“Jika kita menghabiskan ratusan milyar dolar dan merancang ratusan rencana, kita tidak akan pernah bisa mengungkap wajah Amerika yang sesungguhnya dan menghancurkan kekuatan Amerika sebanyak kehancuran yang telah ditimbulkan oleh kehadirannya di Afghanistan dan Irak,” ujar Ahmadinejad pada hari Kamis (4/11) waktu setempat.
Sepuluh tahun lalu mantan presiden AS George W. Bush memutuskan untuk menduduki Iran melalui perencanaan dan propaganda, itulah mengapa dia menginvasi Irak dan Afghanistan dan mengumumkan Iran sebagai target selanjutnya, ujar sang presiden.
Ahmadinejad menambahkan bahwa rencana itu berbalik dan berubah menjadi peluang bersejarah bagi negara Iran.
Ahmadinejad merujuk pada sanksi yang diterapkan terhadap Teheran atas program nuklir negara tersebut dan mengatakan bahwa musuh ingin menghambat kemajuan negara Iran.
Dewan Keamanan PBB mengadopsi sanksi putaran keempat terhadap Teheran di bulan Juni di bawah tekanan kuat dari AS, yang mengklaim bahwa program nuklir Iran mungkin memiliki potensi aplikasi militer.
Sesaat setelah penerapan sanksi PBB, AS, yang memiliki dan telah menggunakan senjata nuklirnya di masa lalu, dalam sebuah langkah bermotif politik menerapkan sanksi tambahan terhadap Republik Islam, yang tidak memiliki ataupun berusaha mengembangkan senjata nuklir.
AS kemudian menekan Jepang, Kanada, dan Australia untuk menerapkan sanksi unilateral serupa terhadap Iran, menarget investasi di industri energi negara tersebut.
Iran mengatakan sebagai anggota Badan Energi Atom Internasional dan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, negara itu memiliki hak untuk menggunakan aplikasi damai dari energi nuklir untuk pembangkit listrik dan penelitian medis.
“Namun, sanksi itu telah berubah menjadi peluang yang bersejarah,” ujar Ahmadinejad.
Terkait ketidakefektifan sanksi, pemerintah Iran bersikukuh bahwa memiliki banyak tetangga dan beragam mitra dagang memberikan negaranya ketidakjelasan ekonomi khusus.
Nilai total ekspor Iran mencapai 14.448 milyar dolar yang mengindikasikan kenaikan 23% dari tahun lalu. (rin/pv) www.suaramedia.com














