan tidak digunakan selama operasi penggerebekan.
Dalam perkembangan lain, Radio Militer Israel melaporkan bahwa diplomat Israel mengatakan citra rezim Zionis itu menjadi semakin buruk sejak insiden Freedom Flotilla.
Diplomat itu juga memperingatkan bahwa citra buruk Israel bisa menjadi masalah serius, terutama dengan berlanjutnya aktivitas pemukiman setelah laporan Goldstone dan serangan Freedom Flotilla.
Diplomat Israel mengatakan bahwa semua komunikasi yang dibuat oleh pejabat pemerintah dalam hal ini gagal untuk membenarkan cerita Israel.
"Jika Mahmoud Abbas setuju untuk melanjutkan perundingan damai setelah diteruskannya aktivitas pemukiman, maka krisis yang diderita negara secara internasional bisa dilalui sebagian," ujarnya.
Sebuah kapal bantuan yang membawa delapan aktivis Yahudi dari Eropa, Israel, dan AS ditahan oleh angkatan laut Israel hanya beberapa mil dari pantai Gaza setelah diperingatkan oleh sebuah kapal perang.
Tentara AS naik ke atas Irene kemudian para penumpang dipandu turun dari kapal.
Rich Cooper, seorang penyelenggara bersama Independent Jewish Voices, mengatakan bahwa kelompknya sekarang menuntut pembebasan para aktivis.
Kapal itu meninggalkan pelabuhan Famagusta di Siprus pada Minggu (26/9) siang.
Militer Israel mengatakan akan menawarkan untuk mengirimkan suplai bantuan kapal tersebut ke pelabuhan Ashdod dan kemudian meminta kru untuk putar balik.
Menteri pertahanan Israel, Ehud Barak, berulangkali memperingatkan bahwa Israel akan menghadang setiap kapal yang mendekati Gaza.
"Dalam tradisi dari gerakan hak sipil, kami menyatakan hak kami untuk melanjutkan ke Gaza di bawah hukum internasional," ujar Glyn Secker, kapten Irene.
Kapal sepanjang 10 meter itu kecil jika dibandingkan dengan enam kapal konvoi bantuan tanggal 31 Mei yang mengangkut 10,000 ton bantuan dan 700 aktivis.
Tapi perjalanan itu merupakan isyarat oleh kelompok sayap kiri Yahudi Eropa untuk menyoroti apa yang mereka pandang sebagai kebijakan hukuman kolektif Israel terhadap 1.5 juta penduduk Palestina di Gaza.
Yousef Rizka, seorang petinggi Hamas, mengatakan, "Pemerintah sebelumnya telah menerima aktivis Yahudi yang menuju ke Gaza. Pemerintah memandang positif semua upaya untuk mendobrak blokade terhadap Gaza."
Israel melonggarkan blokade lautnya menyusul kecaman keras internasional atas serangan mereka terhadap Mavi Marmara. Sembilan orang yang tewas di atas Freedom Flotilla adalah bencana humas bagi Israel. Sejak itu, berbagai kelompok dari Iran, Irlandia, Libanon, dan Libya, serta negara-negara lainnya, berusaha untuk mencapai Gaza dengan berbagai tingkat kesuksesan.
Kelompok-kelompok yang ada di atas Irene termasuk Jews for Justice for Palestinians yang berbasis di Inggris dan organisasi Jerman Jewish Voice.
"Kargo kapal termasuk bantuan simbolis dalam bentuk mainan anak-anak dan peralatan musik, buku pelajaran, jala ikan untuk komunitas nelayan Gaza, dan anggota badan prostetik," bunyi pernyataan dari gerakan Eropa Jews for a Just Peace, jaringan aktivis yang mengkoordinir perjalanan itu.
"Kami berdiri dalam tradisi membanggakan keadilan, memperjuangkan hak-hak yang tertindas, penentangan terhadap prasangka dan rasisme."
Kate Katzenstein-Leiterer, pemimpin Jewish Voice, mengatakan, "Kami ingin Israel bersikap dalam cara yang bisa membuatnya diakui sebagai sebuah 'negara' demokratis. Sekarang ia dikenal sebagai kriminal. Bukan itu yang kami inginkan." (rin/pic/cd) www.suaramedia.com














