Pangeran Saud Al-Faisal berbicara pada Sabtu (6/11) waktu setempat setelah sebuah pertemuan dengan rekan Italia-nya.
Februari lalu, Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengirim seorang delegasi kecil dari mantan anggota Taliban ke Arab Saudi untuk mencari pertolongan dalam pembicaraan yang mulai menendang dengan Taliban.
Namun pihak Arab Saudi mengatakan bahwa Kerajaan akan tidak membantu kecuali Taliban memutuskan semua ikaan dengan Osama bin Laden – seorang Arab Saudi – dan jaringan teror Al-Qaeda-nya. Hal itu juga adalah sebuah tuntutan kunci dari keduanya, AS dan Afghanistan.
Taliban tidak berkeinginan untuk mengadakan pembicaraan perdamaian resmi sampai AS setuju untuk sebuah perjalanan menarik semua pasukan asing.
Sementara itu, Al-Faisal juga mengutuk pengeboman pekan ini di Irak dan serangan pada sebuah gereja Kristen di sana, menyebut serangan pada gereja tersebut "menentang semua prinsip-prinsip moral dan moral manusia."
Ia menunjukkan "pengutukan keras atas serangan yang diluuncurkan baru-baru ini di Irak, yang berakibat pada kematian banyak jiwa yang tidak berdosa dan melukai banyak lagi, bersama dengan penodaan sebuah rumah peribadatan yang tidak diterima oleh agama kami dan melawan semua prinsip, moral manusia dan norma-norma internasional."
Pengutukan Arab Saudi tersebut datang setelah sebuah banjir pengeboman mobil di Baghdad pada Selasa waktu setempat yang membunuh 64 orang di daerah sebagian besar Syiah, dan pengambilalihan dari Gereja Minggu pekan lalu yang berakibat kematian dari 46 jamaah Kristen.
Al-Qaeda Irak menggabungkan negara Irak, mengklaim bertanggung jawab untuk kedua serangan tersebut.
Sebelumnya, awal tahun ini pada Februari, Presiden Hamid Karzai mencari pengaruh spiritual Arab Saudi dan kemungkinan pengaruh keuangan untuk berekonsiliasi dengan Taliban selama pembicaraan dengan Raja Abdullah.
Arab Saudi telah mengatakan bahwa Taliban harus menolak suaka pada pemimpin Al-Qaeda kelahiran Arab Saudi, Osama bin Laden – yang kelompoknya melakukan serangan berdarah terhadap kerajaan tersebut pada masa silam – sebelum Riyah menyetujui tindakan tersebut sebagai sebuah mediator di dalam perjanjian perdamaian Afghanistan.
"Kami semua tahu dengan baik dan kami mengathui tujuannya. Ia bukanlahh orang beru bagi kami karena Arab Saudi telah terlibat dalam upaya rekonsiliasi Afghanistan sampai tahun lalu," kata Jamal Khashoogi, seorang mantan diplomat Arab Saudi, sekarang adalah editor dari kantor berita harian Al-Watan.
Arab Saudi memiliki "Sebuah kepentingan yang murni untuk membawa perdamaian kepada Afghanistan karena tindakan tersebut akan membantu menstabilitaskan Pakistan, sebuah sekutuu yang strategis bagi kerajaan, dan dapat menggunakan hubungannya dengan pemimpin keagamaan untuk mencapai hal tersebut," Khashoggi mengatakan. (ppt/aby/reu) www.suaramedia.com
- Atas Nama Hewan, Pamela Anderson Desak Yahudi Telanjang
- Fatah Gunakan Momok Iran Untuk Menyerah Pada Rezim Zionis
- "Mengakui Negara Israel Sama Dengan Menjadi Zionis"
- Situs Israel Ajari Warga Berbondong Tinggalkan Militer
- Al-Mujawar: Al-Qaeda Yaman Diciptakan Oleh Barat














