Rumah dan tanah keluarga tersebut telah direbut dan diubah menjadi pemukiman Yahudi, Pisgat Ze'ev, dan tentu saja keluarga tersebut dengan terpaksa "dijadikan pemukim". Untuk mengunjungi sisa dari keluarganya dan teman-teman mereka di desa Hizma, mereka terpaksa melewati pos pemeriksaan di lintas perbatasan Israel. Sanak keluarga dan teman-teman mereka yang berada pada sisi Palestina, sangat sulit mendapatkan izin untuk menyebrangi perbatasan, sementara izin diperlukan untuk menyeberang ke mengunjungi keluarga Khatib yang terjebak dalam Pisgat Ze'ev.
Sebuah ulasan khusus yang dilakukan oleh surat kabar Israel Yedioth Ahranoth mendokumentasikan situasi keluarga tersebut, termasuk wawancara dengan anggota keluarganya. Kifach Khatib, sang ibu mengatakan kepada Yedioth Ahranoth, "Kenyataan bahwa kami telah dirubah menjadi pemukim tidak berarti bahwa kami meninggalkan cara hidup kami. Kami terus membesarkan ayam dan domba untuk hidup."Dia menambahkan, "Sebulan lalu, seorang pemukim Yahudi mencuri kambing saya, dan dari waktu ke waktu kami harus menyeberang ke sisi lain pagar untuk memberi makan ternak kami. Tetangga Palestina kami tidak dapat membesarkan binatang itu sendiri,
Tetapi bahkan gaya hidup keluarga petani yang sederhana tersebut terasa tidak mungkin dengan adanya pemukim Israel yang kini berada di sekitar rumah dan tanah keluarga tersebut. Menurut Kifach Khatib, keluarga tersebut menghadapi pelecehan dan pencurian hewan oleh pemukim Israel. Keluarga tersebut telah memindahkan domba dan ayam mereka, yang merupakan sumber utama pendapatan mereka, ke tetangga Palestina mereka yang berada di sisi lain tembok. Keluarga tersebut bergantung pada kebaikan mantan tetangga mereka untuk merawat hewan mereka.
"Saya tidak tahu harus berbuat apa."
Kantor Koordinasi Distrik Israel, yang merupakan batas utama antara militer Israel dan penduduk Palestina diduduki di Tepi Barat, kepada Yedioth Ahranoth menyatakan bahwa mereka mengerti situasi keluarga Khatib, dan telah menngeluarkan izin bagi keluarga tersebut untuk menyeberang ke tembok sisi Palestina. Hal tersebut menurut Dinas akan mengizinkan keluarga itu untuk mempertahankan kehidupan mereka yang "normal".
Anggota keluarga Khatib yang termasuk dua anak perempuan mereka yang menderita cacat neurologis. Tampaknya hal tersebut dengan jelas menyatakan bahwa hidup di bawah tahanan rumah dan dibayang-bayangi pelecehan oleh pemukim Israel lainnya, masih jauh dari kehidupan "normal".
Pagar pembatas Israel di Tepi Barat adalah pembatas yang dibangun oleh pemerintah Israel, terdiri dari jaringan pagar berupa pagar kawat yang dikelilingi oleh sekitar 60 meter area kosong dan hingga 8 meter tembok beton tinggi. Tembok tersebut terletak di sepanjang Tepi Barat, sebagian lain sepanjang Garis Armistik pada tahun 1949 atau yang dikenal dengan "Jalur Hijau", antara Israel dan Jordania.
Pada April 2006, panjang dari pagar seperti yang telah disetujui oleh pemerintah Israel adalah 703 kilometer (436 mil). Sekitar 58,04% telah dibangun, 8,96% sedang dalam proses pembangunan, dan sedangkan sisa konstruksi yang 33% belum dimulai. Yerussalem Post melaporkan pada bulan Juli 2007 jika tidak ada hambatan, pembangunan tembok tersebut dapat diselesaikan pada tahun 2010.
Tembok tersebut merupakan proyek yang sangat kontroversial. Pendukung memperdebatkan bahwa tembok tersebut diperlukan sebagai alat untuk melindungi warga sipil Israel dari terorisme Palestina, termasuk serangan bom bunuh diri, yang meningkat signifikan.
Namun, bagi yang kontra terhadap pembangunan tembok tersebut, mereka mengatakan bahwa tembok itu adalah cara ilegal untuk mencoba menduduki tanah Palestina dengan mengatasnamakan keamanan. Mereka juga mengatakan bahwa hal tersebut melanggar hukum internasional, dan mempengaruhi hasil akhir proses perdamaian, sekaligus membatasi tempat tinggal warga Palestina yang tinggal di dekatnya. Termasuk kebebasan mereka untuk melakukan perjalanan secara di Tepi Barat. Pada tahun 2004 International Court of Justice atau Pengadilan Internasional menyatakan pembangunan tembok "bertentangan dengan hukum internasional." (iw/imc) Dikutip oleh www.SuaraMedia.com














