Sebuah bom mobil meledak di dekat markas polisi Alawiyah di ibukota Suriah, Damaskus, menewaskan seorang perwira, klaim pejabat Alawiyah.
Mereka menyalahkan serangan tersebut kepada kelompok yang mereka sebut "teroris", istilah yang digunakan untuk mereka yang memberontak, melakukan perlawanan terhadap rezim brutal pimpinan Assad, Today`s Zaman.
Bom Suriah tersebut mendarat di dekat Kota Kecil perbatan Turki, Akcakale, dan prajurit militer Turki membalas dengan menembakkan beberapa bom mortir, sehingga Ahad jadi hari kelima bentrokan antara kedua negara bertetangga itu, kata laporan itu.
Abdulhakim Ayhan, Wali Kota Akcakale, mengkonfirmasi pasukan artileri Turki segera melepaskan tembakan balasan, demikian laporan kantor berita Xinhua.
Pada Rabu (3/10), satu bom mortir dari wilayah Suriah jatuh di Kota Kecil Akcakale, Provinsi Sanliurfa, Turki, dan menewaskan lima warganegara Turki.
Pemerintah Turki pada hari itu menyatakan di dalam satu pernyataan, "Angkatan Bersenjata kami di wilayah perbatasan telah memberi reaksi yang diperlukan sejalan dengan peraturan bertindak. Sasaran di Suriah, yang dideteksi oleh radar, ditembak dengan bom mortir."
"Turki takkan pernah berdiam diri terhadap provokasi semacam itu oleh rezim Suriah dalam kerangka kerja peraturan bertindak dan peraturan internasional," kata pernyataan tersebut.
Dalam satu sidang darurat pada Kamis, parlemen turki mensahkan mosi bagi operasi militer lintas perbatasan di dalam wilayah Suriah.
Ankara telah mengeluhkan tembakan nyasar dan bom artileri Suriah ke dalam wilayahnya, dan pekan lalu telah menyatakan Turki akan bertindak kalau serangan mortir terulang dari Suriah.
Turki, yang sebelumnya menjadi sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad tapi sekarang memelopori suara yang mendesak penggulingannya, menampung lebih dari 90.000 pengungsi Suriah dan telah melaporkan memberi perlindungan bagi pemimpin militer pembelot Suriah.(tz/xha)













